Gelora Noda Dan Cinta

Gelora Noda Dan Cinta
Part 59


__ADS_3

Dewandaru menatap langit-langit dalam kamarnya penuh kebahagiaan rasa sakit di tubuhnya tidak dia rasakan lagi yang ada justru sebuah kebahagiaan yang mendalam. Dewandaru menghubungi tuan tanah memberitahukan tentang kecelakaan yang menimpanya, selain memberitahukan pada tuan tanah Dewandaru, juga memberitahukan pada kawannya, kawannya berjanji akan segera terbang menjenguk Dewandaru. Di saat Dewandaru mulai sedikit mengantuk karena pengaruh obat yang di minumnya sebuah panggilan masuk nama Utari yang muncul.


"Assalamu'alaikum bu." sapa Dewandaru lemah.


"Wa'alaikum salam, Begini mas besok kamu harus ke kantor polisi, untuk melanjutkan kasus semalam." ucap Utari tegas.


"Apa wajib?" tanya Dewandaru masih lemah.


"Ya, wajib karena kamu yang jadi korban penjambretan." jelas Utari tegas.


"Sekarang aku terbaring di Klinik, tadi Aku kecelakaan dan lokasinya jauh dari kantor polisi, Bisakah kamu datang ke sini, aku tidak tahu harus minta bantuan siapa?" jelas Dewandaru.


"Ya Allah, baru semalam kejar-kejaran dengan perampok, sekarang malah jadi penghuni klinik beneran, siap amat nasibmu mas." sahut Utari mulai sedikit melunak.


"Ya, takdir, semua ini demi menemukan anak dan istriku, harus berjuang, istriku saja perjuangannya tidak mudah sudah seharusnya aku merasakan apa yang istriku rasakan." jelas Dewandaru.


"Kamu info alamatnya aku ke sana besok pagi sepulang dari kerja, hari ini aku shif malam, perlu di bawakan apa?" ucap Utari melunak


"Terima kasih, cukup bawakan makanan kesukaan Vi, saja itu sudah cukup." beber Dewandaru.


"Baiklah, segera sembuh, sampai jumpa besok." Utari mengakiri panggilan telponnya nama menaruh curiga dengan makanan yang Dewandaru sebutkan.


Dewandaru meletakan hand phonnya lambat laun mata Dewandaru sudah terpejam.


Aziz menemui Kirai yang sudah mulai membuka kembali buku pelajaran, sebelum anak-anak les yang lainnya datang.


"Uda Bundo, kok belum pulang?" tanya Kirai, menatap ke arah Aziz yang duduk di sampingnya.


"Nanti jam lima bundo pulang Dik," sahut Aziz, santai.


"Uda, kayaknya bu bidan kerusurupan deh?" tutur Kirai.

__ADS_1


"Ada-asa saja kamu ini Dik, tidak mungkin." sangkal Aziz.


"Uda tahu gak tadi siang bu bidan bisa menghabiskan semua makanan yang ada di meja makan, jangan-jangan benar yang di katakan bu bidan ganti pohon tadi ikut kita dan masuk ke tubuh bu bidan hi hi hi." tutur Kirai bersungguh-sungguh.


"Jangan menghayal yang aneh-aneh." sahut Aziz, menyangkal tuduhan Kirai, pada Violet.


Padahal Aziz sendiri sebenarnya juga merasakan keanehan dan ketidak wajaran dengan kelakuan Violet, yang bisa berubah dalam waktu sekejap. Aziz termenung memikirkan ucapan Kirai, dan kejadian barusan di dapur.


Kehadiran pak Lurah, bu Lurah, Uni Saidah dan Lingga membuyarkan lamunan Aziz, Lingga nampak tidur pulas dalam gendongan bu Lurah, sedang uni Saidah membawa barang bawaannya, Aziz segera mengambil alih Lingga, di bawanya Lingga masuk ke dalam rumah pak Lurah dan ditidurkan di kamar Aziz. Pak Lurah dan yang lainnya membersihkan diri setelah menghadiri hajatan saudara di luar kecamatan.


"Bagaimana keadaan pak Ndaru Ziz?" tanya pak Lurah yang sudah duduk di sebelah Aziz.


"Lukanya parah, tangan dan kakinya sulit untuk digerakkan." sahut Aziz, jujur.


"Lalu?" tanya pak Lurah lagi.


