Gairah Adik Istriku

Gairah Adik Istriku
pencairan hari pertama


__ADS_3

"Sayang, aku berangkat ya!." ucapku berpamitan pada Maria.


"Iya, hati-hati ya mas!" ujarnya.


"Iya, ingat! hati-hati dirumah!. jangan banyak pikiran! do'akan agar aku bisa membawa Mayang pulang." dan aku langsung mengecup kening Maria.


tak juga lupa aku mengelus perutnya yang masih rata.


"Papa, pergi dulu ya sayang!" ucapku sambil mengelus perut Maria.


aku pun beranjak dari kamar kelantai bawah, dan memangil bik Ning.


"Bik, bik Ning!" panggilku.


"Saya tuan"


"Bik, ini ada ponsel. jika terjadi sesuatu tolong segera hubungi saya!" ucapku sambil menyodorkan satu buah ponsel yang aku belikan untuk bik Ning.


"Baik, tuan." jawabnya sambil membungkukkan badan.


"Disini sudah saya isi dengan kontak saya, jadi bibi bisa langsung menghubungi saya jika terjadi sesuatu nantinya. tekan ini! Kalau begitu saya pergi ya bik, do'akan semoga saya segera membawa Mayang pulang!"


"Aamiin" sahut bik Ning.


"Oh,, ya bik, titip Maria!"


"Baik tuan."


dengan langkah lebar aku keluar dari rumah, masuk kedalam mobil dan duduk di depan setir. ku nyalakan mesin dan aku mulai mengemudi dengan kecepatan tinggi.


☘️☘️☘️

__ADS_1


tiba di kampus aku segera turun dan berjalan masuk untuk menemui seorang dosen, yang selama kurang lebih sebulan ini membimbing Mayang, aku ingin bertanya-tanya langsung kepada sahabatnya.


mungkin salah satu dari mereka ada yang tau keberadaan mayang saat ini.


tok! tok! tok!


aku mengetuk pintu ruangan dosen mayang.


"Masuk!" jawabnya dari dalam.


kulihat dosen itu menunduk sedang fokus pada sebuah maaf berwarna merah.


"Selamat pagi pak?" sapa ku ramah.


"Selamat pagi." jawabnya dan mendongak menatapku.


"Dimas?" ucapnya terkejut.


Dion pun menjabat tangan ini, dan kami pun berpelukan. "Iya." jawabnya.


"Ngapain kamu disini?" tanya Dion heran.


"Jadi gini, kedatangan saya kesini untuk menanyakan murid mu yang bernama Mayang. apakah dia tidak masuk beberapa hari ini?" tanyaku pada intinya.


"Mayang?, dia siapa Lo bro?" tanya Dion heran.


"Emm ..." aku berdehem "Dia adik ipar gue, Yon. sudah sepekan lebih tidak pulang."


"Yaa Allah maafkan aku yang sudah berbuat dzalim. dan tidak mengakuinya sebagai istri ke-dua" ucapku dalam hati


"Iya, memang dia sudah tidak masuk selama itu mungkin. tanpa surat izin, saya juga sudah bertanya sama teman-temannya tapi mereka bilang tidak tau!"

__ADS_1


"Selama di kampus apa dia punya teman dekat?" tanyaku


"Ada sih, namanya Rena dan Tomi." tutur Dion.


"Boleh aku bertemu mereka?" pintaku. "Aku ingin bertanya langsung pada mereka"


"Boleh. tunggu ya" kulihat Dion keluar dari ruangan entah kemana.


tak lama iya datang dan membawa dua cangkir kopi hitam. satu iya suguhkan untuk ku, dan satu lagi tentu untuknya.


"Tunggu ya, lagi di panggil satpam" ucapnya memberi tahu. aku mengangguk setuju.


"Ayo dim, diminum kopinya. tar keburu dingin!" ujar Dion.


lalu aku pun segera menyeruput kopi hitam yang sudah Dion suguhkan. rasanya enak tidak terlalu manis. dan tidak pula terlalu pahit, pas.


tok! tok! tok!


terdengar suara ketukan pintu, lalu Dion meminta mereka masuk.


"Bapak, panggil kami?!." tanya mereka serempak.


"Duduk!" titah Dion. kulihat mereka pun duduk dan patuh.


"Ini, ada kelurganya Mayang ingin bertanya sesuatu dengan kalian. bapak harap kalian jangan menutup-nutupi apa pun itu" tegas ku


"Baik pak." jawab mereka serempak.


"Jadi begini, kedatangan saya kemari ingin bertanya kepada kalian? apakah kalian tau keberadaan mayang saat ini? atau mungkin Mayang tinggal disekitaran kalian?" desak ku ingin tahu.


namun mereka hanya diam tanpa kata dan menundukkan wajahnya.

__ADS_1


"Apa kalian tau dimana Mayang?" desak ku lagi.


__ADS_2