
setelah obrolan malam itu hubunganku dengan mas Dimas baik-baik saja. seperti katanya, dia akan mengantar, dan menjemput ku ke kampus.
aku juga tidak tau perasaan apa ini. yang jelas aku merasa nyaman berada di samping mas Dimas.
seperti pagi ini, aku sangat bersemangat hendak berangkat di antar olehnya.
"May, sudah siapkah?" tanya mas Dimas dari lantai bawah sana.
"Tunggu mas!" sahut ku dari balik pintu kamar atas.
setelahnya aku langsung bergegas turun menghampiri mas Dimas disana.
aku menghentikan langkahku ketika melihat pemandangan yang tidak sedap. perasaan apa ini? rasanya aku kecewa melihat mas Dimas sedang mengecup kening mba Maria. "Apakah ini yang namanya cemburu?? tidak!." aku segera menepis perasaan itu.
tapi kenyataannya adalah aku tidak suka melihat mereka seperti itu.
aku membalik badan dan ingin kembali saja kedalam kamar.
"Mau kemana may? ini hampir siang?" seru mas Dimas tatkala langkah kaki ini ku ayunkan, dan seketika langkah ku terhenti.
aku pun memutar badan malas rasanya, mood ku sedang tidak baik. aku ingin bolos saja hari ini. aku kesal!..
"Ayo turun! kok bengong?? Ayo mas hantarkan kamu. mas ada rapat hari ini." ucapnya memberi tau.
__ADS_1
"Mas, duluan aja deh. nanti Mayang berangkat sendiri."
"Kamu lupa perjanjian kita?." ucapnya, aku menghela nafas berat dan berjalan turun dengan malas.
jujur aku sedang malas, semangatku hilang sudah.rasa kesal menyebabkan aku tidak bersemangat pagi ini.
dengan langkah gontai aku menuruni anak tangga.
"Aku berangkat ya sayang." ucap mas Dimas dan kembali mengecup kening mba Maria.
kulihat mba Maria menarik mas Dimas kedalam pelukannya. entah mengapa rasanya dadaku panas melihat mereka seperti itu.
"Bik, titip Maria. kalau ada apa-apa tolong segera hubungi saya!." ucap mas Dimas.
aku tak lagi tahan dengan pemandangan mereka. aku segera keluar dan masuk kedalam mobil, ku banting pintu mobil dengan kasar.
tak lama mas Dimas ikut masuk dan duduk di belakang setir, perlahan dia menyalakan mesin mobil dan menjalankannya pelan keluar dari halaman rumah.
setelah keluar dari kompleks perumahan yang kami tempati, mas Dimas mulai menambah kecepatan laju kendaran.
"May, nanti jangan lupa ya, seperti biasa mas jemput!" ucapnya.
namun aku hanya memilih diam. kesal memang, mengapa aku harus ada di posisi ini.
__ADS_1
"Kamu kenapa may, tidak seperti biasanya?" tanya mas Dimas.
lagi-lagi aku hanya memilih diam dan membuang muka disamping jendela. ku lihat dari ujung mata mas Dimas membuang nafas kasar.
bodoamat. dia saja tidak memikirkan perasaan ini. asal kecup dan peluk di depan orang sembarangan. dia pikir aku gak punya perasaan apa?.
kasian memang, mas Dimas harus bolak-balik mengantar dan menjemput ku. mengingat tujuan kamu berbeda arah. tapi itu keinginannya sendiri salah sendiri!.
"Sudah sampai may," ucapnya. aku tersadar segera membuka pintu mobil dan keluar.
Aku segera berlari masuk kedalam gedung. "Mayang!" panggi Tomi teman kelas ku.
lalu dia menghampiri diri ini, "Mayang, ke kantin yuk?" ajaknya. aku mengangguk.
"Kamu udah sarapan belum?" tanyanya. aku menggeleng kepala.
"Ya sudah, kita ke kantin cari sarapan" ucap Tomi, dan aku pun mengikuti langkah kakinya.
persetan dengan mas Dimas, bodoamat. kami pun berjalan bersisian dengan Tomi merangkul diri ini.
"Mayang!"
deg..
__ADS_1
"Suara itu? suara seseorang yang tidak asing di telingaku. mau ngapain dia kesini?" ucapku dalam hati.
namun langkah ini tidak terhenti. sebab aku harus mengimbangi langkah tomi yang merangkul bahu ini.