"Pak Ndaru tidak mau di bawa ke rumah sakit, seperti yang saya ceritakan di telpon tadi, dan entah kenapa ada keanehan pada bu bidan, saat menghadapi pak Ndaru sikap bu bidan dingin dan ketus, namun saat bicara dengan yang lain biasa-biasa saja, dan kata Kirai tadi bu bidan menghabiskan seluruh makanan yang di masak bundo dan uni." Pak Lurah mendengarkan cerita Aziz, secara seksama." Dan lagi apa pohon yang di tabrak pak Ndaru ada hantunya?" tanya Aziz, gamang.


"Maksudmu?" timpal pak Lurah.


"Kalau lokasi tempat pak Ndaru kecelakaan itu aman, kalaupun ada makluk halus itu tidak ganas." jelas pak lurah.


"Tapi bu bidan makan seperti orang kesurupam lo pak, Saya lihat sendiri, sekarang takut mau dekat bu bidan." sahut Kirai meyakinkan asumsi Aziz.


"Kalian itu aneh-aneh saja, soal makan bukan karena bu bidan kesurupan mungkin ada yang membuatnya setres, dulu ayahnya pernah bilang ke bapak jika bu bidan memiliki nafsu makan bertambah jika dalam keadaan jiwanya terganggu, depresi." jelas pak Lurah.


"Lalu?" tanya Aziz penasaran.


"Tidak apa-apa hanya makannya saja yang bertambah soal yang lain baik-baik saja, cuma apa yang membuat bu bidan seperti ini?" tutir pak Lurah.


"Aziz juga gak tahu pasti Pak, yang Aziz tangkap saat merawat pak Ndaru sikap bu bidan berubah." jelas Aziz.

__ADS_1


"Entahlah, kita selidiki saja, semoga tidak berlarut-larut, bapak mau melihat pak Ndaru." pamit pak Lurah.


"Pak Ndaru sedang tidur pengaruh obat yang di berikan bu Bidan tadi," tutur Aziz.


"Kalau begitu biar aku temui bu Bidan, saja siapa tahu bu Bidan perlu bantuan." ucap Pak Lurah tetap pergi meninggalkan Aziz dan Kirai yang sedang mengerjakan tugas.


Violet sudah menyelesaikan masakannya semua menu sudah tersedia dan tertata rapi di atas meja, bahkan Violet juga sudah bersantai dengan di temani Uni Saida, duduk di ruang tunggu klinik sambil menonton televisi, sebab di klinik ada pasien tidak ada yang menunggu maka Violet dan uni Saida selalu siaga di klinik.


"Uni maaf tadi masakannya habis." cicit Violet tidak enak.


"Tidak apa, sekarang bu Bidan juga sudah masak, pasti enek ini masakannya." puji Uni Saidah.


"Hanya masakan orang jawa Uni, semoga Uni dan yang lainnya suka." sahut Violet "Tadi Lingga, bagaimana rewel tidak?" tanya Violet.


"Lingga sangat senang sekali tadi, rewel banyak yang grmas di mobil juga anteng, tidurnya baru tadi waktu di mobil." bohong Uni Saida.


"Uni katakan saja jika Lingga hari ini rewel, maaf merepotkan Uni, Ibu dan bapak." ucap Violet, seolah tahu apa yang mereka sembunyikan darinya.


"Assalamu'alaikum." Pak Lurah datang dan mengucap Salam.


"Wa'alaikum salam." sahut Violet dan uni Saidah bersamaan.


"Silakan duduk pak." sambut Violet ramah.


"Bagaimana pasien yang kecelakaan itu?" tanya pak lurah penasaran.


"Sedikit parah Pak, namun saya masih bisa mengatasinya, dan pasiennya juga tidak mau di bawa ke rumah sakit." tutur Violet.


"Bagaimana dengan kamu sendiri bu Bidan?" tanya pak Lurah.


"Saya baik-baik saja Pak." sahut Violet cepat "Lingga apa masih tidur pak?" tanya Violet yang sudah kangen dengan Lingga.

__ADS_1


"Lingga masih tidur, biarkan saja mungkin dia capek," jelas pak Lurah."Oh ya untuk pasien yang baru masuk tadi, nanti malam biar aku dan Aziz, yang menjaganya karena di sini dia tidak memiliki keluarga yang dekat." jelas pak Lurah.


"Biar saya dan Uni Saida saja yang menjaganya Pak, ini tanggung jawab saya sebagai tenaga medis, tolong titip Lingga selama pasien masih di rawat di sini." Violet, menolak halus tawaran pak lurah.


__ADS_2