
sampai kami disebuah restoran ternama, ini bukan kali pertama aku masuk ke restoran berbintang lima begini. aku sudah terbiasa makan ditempat ini.
"Ma-yang!" panggil seseorang yang langsung memegang tangan ku. aku tertegun menatap pria itu.
DEG
mengapa harus bertemu disini? aku segera menepis tangan Adit yang menggenggam erat tanganku. aku segera bersembunyi dibalik tubuh pak Heru.
"May, kamu kemana saja? aku sudah mencari kamu kemana-mana. sayang aku rindu, aku sengaja pulang untuk ajak kamu ikut aku!" Adit menatapku penuh tanya.
pak Heru menatap kami secara bergantian, lalu pak Heru menjauh dariku. adik segera memelukku, aku terdiam sesaat kemudian aku tersadar.
"Adit" panggilku sambil menatap wajahnya. "Apakan ini hanyalah sebuah mimpi?" tanyaku.
"Ini nyata May, aku disini untukmu!" ucap Adit dan meraih kedua tanganku. lalu iya genggam dengan erat.
"Tunggu-tunggu. ini kalau kalian ingin bernostalgia. tolong,, jangan sekarang. nanti bisa kalian lanjutkan, oke. dan kamu sari, tolong bantu saya. saya akan bayar kamu dengan imbalan yang besar dan mahal! seperti yang saya janjikan tadi oke! sebab saya tidak punya banyak waktu. dan kamu. tolong tunggu disana!" usir pak Heru. menunjuk sebuah meja yang sedikit jauh dari kami.
tentu Adit tidak terima atas sikap pak Heru. dan terjadilah pertengkaran diantara mereka.
"Maaf, saat ini dia sedang berkerja dengan saya. saya harap anda mengerti!" tekan pak Heru tegas
"Setau saya, batas waktu kerja hanya sampai jam empat sore, dan sampai jam lima itu pun dihitungnya lembut dan kerja juga dikantor bukan di restoran seperti ini!" tegas Adit.
aku yang pusing mendengar perdebatan mereka berusaha untuk mengendalikan suasana. agar kami tidak jadi bahan perhatian semua orang yang ada didalam restoran ini.
segera ku tarik Adit dan memberinya pengertian agar aku bisa melanjutkan tugasku.
"Dit, tolong mengerti. aku ini sedang bekerja, dia bos aku. aku kerja dikantornya. jadi tolong, ngertiin. kalau kamu masih mau sama aku, kalau tidak tinggalkan aku!." tegas ku setelah itu aku menghampiri pak Heru.
aku tersenyum seraya melewati semua orang. malu, tapi mau bagaimana lagi semua sudah terjadi.
__ADS_1
"Bisa kita lanjutkan pak?!." tanyaku hati-hati melihat laki-laki ini sedang tidak bersahabat raut mukanya. rahangnya yang sejak tadi sudah mengeras sempurna.
lalu pak Heru membawaku duduk di sebuah meja. "Tugas kamu, pura-pura jadi calon istri saya. saya harap kamu bisa berakting dengan baik, oke?" aku terkejut mendengar ucapan pak Heru.
mulutku menganga bulat membentuk huruf O. "Awas ngiler." seru pak Heru yang membuat aku tersadar.
"Pak, kalau kerja kayak gini saya gak mau, pak." tanpa ba-bi-bu aku langsung menolak sebuah instruksi dari pak Heru. dan bangkit dari dudukku.
"Tidak ada penolakan. waktu sudah mepet, cuma kamu yang bisa bantu saya!" setelah itu pak Heru duduk dengan manis. aku mengerucutkan bibirku kesal kalau tau dari awal, tentu aku akan menolaknya sejak tadi.
akhirnya aku kembali duduk ditempat semula, kulihat pak Heru tersenyum seraya berkata. "Tenang saja sari, aku akan membayar kamu sesuai dengan janji ku!" setelah itu pak Heru memanggil seorang waiters.
kulihat seorang waiters datang dengan catatan menu di ditangannya.
