
Hari yang sangat melelahkan bagi Dewandaru, Dewandaru, mengakui semua kejahatan yang telah dia lakukan pada Violet, tanpa ada ybg di tutup-tutupinya sehingga memudahkan para petugas penyidik dalam melaksanakan tugasnya. Ketika banyak tersangka berkelit tidak mengakuinya namun tidak dengan Dewandaru, Dewandaru pasrah apapun keputusan dari pihak keluarganya, keluarga korban dan keputusan dari pengadilan mantinya.
Manggar menemui timnya, untuk mengetahui perkembangan kasus penculikan Violet yang telah di lakukan oleh Dewandaru.
"Bagaimana hasil penyidikannya?" tanya Manggar, pada timnya.
"Siap, komandan tidak masalah, pelaku telah mengakui semua kejahahatannya dengan jujur, pelaku juga mengatakan akan menerima apapun keputusan dari pengadilan nanti." lapor seorang polisi, tegas dan terperinci.
"Siapkan Segalanya, nanti sore jam lima kekuarga kirabn akan menemuinya." perintah Manggar tegas.
"Sampai saat ini apa keluarga tesangka belum ada yang datang?" tanya polisi.
"Kirban dan tersangka statusnya masih satu kekuarga, jadi nanti jam lima sore jangan lupa." perintah Manggar.
"Siap komandang, perintah kami laksanakan." jawab polisi tegas.
Setelah menemui timnya Manggar menelpon Abyas, untuk menemuinya di kantor polisi sekarang, Abyas yang mendapat perintah dari Manggar, dari rumah sakit segera meluncur ke kantor polisi.
Abyas ke kantor polisi seorang diri, Swasti memilih tetap tinggal di rumah sakit untuk menemani Widuri, dan Violet, Swasti bukan hanya khawatir tentang Violet saja, namun dia juga sangat menghawatirkan keadaan Widuri, karena sekarang Widuri sedang hamil muda, sangat rentan untuk keguguran.
"Mbak, bagaimana ini?" tanya Widuri, di sela isak tangisnya sambil teru memeluk Violat, yang tetap memejamkan matanya.
__ADS_1
"Semua akan baik-baik saja Wid, kita berdoa ya." ucap Swasti lembut penuh kasih.
"Aku, benar-benar takut mbak." keluh Widuri jujur.
Swasti memeluk dan membelai lembut Widuri sang bersandar di pundak Swasti.
"Kita harus kuat Wid, ingat ada buah cinta keluarga kita dalam perutmu, semua ini kita hadapi sama-sama." nasehat Swasti.
"Kira-kira siapa ya mbak yang tega melakukan semua ini pada Vi?" tanya Widuri di sela isak tangisnya.
"Kita, nunggu kabar dasi pihak kepolisian, nabru sore jam lima kita harus ke kantor polisi, bu Manggar, barusan memberi kabar." ucap Swasti.
Mobil Abyas, susah memasuki area kantor polisi, setelah memarkirkan mobilnya Abyas segera menemui Manggar, yang sudah menunggu keadangan Abyas.
"Assalamu'alaikum, selamat siang bu." sapa Abyas sopan setelah seorang polisi mempersilakan Abyas, masuk ke dalam ruangan Manggar.
"Wa'alaikum salam pak Abyas." sahut Manggar tegas dan tenang "Sebelumya saya ingin menanyakan sesuatu pada Pak, Abyas, Pak kenal dengan pemuda ini ?" tanya Manggar sambil menyodorkan foto Dewandaru, yang baru saja di ambil waktu Dewandaru, menjalani pemeriksaan barusan.
Abyas mengambil foto yang di ulurkan oleh Manggar padanya, Abyas sangat terkejut sekali begitu melihat foto Dewandaru.
"Apa yang anak saya lakukan di hutan kemarin, bu? kenapa Violet di temukan bersamaan dengan Dewandaru, putraku, atau jangan-jangan, jangan-jangan." Abyas tidak melanjutkan lagi.
__ADS_1
"Kami harap bapak jangan terkejut, benar itu putra bapak saudara Dewandaru adhinata?" tanya Manggar untuk memastikan lebih jelas lagi.
"Ya, benar Bu, dia putra saya Dewandaru Adhinata." jawab Abyas gugup sambil terus memandangi wajah Dewandaru yang sudah memakai seragam warna orange "Apa ada hubungannya dengan hilangnya Violet?
"pelaku penculikan Violet, adalah dia putra bapak sendiri, saudara Dewandaru , sudah mengakui semua di hadapan penyidik, kami tetap memberikan kesempatan pada keluarga tesangka mencari pengacara, untuk membela saat sidang nanti." ucap Mangar tegas.
"Apa? berita ini bohongkan Bu?" tanya Abyas, terkejut, terpukul melihat kenyataan yang ada di hadapannya.
"Saudara Dewandaru sudah mengakui semuanya di hadapan penyidik, sengaja saya meminta pak Abyas, datang sendiri agar bapak Abyas nanti bisa lebih bijak saat pertemuan nanti sore." ucap Manggar, tenang.
Abyas, menghembuskan nafas berat dan mengusap wajahnya kasar, Abyas benar-benar tidak menyangka Dewandaru, bisa melakukan perbuatan hina, mencoreng nama baik kekuarga.
"Boleh saya menemui Putra saya bu." pinta Abyas.
"Silakan pak, tapi tunggu sebentar, kami juga masih memberi kesempatan bagi keluarga tersangka menyewa pengacara untuk membelanya saat persidangan nanti." ucap Mangar, tetap tenang.
"Soal itu, akan kami pikirkan setelah kita melakukan pertemuan keluarga, terima kasih bu." ucap Abyas sopan.
(Hai readerku, tetap ikuti cerita di Gelora Noda dan Cinta, semakin Setu cerintanya)
__ADS_1