
setelah selesai menyantap makan ku, aku meneguk segelas air putih dan aku bangkit dari dudukku.
aku berjalan menuju ke anak tangga, tujuanku adalah kembali ke kamar untuk bermalas-malasan.
rasa pusing tidak kunjung hilang, membuatku ingin segera tiba di kamar dan membaringkan badan.
☘️☘️☘️
pada saat aku bertanya, Mayang tidak menjawab. dan aku pun memintanya mendekat dia tidak perduli. sungguh Mayang sangat berubah sikapnya.
ku pandangi dia yang sedang menyantap makanannya dari kejauhan, aku tahu dia sangat lapar. tapi aku tidak habis pikir mengapa dia bisa mengenal minuman keras?. aku yang laki-laki saja tidak pernah menyentuh minuman haram itu.
bahkan melihat bentuk botolnya saja pun aku belum pernah. tapi mayang, Mayang adalah gadis baik-baik walau dia cerewet dan sedikit manja kini berubah seperti orang asing, mendadak diam.
"Kemari Mayang!" ku panggil dia yang hendak menaiki anak tangga.
kulihat Mayang tidak memperdulikan ku, benar-benar anak itu sangat menguji kesabaran ku.
"Kemayang sari!" ku ulangi lagi panggilan ku. " Apa kamu tidak mendengarkan aku?." lanjut ku.
__ADS_1
dia menghentikan langkahnya dan diam di tempat.
"Aku perintahkan agar kamu kesini!" tegas ku dengan suara yg lantang.
dengan malas dia berbalik dan dan berjalan menghampiri aku dan Maria.
setelah tiba dia hanya berdiri. bo**h memang aku ini. aku seperti mengasuh anak kecil yang berusia 5 tahun.
aku menghela nafas berat dan menghembuskan dengan kasar. "Duduk!" ucap ku
ku lihat dia menghentak-hentakan kakinya, terlihat dia cemberut. manis, sangat manis ketika dia sedang cemberut begitu.
"Mayang, mulai detik ini. saya, tidak ingin melihat kamu sepeti tadi pagi pulang dalam keadaan mabuk!" tegas ku.
"Dan, kuliah kamu sudah mas daftarkan di kampus mas!"
"Tentukan saja apa yang ingin kalian tentukan. hidupku memang sudah tidak penting untuk ku. kalau perlu bunuh saja aku sekalian!"
"Mayang, bicara apa kamu??" tanya Maria.
__ADS_1
"Iya, hidup aku memang tidak berarti bukan? apakah kalian pernah bertanya apa yang aku inginkan? atau bahkan kalian memberi tahu aku sedikit saja dan aku pun tidak tahu harus dinikahkan dengan apa dan siapa? hidup aku tidak berarti Maria." ucap Mayang lantang tanpa embel-embel mba.
"May, jangan begini. ini memang salah mbak may. mba yang salah. mas Dimas tidak salah dalam hal ini" ucap Maria dan ingin memeluk Mayang. dengan cepat Mayang menepisnya.
Maria menitikkan air mata. aku pun tidak tega melihatnya.
"Tentukan saja apa harus kalian tentukan. toh aku juga bagai patung yang bernyawa, tidak bisa mengambil keputusan atas keinginan sendiri. hidupku memang ada di tangan kalian bukan??!."
"May, bukan begitu maksud mas. mas minta maaf. mas salah, mas hanya ingin yang terbaik untuk mu!" ucap ku sedikit melembut.
"Dengan menikahi aku itu juga yang terbaik untuk kalian. tapi tidak untuk ku! kalian sudah merusak masa depan ku!"
"Tidak seperti itu Mayang. mba minta maaf, mba salah. mba akui mba salah sama kamu. mba ingin yang terbaik untuk mu. mba sayang Mayang!"
"Kalau sayang, suruh mas Dimas ceraikan Mayang mba. biarkan Mayang menentukan kehidupan Mayang. Mayang ingin menjadi diri Mayang sendiri" ucapnya mulai menangis.
"Mayang merasa, Mayang seperti boneka. yang jika digerakkan Mayang akan bergerak. dan jika di tidurkan Mayang akan tertidur. Mayang ingin seperti yang lain mba, punya cita-cita dan keinginan sendiri. di tentukan sendiri." ucapnya sesegukkan dan berlari menaiki anak tangga.
aku berada di posisi yang sulit saat ini, aku tidak tau apakah aku mampu menghadapi ini atau tidak.
__ADS_1
"Maria..!" panggilku