"Kopi hitam satu." ucap pak Heru. "Kamu pesan apa, sari?!." tanyanya. aku tidak langsung menjawab.
"Sari!" ulang pak Heru memanggilku.
"Saya, jus pokat aja deh pak." jawabku cengengesan.
setelah itu seorang waiters pun pergi. aku melihat pak Heru dari ujung mataku sedang gelisah sat ini.
tak lama ada seorang gadis cantik datang menghampiri kami. jelas aku kembali merasa insecure sebab, tatapan gadis itu sangat tajam padaku tatapan tidak suka terlihat jelas dari pandangan matanya.
"Sudah lama Her?!." sapa gadis itu. kulihat pak Heru tersenyum manis padaku, aneh?.
"Duduk Mel!" seru pak Heru. lantas gadis itu duduk tepat disamping pak Heru dan mengapit lengannya.
"Maaf!" ucap pak Heru melepaskan tangan gadis itu.
"Kenapa her? ada pa dengan mu?" ucap gadis itu. dia terlihat sangat kecewa atas penolakan dari pak Heru.
__ADS_1
"Maaf Mel, kenalkan ini calon istriku!" ucap pak Heru langsung pada intinya.
aku berusaha untuk tersenyum manis dan mengulurkan tangan. "Sari." ucapku. namun wanita cantik itu mengabaikan dan membiarkan tangan ku menggantung di udara.
"Mel, tolong hargai calon istriku! dan satu lagi. aku harap kamu mengerti, perasaan tidak bisa dipaksakan."
setelah itu teman pak Heru menatapku lekat, dan berkata. "Seperti ini calon istrimu? tidak salah lihat kah,,, aku? sepertinya dia masih bau kencur!" cibirnya dan menatapku sinis.
"Siapa dia, bagimu itu tidak penting bagiku. lagi pula aku tidak meminta pendapat darimu! ingat itu!" celetuk pak Heru.
"Tunggu, kenapa wajahnya agak mirip adik temanku ya?" ucapnya dengan memindai wajahku. aku menunduk, sebab takut jika mereka tau identitas asli ku.
"Siapa nama mu? aku Amel!" ucapnya mengulur tangan di udara ke arahku. segera ku sambut tangannya.
"Sari!" jawabku singkat.
"Tapi, ini memang mirip adik temanku her." lanjutnya lagi. "Dia kehilangan adik iparnya sudah lima bulan terakhir ini!" tuturnya lagi.
tiba-tiba tenggorokanku rasanya mendadak kering. aku kesulitan menelan air liurku sendiri. aku berusaha kuat untuk bersikap biasa saja dan setenang mungkin.
jadi, wanita ini yang namanya Amel. dia adalah mantan kekasihnya mas Dimas. "Oh,, ya Tuhan mengapa dunia ini begitu sempit" ucapku dalam hati.
"Aku tidak tau yang kamu maksud, setau ku. dia calon istriku! mungkin yang kamu bicarakan hanya sekedar mirip saja dan bukan dia orangnya!." tegas pak Heru. Ku memilih diam tidak ingin ketahuan oleh yang namanya Amel.
"Aku berharap juga mungkin. semoga aku tidak salah lihat? Apa kamu yakin tidak ingin menikah dengan ku her? orang tuaku sudah menanti kedatanganmu?"
"Maaf Mel, aku tidak bisa. aku sudah benar-benar mencintai sari dan bukan kamu. lupakan tentang perjodohan itu! aku ingin menikah dengan wanita yang ada didalam hatiku!"
tapi her, bagaimana aku akan memberi tahu mamaku? aku takut mama ku akan syok jika tau kamu membatalkan pernikahan kita. mama ku sedang sakit her, tidak bisakah kita berpura-pura didepannya?!." mohon Amel dengan wajah memelas.
kasian sekali dia harus mengemis cinta dari pria yang tidak mencintainya. aku memilih diam tidak ingin terlibat urusan mereka.
__ADS_1
aku takut ketahuan dan Amel akan memberitahukan aku pada mas Dimas.
"Tolonglah,, her, demi kesembuhan mamaku?" dusta ku. aku akan menjebak Heru saja.