Gairah Adik Istriku

Gairah Adik Istriku
Maria sakit


__ADS_3

"Maria..!" panggilku.


"Bik, bik Ning!" teriakku memanggilnya.


kulihat wanita paruh baya itu berlari tergopoh-gopoh menghampiri kami. Maria ku baringkan di atas sofa yang panjang.


"Maria! bangun sayang!"


"Ibu, kenapa pak??" tanya bik Ning heran. dan segera menghampiri kami.


"Kurang tau bik, tiba-tiba saja dia pingsan." jelas ku apa adanya.


"Tunggu pak, saya ambilkan minyak kayu putih dulu" aku mengangguk, setelahnya bik Ning berlalu.


tidak lama bik Ning tiba dengan minyak kayu putih di tangannya.


"Biar saya saja pak." ucap bik Ning yang mulai membolehkan minyak itu di bagian hidung dan juga tangan dan kaki.


tak lama Maria mulai tersadar menggerak-gerakkan tangannya. perlahan iya membuka mata.


"Aku kenapa mas??" tanyanya menatapku heran.


"Kamu tadi pingsan." jawabku. "Sebaiknya kita ke dokter saja Maria." lanjut ku lagi.


namun Maria menggeleng kepala. dia terlihat pucat dan lemas.

__ADS_1


"Aku tidak apa-apa mas, aku hanya sedikit pusing" jelasnya.


"Tapi kamu sangat pucat mar? aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu."


"Tidak mas, tidak lama lagi aku akan baikan kok."


"Iya sudah. nanti kalau kamu merasa belum membaik bilang saja ya. aku ingin bicara dengan Mayang sebentar." ucap Dimas Maria mengangguk.


setalah itu aku langsung bangkit dari duduk ku. dan berjalan menaiki anak tangga satu-persatu.


☘️☘️☘️


"Adit, aku kangen banget ... kamu tau nggak sih?? aku pengen cerita sama kamu!."


[Iya, sayang. aku juga kangen aku percaya sama kamu. maaf aku sangat sibuk disini, sampai-sampai aku baru memberimu kabar.]


[Koq, kamu nangis? jangan nangis donk! ingat aku pasti pulang. doa kan aku agar pendidikan ku lancar dan cepat selesai dan segera pulang ya.]


Adit menatapku dari layar laptopnya. ku sapu air mataku dengan tangan kanan ku. jujur aku butuh seseorang untuk mencurahkan isi hatiku.


[Sayang, udah dulu iya. nanti kita sambung lagi, Ingat jangan nangis. aku nggak akan suka liat kamu Nangis kayak gini! aku mau masuk ke kelas. nanti kita sambung lagi, jangan lupa makan ya. jaga kesehatan dan jangan lupa jaga hati kamu untuk ku. love you muach..]


sambungan pun terputus setelah Mayang mengangguk.


Dimas yang hampir masuk kedalam kamar urung, karna mendengar Mayang sedang berbicara dari sambungan telepon.

__ADS_1


Dimas diam sejenak. "pantas saja Mayang sangat marah, rupanya Mayang sudah memiliki kekasih" gumam Dimas dalam hati.


Entah perasaan apa yang Dimas rasakan saat ini. yang jelas Dimas sedikit kecewa.


dan akhirnya Dimas mengetuk pintu kamar Mayang yang masih terbuka lebar. setelahnya iya langsung masuk tanpa menunggu jawaban dari Mayang.


"May, mas mau bicara sama kamu." Dimas duduk di tepian ranjang.


"Iya, kalau mau bicara tinggal bicara. gitu aja kok repot." jawab Mayang ketus.


Dimas hanya diam, sepertinya Dimas harus mempersiapkan banyak kesabaran untuk menghadapi sikap Mayang saat ini.


Ekhemm... Dimas berdehem.


"Jadi begini may, mas mau tanya. Mayang mau melanjutkan pendidikan dimana? kalau memang kamu sudah ada pilihan, mas tidak akan memaksa Mayang untuk masuk di kampus mas." ucap Dimas lembut.


Mayang langsung bangkit dari tidur tengkurap nya dan menghadap Dimas.


"Mas beneran??" tanya Mayang berbinar senang. Dimas mengangguk.


"kamu sudah ada pilihan??" Dimas balik bertanya. Mayang mengangguk.


"Jadi gini. oke, kamu boleh melanjutkan pendidikan mu" Dimas menjeda ucapan nya. " tapi ada syaratnya." lanjut Dimas lagi.


Mayang yang sudah berseri wajahnya kini kembali terlihat murung kembali.

__ADS_1


"Mayang tidak mau tau apa syaratnya??!." tanya Dimas gemas melihat tingkah Mayang.


__ADS_2