Gairah Adik Istriku

Gairah Adik Istriku
Part 66


__ADS_3

"Tidak usah di ladeni!" ucapnya.


aku menolehkan wajah melihat siapa yang membawaku pergi dari sana.


"Dok-ter?" ucap ku terbata. lalu iya tersenyum manis padaku.


OMG manis sekali senyumnya aku jadi gemas ingin mencubit pipinya.


Dokter Arif membawaku berjalan lebih cepat untuk menghindari dari wanita ular itu. tanpa aku sadari tangan ku terpaut dengan tangan dokter Arif.


"Maaf dok, apakah dokter mengenali Mba Amel?" tanya ku hati-hati.


"Sangat! aku sangat mengenalnya" ucap dokter Arif hingga kami sampai di depan ruangan mbak Maria.


"Mayang?" mas Dimas menatap tidak suka terhadap kami.


lalu mbak Maria juga menatap Aneh kearah kami. aku merasa tidak melakukan apapun lalu mengapa mereka melihat kami seperti itu.


mas Dimas melihat kearah tanganku dan aku pun mengikuti arah pandangannya, aku tersadar segera kutarik tanganku dari genggaman dokter Arif dan menjauh darinya.


"Maaf" ucap dokter Arif ketika iya juga tersadar.


kulihat wajah mas Dimas tidak bersahabat saat ini. terlihat jelas wajahnya sangat murung.


"Gimana keadaannya, Bu?" tanya dokter Arif mengalihkan perhatian semua yang ada dirungan ini.


lalu dokter menghampiri mbak Maria dan memeriksa keadaannya.


"Semuanya baik, Dok" jawab mbak Maria dengan lemah.


"Baik kalau begitu, saya permisi" ucap dokter Arif undur diri.


tak lama bik Ning masuk keruangan mbak Maria. "Bik" sapa mbak Maria.


"Saya, Bu" jawabnya.


"Mas," mbak Maria memanggil mas Dimas.


"iya, ada apa sayang?" tanyanya. sambil menghampiri.


"Tolong antar Mayang pulang. kalian butuh istirahat kan?" ujar Maria dengan lemah.


"Tidak mba, Mayang disini saja" pungkas ku cepat.


"Tidak, pulang lah. selagi ada bik Ning disini kalian boleh istirahat dirumah"


"Tapi"


"Tidak ada tapi tapian. pulang lah mas bawa Mayang!" tegas ku dengan nada suara lemah.

__ADS_1


ku lihat mas Dimas hanya mengangguk dan mendekati mba Maria. mas Dimas mencium kening mba Maria dengan lembut "Kalau ada sesuatu, tolong segera hubung saya ya, bik!"


"Baik tuan" jawab bik Ning mantap.


setelahnya aku mengekor langkah mas Dimas keluar dari ruangan mba Maria, lalu aku berpapasan dengan dokter Arif aku memberi senyuman terbaikku.


dokter Arif juga membalas senyum ku dengan manis. "Ekhemm" mas Dimas berdehem dan aku tersadar rupanya lelaki itu sudah menatapku sejak tadi.


"Kita pulang sekarang?" tanyanya. aku mengangguk.


setelahnya kami sampai di parkiran, mas Dimas segera masuk kedalam mobil dan langsung menyalakan mesinnya.


aku duduk tepat disamping mas Dimas yg belakang kemudi. tidak lupa ku pasang sabuk pengaman sebagai bentuk keamanan.


.


.


.


tiba dirumah aku segera turun dan membukakan pintu, aku masuk kedalam kamar.


aku memilih berlari hingga aku benar-benar sampai kedalam kamar. akhirnya aku kembali juga kerumah ini, rumah yg dulu aku tempati dan aku tinggalkan.


kamar ku masih seperti dulu tidak berubah sedikitpun. aku melangkah pelan berdiri tepat ditengah menatap kosong ruangan ini.


"Lepas, mas" seru ku.


namun lelaki itu malah menyandarkan dagunya pelan di bahuku.


"Mengapa may, mengapa laki-laki lain boleh seperti ini pada mu? mengapa aku tidak boleh? hm.. bukankan aku suamimu?" ujar mas Dimas.


sebisa mungkin aku menyembunyikan perasaan ku, aku tidak ingin mas Dimas merasakan apa yg aku rasakan saat ini. aku mengatur pernafasan ku agar tidak terlihat gugup.


