Gairah Adik Istriku

Gairah Adik Istriku
Part 73


__ADS_3

Aku terbangun dari tidurku, cahaya silau mentari yang masuk menyinari dari celah-celah kecil.


kamarku yang masih remang-remang tanpa pencahayaan lampu.


aku memegangi kepalaku yang terasa berat dan menatap tubuhku yang dibungkus dengan selimut tebal.


aku berusaha untuk bangun. "Aaa.." pekik ku. tubuhku rasanya remuk, belum lagi nyeri di bagian intim ku aku meringis menahan perih.


aku melihat disekeliling kamar tapi, aku tidak menemukan keberadaan mas dimas.


"Kemana perginya mas dimas?" lirihku.


aku berusaha untuk bangun dari tidurku dengan kesusahan aku berusaha berjalan menuju ke kamar mandi.


ternyata seperti ini rasanya, sakit! sangat-sangat sakit. sampai harus berpegangan dinding dan aku meneteskan air mata.


"Kemana kamu mas?. tega sekali kamu mas" umpat ku.


setelah sampai di kamar mandi aku ingin membuang air kecil, aku menangis menahan perih di bagian bawahku.


rasanya aku tidak jadi untuk pipis tapi aku sudah sangat kebelet buang air kecil.


aku mengigit bibir bawahku pada saat pipis ku keluar. bibirku kembali berdarah dan menetes di atas selimut yang aku pakai.


setelah itu aku beranjak dan berjalan menuju keatas ranjang, perlahan merangkak naik lebih baik aku beristirahat hari ini.


aku tidak ingin keluar dari rumah, apa kata orang kalau sampai mereka melihat aku yang berjalan seperti seekor bebek, sangat aneh bukan?.


belum lagi bibirku yang bengkak akibat ulah ku sendiri.

__ADS_1


aku menatap tubuhku di pantulan cermin, yaa tuhan aku sudah seperti wanita yang menjadi korban pemerkosaan saja.


.


.


.


"Bik, bagaimana keadaan Maria?" tanyaku ketika aku sudah sampai dirumah sakit.


"Seperti itulah pak, ibu tidak mau makan" jawab bik Ning.


aku segera menghampiri maria.


"Sayang, makan ya? kalau kamu tidak makan bagaimana bisa sembuh" aku membujuk Maria agar iya mau makan saat ini.


"Syutt..." aku menempelkan jari telunjuk ku di bibir Maria.


"Sebaiknya kamu jangan banyak bicara, kamu masih sakit. ingat kamu tidak boleh punya banyak pikiran, Huum." ujar ku memberitahu.


"Tapi ini penting mas"


"Sudah, diam!" tegas ku. aku tidak ingin dia memikirkan banyak hal.


setelah itu Maria kembali tidur, walau sedikit tapi aku bersyukur Maria mau makan nasi.


"Bapak baik-baik saja?!." tanya bik Ning ketika aku berpapasan dengannya.


"Saya, baik bik. memangnya ada yang aneh dengan saya?" tanyaku. aku merasa aku baik-baik saja saat ini.

__ADS_1


hanya tubuhku yang remuk rasanya. lutut juga sangat lelah berjalan saja aku agak susah.


"Itu loh pak, bapak aneh jalannya" ujarnya dan menutup mulutnya. "Ehh maaf ya pak" lanjutnya lagi.


"Apakah kentara jualanku" monolog ku dalam hati.


Jujur aku malu pada bik Ning, jangan sampai bik Ning berpikir kearah sana, berpikir bahwa aku semalam anu-anuan dengan wanita.


"Mayang!" Aku baru teringan dengan Mayang. aku saja seperti ini apa lagi dia.


apakah aku harus pulang, lebih baik aku pulang! aku pastikan dulu keadaan Mayang sekarang.


"Bik, tolong jaga ibu ya. saya mau keluar sebentar" pamit ku.


aku gegas keluar dari rumah sakit dan masuk kedalam mobil, aku segera menyalakan mesinnya dan mengendarai dengan kecepatan tinggi.


.


.


.


"Mayang!" pekik ku lantang. ketika aku sudah berada dikamar.


kulihat mayang sudah berlumur darah. "Ada apa dengan mu May?!." aku segera memeriksa denyut nadinya.


Alhamdulillah masih ada. segera ku angkat tubuhnya naik keatas ranjang dan menutup tubuhnya dengan selimut.


"Apa yang terjadi May?!." seruku. aku segera mencari kotak p3k untuk mengobati lukanya.

__ADS_1


__ADS_2