Gairah Adik Istriku

Gairah Adik Istriku
Ketahuan


__ADS_3

ceklek!


"Dari mana kamu?"


"Iya salam" ucap ku memejam mata


akhirnya ketahuan juga, aku mempersiapkan diri, untuk menghadapi pertanyaan mas Dimas untukku.


"Jawab!" ucap mas Dimas, "kamu tidak lihat ini jam berapa may? Hmm.. aku mencari kamu dimana-mana. kamu enak ya tenang-tenang di luar sana. tanpa berpikir apakah orang rumah tidak menghawatirkan kamu!" lanjutnya lagi.


"Mas, saya gak pernah nyuruh situ untuk nyari saya, dan inget ya! saya berhak atas hidup saya!" jawabku. entah dapat keberanian dari mana aku menjawab seperti itu.


"Apa kamu lupa Mayang! kamu sedang berbicara dengan siapa saat ini? kamu lupa kamu sedang bicara dengan suami kamu!" ucap mas Dimas dengan penuh penekanan.


"Iya, saya ingat!. dan saya ingat betul saat ini sedang berbicara dengan siapa! saya sedang berbicara dengan Dimas Anggara pradipta. jadi tidak perlu mengingatkan saya berulang kali! saya tidak pernah lupa! tapi kalau suami, saya tidak yakin apakah anda benar-benar sudah menikahi saya? atau itu mungkin hanya sandiwara saja!" setelah itu aku langsung berlari menaiki anak tangga dan masuk kedalam kamar.


"Mayang!" terdengar mas Dimas mengejar langkah ku.


setelah tiba aku langsung mengunci pintu kamarku.


dor..


dor..


dor...


terdengar mas Dimas menggedor pintu. terserah aku tidak mau ambil pusing.

__ADS_1


"Buka may! kalau tidak mas dobrak ini!" terdengar mas Dimas berteriak dari luar.


aku sama sekali tidak perduli. aku memilih tidur, aman rasanya.


☘️☘️☘️


setelah mematikan lampu di ruang tengah aku kembali ke kamar Maria.


terlihat wanita itu sedang tidak baik-baik saja.


"Kamu kenapa mar?" tanya ku. kulihat Maria semakin pucat keringat membasahi dahinya.


"Aku mual mas,"ucapnya. dan segera berlari menuju kamar mandi.


huek... huek.. huek ..


"Sudah baikan?" tanyaku tatkala Maria membilas bibirnya dengan air mengalir.


"Sudah mas," jawabnya lesu.


aku pun membatunya berjalan menuju kearah ranjang, dan membaringkannya.


"Sebaiknya kita ke dokter saja!" ajak ku. Maria menggeleng lemah.


"Mas, aku mual lagi" ucapnya dan segera berlari ke kamar mandi.


aku pun segera menyusulnya, Maria semakin pucat dan lemas, kulihat jam menunjukan pukul 4:25 pagi.

__ADS_1


aku tidak bisa lagi menahan, "Ayo, kita kerumah sakit" ajak ku


aku membatu Maria untuk berjalan. "Bik, bik Ning!" panggilku.


dan Maria jatuh terkulai, "Yaa Allah Maria! ada apa dengan mu?" ucap ku panik.


"Bik, bik Ning!" panggilku berulang kali.


kulihat Mayang membuka pintu dan segera menghampiri kami.


"Ada apa dengan mbak Maria?" tanyanya segera mengangkat kepala Maria dan di letakan di pangkuannya.


"Bantu aku, kita kerumah sakit sekarang?" ajak ku Mayang mengangguk.


segera ku bopong Maria ala bridal kelantai bawah, Mayang segera berlari dan membuka pintu. tidak lupa juga mayang menyambar kunci mobil di atas meja.


"Non, mau kemana?" tanya bik Ning masih dalam keadaan setengah sadar.


"Kerumah sakit bik." jawab Mayang singkat.


"Bibi, ikut non"


kami pun segera membawa Maria kerumah sakit terdekat, tidak butuh waktu lama kami pun sampai.


Maria segera di tangani oleh perawat, namun sayang tidak ada dokter yang berjaga. mengingat jam yang masih sangat pagi.


setelah Maria mendapatkan perawatan dari para perawat, aku segera mencari musholla untuk menunaikan ibadah shalat dua raka'at.

__ADS_1


perawat bilang dokter akan datang pada pukul delapan pagi. jadi kami terpaksa harus menunggu beberapa jam lagi.


__ADS_2