"May, apa aku boleh melakukan itu?"


ukhuk ukhuk


aku terbatuk-batuk tersedak air liur ku. aku memilih diam aku tidak tau harus menjawab apa.


"Apa boleh?" ulang mas Dimas dan menatap wajah ku dengan sayu.


tatapan itu adalah penuh pengharapan. iris hitamnya menatap lekat mataku yang tak mampu berkedip, sesat akut terbuai olehnya.


aku yakin wajahku saat ini sudah seperti kepiting rebus yang sudah sangat merah menahan malu.


"Tolong May, aku tersiksa, aku tidak kuat terus menahannya" mohon nya.


aku hanya terpaku, dada ku naik turun menahan rasa yg memuncak. ingin rasanya kupeluk erat mas Dimas sekarang juga aku sangat merindukannya sangat. tapi rasa itu ku tahan aku tidak ingin menunjukkannya pada mas Dimas.

__ADS_1


perlahan tangan mas Dimas mulai bergerak. tidak munafik aku menikmati sentuhannya, perlahan tangan itu membelai wajahku ku pejamkan mata. dan mas Dimas melabuhkan bibirnya tepat di bibir ku.


perlakuan mas Dimas sangat lembut hingga aku tidak sadar akan sentuhannya yang sangat menghanyutkan ku.


akhirnya aku tersadar aku sudah terbaring ditempat tidur dengan mas Dimas yang ikut terbaring tepat disamping ku.


"Boleh ya, may?" izinya.


aku memilih diam aku bingung harus menjawab apa antara iya dan tidak.


iya aku tidak tega melihatnya matanya sudah di penuhi kabut gairah yang terpendam. tidak aku merasa takut mengingat aku belum pernah melakukan hal itu, katanya akan terasa sakit dimalam pertama.


"Maaf, mas, Mayang nggak bisa" ujarku menunduk.


kulihat mas Dimas sangat kecewa padaku, harapannya yang sangat tinggi harus gugur begitu saja.


"Kalau begitu maafkan aku may. maaf, mungkin aku akan memilih mencari kebahagiaan ku diluar sana aku sudah cukup sabar menahan ini. setahun lebih lamanya aku berusaha menahannya may, aku laki-laki normal yang butuh kepuasan" ucapku tanpa lagi malu mengatakannya.


setelah itu aku bangkit dan memilih keluar dari kamar Mayang.


iya aku harus keluar sekedar mencari kebahagiaan diluar sana.


aku melangkah lebar, hasrat yang sudah memuncak tidak bisa dituntaskan. memang sebaiknya aku tidak perlu mengharapkan Mayang.


masih banyak wanita di luaran sana jauh lebih menarik darinya. entah mengapa emosi ku tidak terkendali saat ini.


segera menyalakan mesin mobil dan memilih pergi.


.


.


.


aku juga tersiksa mas, bukan kamu saja. aku juga ingin menjadi wanita yang sempurna yang katanya ketika wanita bisa membuat pria yang iya sayang merasa puas.


aku menangis ketika mas Dimas memilih pergi dan tidak lagi berjuang meluluhkan hati ini. aku pikir mas Dimas benar-benar menyayangi ku tapi ternyata aku salah, mas Dimas hanya mencari kepuasannya saja.


kulihat waktu sudah menunjukkan pukul 02:12 malam. kemana perginya mas Dimas?.


perginya mas Dimas sejak tadi aku tidak bisa tidur. ini kali pertamanya aku bersikap seperti ini, biasa aku tidak pernah peduli tapi kali ini hatiku tidak tenang memikirkan mas Dimas yang pergi entah kemana.


bayangan mas Dimas yang bermesraan dengan wanita lain memenuhi isi kepala.


aku menghela napas berat, duduk di ruang tamu sendiri denga kegelapan dan tanpa aku sadari aku terlelap.


dan aku terbangun aku sudah di dalam kamar terbaring di atas ranjang lengkap dengan selimut yang membungkus badan sampai keatas dada.


"Siapa yang membawa aku kesini?!." gumam ku

__ADS_1


__ADS_2