
Niat hati ingin melihat keadaan Mayang, namun ketika aku sampai aku malah melihat pemandangan yang sangat menyakitinya.
menyayangi dalam dia ternyata sakit rasanya terpaksa aku kembali menunggu Maria.
namun sudah hampir 2 jam aku menunggu Maria belum juga keluar dari ruangan operasi.
hingga aku mengantuk dan terlelap beberapa saat ketika aku duduk sendiri di bangku yang sudah disediakan. sudah beberapa bulan ini aku kurang tidur dan istirahat. bahkan ke kampus pun sudah tidak pernah.
selama ini aku sibuk mencari Mayang dan mengurus Maria.
pada saat aku bersandar kulihat lampu yang ada di atas pintu ruangan operasi sudah mati itu menandakan bahwa pasien tidak lama lagi akan keluar dari ruangan.
dan benar saja pintu pun terbuka, aku segera menghampiri mereka, ku lihat Maria terbaring miring.
"Dokter, mengapa istri saya tidur dalam posisi seperti ini?!." aku rasa Maria tidak nyaman jika tidur dengan posisi ini.
"Maaf pak, ibu Maria harus terbiasa tidur seperti ini!" tukas dokter Arif.
"Maksudnya? aku tidak mengerti dok?"
"Nanti akan saya jelaskan ya pak, sebaiknya kita bawa Bu Maria keruangan perawatan lebih dulu!" jawabnya lembut dengan senyuman kecil.
akhirnya aku mengikuti langkah dokter dan juga perawat yang membawa Maria menggunakan brankar guna dipindahkan kedalam ruangan.
hati ku terenyuh melihat keadaan Maria semakin hari makin memburuk. dengan cara apa lagi aku harus memohon kepada Allah akan kesembuhannya hingga tanpa aku sadari cairan bening keluar begitu saja.
segera ku hapus cairan bening itu aku tidak ingin dokter dan juga perawat melihat aku menangis.
tiba kami di ruangan Maria aku tidak melihat Mayang disana. mungkin Mayang sudah pergi dengan Heru.
Aku membantu para perawatan memindahkan Maria ke tempat tidur dengan penuh kehati-hatian kami mengangkat tubuh ringkih maria.
setelah itu dokter mengajakku menuju ke ruangannya.
.
.
.
"Ada apa sebenarnya dok?" tanya ku ketika kami sudah berada didalam ruangan dokter Arif.
ku tatap wajah dokter Arif yg terlihat murung.
"Maafkan saya pak Dimas, saya tidak bisa berbuat banyak. selain dari itu kita hanya bisa mampu berdoa semoga ada keajaiban dari yang maha kuasa"
"Apa maksudnya dok? saya tidak mengerti"
"Jadi begini pak, besar kemungkinan istri bapak sulit untuk disembuhkan. sebab penyakit yang menggerogoti tubuhnya sudah menguasai semua sel dalam tubuhnya. maafkan saya, istri bapak tidak bisa lagi untuk bertahan lebih lama. dan, tadi kami menemukan di bagian organ dalam tubuh istri bapak sudah rusak semua. wallahualam ya pak. semua kita serahkan kepada yang maha kuasa"
"jangan bercanda dok! saya tidak suka lelucon saat ini" tekan ku.
"Dan Saya sekarang sedang tidak bergurau Pak Dimas"
setelah dokter menjelaskan semuanya aku memilih keluar dari ruangannya.
lutut ku rasanya sangat lemah dunia ku seakan berhenti berputar. kenyataan apa ini yaa Allah. aku belum siap untuk kehilangan dirinya yaa Allah..
hatiku rasanya perih, sakit sekali. mengapa harus begini Yaa Allah aku akan kehilangan Mayang dan juga Maria dalam hidup ku.
aku terpaku dalam lamunan ku dan terdiam tanpa kata, pikiran ku kosong.
__ADS_1
setelah keluar dari ruangan dokter Arif, aku memilih duduk di taman aku ingin sendiri untuk saat ini.
menenangkan pikiranku yang sangat kalut saat ini.
.
.
.
"Pak, saya takut untuk bertemu dengan kedua orang tua bapak" seruku ketika kami sudah berada disebuah restoran.
"Kedua orang tua saya orang baik kok, Sari. kamu tenang saja! semua akan baik-baik saja!" balas Pak Heru yang masih berusaha membuat ku tenang.
pak Heru mengajak ku untuk menemui kedua orang tuanya. dia janji tidak akan lama. mengingat keadaan ku yang masih lemah.
dan butuh istirahat yang cukup.
