
"Apa kalian tau dimana Mayang?" desak ku lagi.
"Maaf pak, kami berdua tidak tau!" jawab mereka serempak.
"Apa dia tidak pernah menghubungi kalian? atau berkunjung misalnya?"
"Memang pernah pak, Mayang mengirim pesan dan dia juga nelpon, tapi pada saat itu saya sudah tertidur. ponsel saya juga malam itu saya silent. jadi saya tidak mendengar pak, maaf." papar Rena menjelaskan.
"Ini pak." gadis yang bernama Rena itu menunjukan pesan yang dikirim oleh Mayang.
aku segera mengambil ponselnya dan melihat isi dari pesan itu.
[Rena, boleh minta tolong? aku sangat butuh pertolongan mu saat ini.]
[Aku butuh tempat menginap malam ini saja, besok aku akan mencari kosan.] itulah isi pesan yang Mayang kirim.
aku tertegun membaca pesan itu, yaa Allah see sakit itukah hati mu may? kemana aku harus mencari mu mayang?.
"maafkan aku Maya, aku sudah membuat mu menderita." ucapku dalam hati
"Ini juga pak!" pria yang pernah kulihat merangkul Mayang saat itu membuat ku tersadar dari lamunan.
"Ini, pak. Mayang juga beberapa kali menelpon saya. tapi saya juga tidak sempat mengangkatnya. maaf" ucapnya penuh sesal.
"Jika besok atau lusa kalian bertemu mayang. tolong kabari saya!" ucapku
"Baik pak." ucap mereka serempak.
__ADS_1
"Tolong simpan kontak saya." aku mengeluarkan ponsel milik ku dan segera menyebutkan dua belas angka agar mereka menyimpannya.
"Baik, kalau begitu kalian boleh keluar!" ucapku.
setelah itu pun mereka keluar,. aku harus mencari Mayang kemana?
"jangan bengong bro!" ucap Dion.
"kalau gue gak bisa bawa Mayang pulang, gue harus bilang apa ke bini gue Yon."
"Iya, Lo bilang apa adanya lah!"
"Iya sudah, kalau begitu gue cabut dulu ya. gue harus lanjutin mencari mayang!" setelah itu aku bangun dari dudukku.
"Dim, hati-hati! semoga adik ipar Lo segera ketemu!" ucap Dion menyemangati. aku tersenyum simpul dan melambai tangan.
"Kalau gue yang nemuin Mayang. boleh gue jadiin istri?!."
DEG
pertanyaan macam apa ini, aku menggeleng kepala. "Jangan ngaco Lo!" celetukku dan memilih pergi.
"Gue, serius bro." teriak Dion aku melambai tangan.
enak saja dia, asal ngomong Tampa berpikir lebih dulu.
aku segera keluar dari gedung berjalan menuju pos satpam. "Pak, ada perlu apa ya?" tanya seorang satpam yang sedang berjaga di depan kampus.
__ADS_1
"Maaf pak, mau tanya. bapak pernah liat orang ini gak ya?" tanyaku sambil menyodorkan selembar Poto Mayang.
"Oh, ini teh non Mayang ya. punten atuh pak, saya teh sudah seminggu ini tidak melihat non Mayang datang ke kampus" tuturnya lembut.
"Pak, kalau bapak melihat Mayang dimana pun, dan kapan pun tolong hubungi saya! ini kartu nama saya!" ucapku sambil memberikan selembar kartu nama milikku.
"Baik pak, nanti pasti saya kabari bapak, kalau begitu saya lanjut kerja lagi ya pak." ucapnya undur diri.
aku melangkah menuju kearah mobil, aku mau mencari Mayang dimana? aku jadi kepikiran olehnya.
bagaimana dia bisa hidup tanpa kami, aku jadi sangat khawatir olehnya.
aku mengusap wajah ku kasar, mengapa jadi begini ya Allah. apakah ini adalah jalan darimu yang harus kutrmpuh.
aku mengemudikan mobil dengan pelan menyusuri jalanan, aku sengaja menjalankan mobil dengan sangat pelan berharap bisa bertemu Mayang di pinggir jalanan.
"Mayang!" seruku, aku melihat Mayang sedang berjalan kearah taman.
aku segera menepikan mobil dan segera turun untuk menyusul Mayang di taman.
"Mayang!" panggilku namun aneh Mayang tidak menjawab panggilanku. atau mungkin Mayang masih marah dan tidak ingin bertemu dengan ku.
"Mayang!" aku ulangi lagi dengan nada suara yang lebih tinggi. lagi-lagi Mayang tidak mau menjawab panggilan ku.
aku segera berlari, dan ku cekal pergelangan tangannya.
"maya--?" ucapan ku terhenti. suaraku seolah tercekat di tenggorokan. see sakit inikah rasanya kehilangan.
__ADS_1