
bahagia ketika Dimas mau mengantar ku pulang, ini adalah kesempatan untukku untuk menjebaknya.
bodohnya Dimas masih seperti dulu, selalu merasa tidak enakan jika harus menolak permintaan orang lain.
untungnya dirumah ada obat, jadi aku bisa menjebak Dimas dengan cara mencampurkan obat itu kedalam minumannya.
aku tersenyum girang. kalau tidak ada Dimas disini mungkin aku sudah lompat-lompat tidak karuan karena sangking bahagianya.
setelah kami sampai dirumah aku meminta Dimas duduk diruang tamu.
"Mel, pintunya dibuka saja ya. jangan ditutup! takut timbul fitnah dari para tetangga" aku berucap.
"Iya Dimas, tidak masalah. yang penting kamu mau mencicipi kopi buatan ku! rasanya mantap tau!" seru ku memberi taunya.
pada saat aku membuat kopi di dapur tidak lupa aku masukan beberapa tetes obat perangsang untuknya. gadis seperti aku yang sudah tidak lagi perawan akan susah mendapatkan jodoh jika mereka tau kebenaran ku yang sesungguhnya.
dengan cara inilah aku harus menjebak Dimas agar masuk dalam jebakan ku.
tidak masal jadi istri kedua. yang penting aku bisa mendapatkan Dimas terlebih Dalu. masalah istri dan orang tuanya urusan belakangan itu menurutku.
pada saat aku masuk dengan secangkir kopi hitam ditangan ku, aku tidak menemukan Dimas diruang tengah. kemana dia?.
aku segera keluar untuk mencarinya, dan benar saja Dimas hendak pergi. mau kemana dia?.
__ADS_1
"Dimas, mau kemana?." panggilku cepat, aku tidak ingin Dimas meninggalkan aku. kalau tidak sia-sia rencana ku.
"Maaf Mel, aku harus kerumah sakit. maaf, tidak baik juga aku berada disini apa nanti kata orang kalau melihat kita hanya berduaan."
"Tapi kopinya?." ucapku sambil memperlihatkan secangkir kopi ditangan ku.
"Lain kali saja!" ucapnya dan segera masuk kedalam mobilnya.
"Sial!" kesal ku. selangkah lagi maka rencana ku akan berhasil.
aku segera masuk kedalam rumah, kekesalan yang aku rasakan sangat menyiksaku. gigiku mulai tidak bisa ku kendalikan.
aku menatap secangkir kopi yang akan kuberikan untuk Dimas yang masih kupegang.
replek aku meraih kopi itu, dan ku teguk hingga tak bersisa, lalu aku tersadar. "Ya ampun" aku berlari kekamar mandi guna untuk memuntahkan kopi yang aku minum barusan.
mengapa aku begitu bodoh hingga lupa kalau kopi ini sudah kuberi obat untuk Dimas.
sekuat tenaga aku untuk memuntahkannya tapi tidak bisa.
badan ku sudah mulai panas rasanya, keringat sudah mulai keluar. rasa tidak nyaman mulai menyerang. "Aku harus gimana ini?" gumamku.
dan aku segera berlari keruang tengah, mencari benda pipihku. aku harus menghubungi Dimas sekarang juga! aku butuh pertolongannya.
__ADS_1
tidak ada cara lain, niat hati ingin menjebak Dimas. malah aku yang teperangkan oleh ulahku sendiri.
aku segera mencari kontaknya, dan ku tekan namu tidak di angkat.
rasanya aku sudah tidak karuan. ini sungguh menyiksa ku. "Aa..." cicitku.
aku kembali meraih benda pipihku, kutekan lagi tombol berwarna hijau, tersambung namun tidak juga di angkat.
aku membanting semua yang ada di depan meja, tidak perduli akan menjadi berantakan aku sungguh tersiksa saat ini.
pandangan mata sudah tidak lagi normal, segera kutekan sekali lagi dan di angkat juga olehnya.
"Tolong aku, aku butuh bantuan mu! sekarang. aku tunggu di rumahku." setelah itu langsung ku matikan sambungan telpon ku.
aku tinggal menunggu kedatangan Dimas. lampu rumah ini sengaja ku padamkan agar tidak ada pencahayaan yang menerangi.
supaya tetangga juga tidak akan curiga nantinya.
terdengar suara mobil berhenti didepan rumah, aku segera bangkit dan, kulihat Dimas sudah masuk dan menutup pintu. aku segera menghampiri dan segera ku kunci pintu.
"Bantu aku!" ucapku yang sudah tidak bisa lagi menahan derita ini. segera ku dekap iya, dan dia membalas ku lalu dia mengangkat tubuhku.
"Dimas aku mencintaimu!" ucapku didalam dekapannya.
__ADS_1