Gairah Adik Istriku

Gairah Adik Istriku
Bertemu Maria


__ADS_3

Akhirnya aku bisa membawa Mayang pulang setelah aku meyakinkannya bahwa Maria mengidap kanker payudara. walau dia tidak ingin pulang bersama ku bukan masalah yang terpenting Mayang mau kembali kerumah.


☘️☘️☘️


"Mbak Maria" pekik ku lantang.


aku terkejut melihat kakak ku terkulai lemah di atas ranjang. aku pikir mas Dimas tadi berbohong padaku hanya agar aku mau pulang kerumah, tapi ternyata aku salah.


"May, ma-yang" ucapnya mba Maria terbata.


aku menangis melihat keadaannya yang sangat memperihatinkan, selama 6 bulan aku meninggalkan rumah ternyata begitu banyak yang berubah.


"Mbak, mbak kenapa? kenapa begini mbak" aku menangis pilu. wanita pengganti orang tua ku tidak lagi seperti dulu.


"Ssstttt" ucapnya " jangan nangis ya dek!" lanjutnya dan mengelus rambutku.


aku tidak sanggup membayangkan betapa menderitanya kakak ku saat ini. tubuhnya begitu kurus wajahnya menjadi sangat tirus.

__ADS_1


aku menangis sejadi-jadinya ku peluk iya, bagaimana bisa aku meninggalkannya. harusnya aku merawatnya disaat dia sakit seperti ini. harusnya aku ada untuknya disaat dia membutuhkan dukungan dariku.


"Mbak, maafkan Mayang. maaf, Mayang belum bisa jadi adik yang sempurna untuk mu mbak. maaf" ucapku di sela tangisanku.


aku benar-benar tidak tau akan begini. harusnya aku tidak pergi malam itu harusnya aku terima saja pernikahan ini.


"May, mba minta maaf ya. mba banyak salah sama kamu, harusnya mba tidak memaksa mu waktu itu" aku menggeleng cepat. semua ini bukan kesalahan darinya.


"Ini bukan salah mu mbak, ini sudah takdir. takdir dari tuhan dan aku harus terima itu. lupakan masa lalu!" aku mengusap air matanya.


ku usap air mata di wajahku. aku tidak ingin membuatnya menjadi lebih sedih aku harus memberi semangat demi kesembuhannya.


ku cium keningnya hingga berulang kali, bibirnya sangat kering dan pecah-pecah wajahnya sangat layu. air mata ku kembali berderai begitu tersiksanya kah dia saat ini.


membayangkan nya saja aku tidak sanggup apa lagi sepertinya yang sudah merasakan.


"May, jangan pergi lagi ya" ucapnya sambil memegang tangan ku erat. aku mengangguk.

__ADS_1


"Iya," jawabku disela tangis ku. kembali aku memeluknya dan ku cium lagi keningnya rasa rinduku padanya sangat besar.


"Kita kerumah sakit ya mba?" ajak ku dia tersenyum. senyumnya yang tidak dapat ku artikan.


"Mas, sebaiknya kita bawa Mbak Maria kerumah sakit sekarang!" kulihat mas dimas mengangguk setuju.


tanpa ba-bi-bu kami langsung membawa mbak Maria kedalam mobil. pakaiannya yang sudah disiapkan oleh bik Ning segera ku simpan di bagasi.


mas Dimas menidurkan mbak Maria di pangkuan ku. harusnya tadi kami memanggil mobil ambulans saja, tidak tega melihat Mbak ku meringkuk seperti ini.


aku yakin ini sangat menyiksanya kalau tidur diposisi ini. aku yang menatap wajahnya iya selalu terlihat cantik dengan senyumannya yang merekah.


aneh sekali kenapa mbak ku tidak merintih sedikit pun, apakah dia tidak merasakan sakit' samasekali.


"Kita hampir sampai ya, may" mas Dimas memberi tahu. aku hanya bisa menatap Wajak kakakku. tanpa terasa air mataku jatuh tepat pada wajahnya. segera ku usap dengan pelan.


"Tetap seperti ini" mbak Maria menahan tangan ku agar tidak lepas dari wajahnya.

__ADS_1


__ADS_2