
"Masih mau pelukan may?" terdengar suara mas Dimas mengejutkan ku. dan tangannya menggenggam erat tangan ku.
Segera ku tepis dan menarik diri darinya. "Ini memalukan Mayang" ucapku dalam hati. aku mengutuk kebodohan ku. mengapa aku selalu mempermalukan diriku sendiri. "Oh ... ibu peri bantu aku menghilang" aku memejamkan mata berharap bisa menghilang seperti pada cerita dongeng-dongeng untuk anak-anak ternyata itu bohong buktinya aku masih berdiri tegak disini.
"Ekhemm" aku berdehem.
dapat kulihat Mayang dari ujung mataku wajahnya memerah karna menahan malu. aku mengulum senyum ternyata dia semakin cantik dan anggun rupanya.
selama 6 bulan tidak bertemu, bayang perubahan dari sikapnya dulu iya begitu polos tapi sekarang dia sudah mulai menjadi dewasa.
"Kalau mau peluk lagi nggak papa may?" ujarku sengaja aku menjahilinya. lalu Mayang membentuk tangan dengan sebuah tinjauan kearah wajahku dengan garang.
lucu sekali dia, sok jaim tapi sebenarnya dia mau wkwk "aku yang mau" segera ku ralat.
"May, boleh peluk lagi?" tanya dengan senyum jahilnya.
"Berani?" pungkasnya cepat "Nggak lihat mbak Maria itu lagi sakit?" lanjutnya lagi.
"Berarti kalau begitu kita pulang, kita bisa lakukan dirumah saja" ujarku sambil terbahak.
"Emang mas Dimas itu nggak mikir apa?" Mayang terlihat kesal dengan ku sambil bertolak pinggang.
"Iya, nggak apa-apa donk may, kan kita sudah halal. kamu gak kasian apa dengan adik kecilku yang sudah lama berpuasa ini" seru ku memelas, siapa tau dengan begini Mayang jadi luluh padaku. sengaja ku pasang wajah murung agar Mayang merasa iba padaku.
namun gadis ini seolah tidak mau mengerti dengan keadaan ku. lebih tepatnya tidak peka.
punya dua istri tapi yang satu sakit, dan yang satunya lagi nggak mau di rayu. "nasib-nasib mengapa jadi begini" sengaja aku bernyanyi seperti ini
__ADS_1
kulihat Mayang hanya duduk terdiam benar-benar tidak peka.
"May,!" panggil ku
"Hmm" jawabnya. cuma itu yg keluar dari mulutnya.
"Emmm.."
"Apa sih mas" pekiknya. ternyata dia mulai terpancing emosi dengan tingkah jahilku ini.
"Nggak jadi" ucapku cepat
belum ngomong aja udah marah-marah gimana kalau aku ngomong. pengen minta ah.. sudahlah pusing aku, aku memilih keluar dari ruangan ini. lebih baik cari udara segar di luar rumah.
"Pak, maaf, mba yang tadi mau mendonorkan darahnya sudah bisa melakukan pengecekan" ucap seorang perawat
"May, sudah ditunggu di ruangan Samping bank darah untuk melakukan pengecekan sama dokter" ujarku memberi tahu.
kulihat Mayang keluar begitu saja tanpa ba-bi-bu iya menutup pintu kamar rawat Maria.
aku menghela nafas panjang dan duduk di sofa .
"Mas," panggil Maria.
aku segera menghampirinya dan "Iya sayang!" jawabku sambil duduk tepat di sampingnya.
"Maafkan aku, ya" ucapnya lemah "Maaf karna selama ini aku sudah abai padamu"
__ADS_1
"Kamu ngomong apa sih?" aku marah karna Maria sering ngelantur kalau bicara belakangan ini.
"Tolong jaga Mayang, jangan pernah tinggalkan dia! apalagi menyakitinya! jika iya tersakiti aku ikut merasakannya"
"Ssstttt" ku tempelkan jari telunjuk ku pada bibirnya agar Maria berhenti bicara yang tidak-tidak.
"Kamu pasti sembuh, ingat semua akan baik-baik saja. aku yakin kamu bisa melewati ini"
"Tapi aku sudah tidak kuat mas, rasa sakit ini sungguh menyiksa ku" ucapnya dengar bibir bergetar.
kulihat matanya sudah berkaca-kaca dan memerah. air mata jatuh disudut matanya segera ku sapu air mata itu, ku cium keningnya berulangkali aku tidak sanggup untuk kehilangan dirinya.
perasaan takut selalu menghantuiku aku belum siap dengan kenyataan ini.
"Mas, ada yang ingin aku bicarakan"
"Sudah, jangan banyak bicara kamu cukup istirahat saja" sela ku cepat.
"Ini sangat penting mas, ini tentang kehidupan Mayang" ucapnya lagi.
"Apa?" tanyaku.
"Ada sebuah buku di almari kita, cari di dalam lacinya dan serahkan pada Mayang ketika aku sudah tidak ada"
"Kamu ini ngomong apa sih mar? jangan bikin aku marah!"
"Yang aku katakan adalah kenyataan mas"
__ADS_1