"Kamu mau minum apa?"
"Just saja pak" jawabku dengan senyuman.
"Bisa tidak jangan panggil bapak?"
Aku hanya bisa cengengesan dan menggaruk kepala yang tidak gatal.
Emm...
"Bapak, boleh panggil saya Mayang saja pak" ujar ku salah tingkah.
Dan aku malah memintanya untuk tidak memanggil sari lagi.
aku menjadi kikuk olehnya. untuknya gawai ku berdering dan segera ku raih gawai itu.
segera ku geser tombol berwarna hijau.
"Halo"
[Sayang kamu dimana? aku di rumah sakit saat ini?] ucap Adit dari seberang telepon.
"Maaf Dit, aku sedang diluar" aku memberitahu.
[Dimana?]
setelah itu aku pun mengirim kan pesan kepada Adit agar iya menyusul kami disini.
"Pak, orang tua bapak masih lama ya?" tanyaku hati-hati. takut beliau tersinggung atas pertanyaan ku.
"Siapa yang telpon??" bukanya jawab malah balik bertanya. aneh deh.
"Bapak jawab dulu pertanyaan saya!" gemas sekali jika sari sedang cemberut seperti ini. rasanya ingin segera ku terkam.
"Tidak lama lagi sari, tunggu beberapa menit. dan kamu harus jawab pertanyaan saya!" dasar pemaksaan.umpat ku dalam hati.
"Tadi yang telpon Adit pak" ucapku ragu. "Dia mau nyusul kesini" lanjut ku lagi.
namun laki-laki dingin itu malah tersenyum simpul kearah ku. Aneh sekali bukan? dasar pria batu memang susah ditebak.
"Nah itu kedua orang tuaku" kulihat pak Heru langsung bangkit dari duduknya.
lalu pak Heru berpelukan dengan ayahnya. disusul juga ibunya.
__ADS_1
"Sari, kenalkan ini mama dan papa ku!" aku pun bangkit dari dudukku dan aku juga mencium punggung tangan mereka dengan takzim.
"Sari, Tante." ucapku mengelukan diri.
"Sari, Om." ucapku lagi.
"Iya, ayok duduk!" ajak mama pak Heru ramah.
aku pun ikut duduk tepat disamping pak Heru.
"Jadi ini her, calon istrimu?" tanyanya lugas.
"Tunggu-tunggu jadi pak Heru mengajak aku bertemu dengan mereka sebagai calon istrinya? tapi kenapa pak Heru gak bilang aku?" aku berucap demikian dalam hati.
"Mama setuju sayang, segera rencanakan pertunangan kalian!" ujar Tante antusias.
aku yang hanya menatap kearah meja dengan kosong, tidak mampu menjawab obralan mereka.
sekitar 2 jam kami duduk bersama kedua orang tua pak Heru pamit pulang lebih dulu.
lalu Adit pun datang dan meminta aku agar menemuinya sebentar. setelah meninta izin dengan pak Heru aku langsung menghampiri Adit yang sudah menunggu di meja yang berjarak jauh dari kami.
.
.
.
"Sayang, ayo duduk! aku sudah pesankan makanan dan minuman kesukaan kamu" Adit bertutur lembut, aku membalas Adit dengan senyum.
"Sayang, lusa aku akan berangkat. aku mau wakt darimu? bisa temani aku berlibur ke vila sehari saja?" ujar Adit penuh harap.
namun aku masih menimbang- imbang permintaannya. tidak mungkin aku meninggalkan mbak Maria yang sakit parah.
"Ayolah sayang, please ... sehari saja ya?" mohon Adit sambil menggenggam kedua tangan ku.
"Aku belum bisa kasih jawaban Dit, nanti akan aku kabari kamu ya" balasku lembut.
aku tidak ingin Adit kecewa padaku. sebab Adit lah yang selama ini sudah banyak membantuku.
.
.
.
yang masih dibawah umur minggir dulu, ini untuk yang sudah 18 keatas ya khusus untuk orang dewasa ups...
Hari ini aku double up ya kak 🤗🤗
bisa Kasih masukan dan komentar ya kak. aku sangat berharap dari komentar-komentar kalian sebab itu sangat menginpirasi untuk saya.
bantu like, Vote dan juga kasih hadiahnya ya 🙏🙏
Maaciihh... ❤️❤️❤️
love love sekebon 🌹🌹 Muach...
Disini Mayang buka-bukaan loh 🤭🤭
jangan ngintip nanti bintitan 🤣🤣🤣 💃💃
__ADS_1