Gairah Adik Istriku

Gairah Adik Istriku
Sikap tegas dimas


__ADS_3

Maria menyapu sudut matanya, sesak mulai menyerang di dada. Maria memilih kembali kedalam kamar.


☘️☘️☘️


"Sudah selesai bik?" tanya Dimas. ketika dia berdiri di pintu kamar dimana Mayang terbaring dengan lelap.


"Sudah tuan" jawab bik Ning sambil membungkukkan badan. "Tadi, non Mayang sempat muntah-muntah tuan." jelas bik Ning.


Dimas mengangguk, dan bik Ning memilih undur diri.


Dimas menatap Mayang dengan lekat. rasa sesal memenuhi kepalanya, Dimas mengutuk dirinya sendiri. mengapa dia begitu bodoh.


bodoh karna telah menyakiti fisik Mayang tentunya. "Harusnya aku tidak tersulut emosi tadi!" ucap Dimas mengusap wajahnya dengan kasar.


Dimas menoleh, merasa ada tangan yang mengelus di bagian bahunya.


dan benar saja, Maria tengah berdiri di samping Dimas dan menatap mayang yang tertidur dengan lelap.


Maria duduk di lantai di bawah Dimas, Maria bersimpuh di hadapan Dimas.


"Mas, maafkan aku. maafkan semua salahku, aku sadar atas apa yang aku lakukan ini tidaklah benar. aku tau kamu sangat kecewa padaku. aku tau itu! tapi, tolong maafkan aku! maaf aku belum memberikan keturunan untuk mu! maaf karna aku Mayang jadi begini. maaf kan aku, aku sudah membuat hidupmu menjadi rumit. aku membawamu dalam keadaan yang sulit." Maria bersimpuh di hadapan Dimas dengan linangan air matanya.

__ADS_1


Dimas hanya terpaku menatap Mayang dan Maria bergantian.


"Jika aku bisa membuat waktu, maka hal pertama yang akan aku lakukan adalah memutar waktu untuk kembali mas!" ratap Maria dengan menenggang kedua tangan Dimas.


"Aku sudah menciptakan sebuah neraka di dalam rumah tangga kita" ucap Maria lagi sambil menyeka lelehan air matanya yang menganak sungai di wajahnya.


"Sudah Maria, semua sudah terjadi. mungkin ini sudah jadi jalannya dari Allah untuk kita. jadi kita harus banyak belajar dari sebuah kesalahan." ucap Dimas menenangkan maria.


Dimas juga menyesal karna selalu menyudutkan Maria. bahwa ini semua salahnya.


Dimas menyapu air mata yang membasahi pipi Maria dengan lembut.


"Bicara apa kamu?" ucap Dimas, Dimas marah atas ucapan Maria barusan.


"Iya,mas. kita tidak tahu umur bukan? tolong bahagiakan dia. aku tidak mau jika nanti papa dan mama kecewa padaku." Maria menangis haru.


lalu Dimas merengkuh Maria dan membenamkan wajahnya di dada bidangnya.


Maria masih sesenggukan di dada Dimas. Dimas sadar saat ini dia sudah tidak bersikap baik kepada Mayang, atau pun Maria.


Dimas berubah menjadi sangat cuek dan dingin. kehangatan dan kelembutannya mendadak hilang sejak pernikahan itu di langsungkan.

__ADS_1


☘️☘️☘️


"Jam berapa ini??" ucapku kala aku terbangun dari tidurku.


aku merasa kepalaku sangat pusing hingga aku memijatnya pelan.


aku memandang langit-langit kamar, mengingat apa yang terjadi pada diri ini. tapi aku tidak bisa samasekali mengingatnya.


aku pun bangkit dari tidurku berjalan keluar kamar, merasa tidak enak badan aku berjalan perlahan dan ku lirik jam dinding sudah menunjukan pukul 2:45 sore.


"Ternyata ini sudah sore." gumam ku.


aku pun menuruni anak tangga satu-persatu, rumah begitu sepi. bahkan aku pun tidak tau ini hari apa.


"Sudah bangun? kemari!" panggil seseorang.


dengan langkah gontai aku tidak memperdulikannya. aku berjalan menuju ke meja makan. perutku sangat lapar saat ini terserah dengan mereka aku tidak perduli.


aku merasa ada sepasang mata yang sedang memperhatikan ku, tapi aku tidak perdulikan. segera ku isi piring dengan nasi dan lauk.


"Bodoamat." ucapku disela aku melahap makanan ku

__ADS_1


__ADS_2