Gelora Noda Dan Cinta

Gelora Noda Dan Cinta
Part 53


__ADS_3

Dewandaru dan tuan tanah menemui pak Lurah yang berada di kantor balai desa, kedatangan tuan tanah untuk bersilaturohim sebelum pembangunan di mulai, dan juga untuk segera mengurus ijin pembangunan.


"Ini pak contoh desain tempat istirahat yang akan saya bangun, selain ada beberapa bangunan vila juga ada tempat bermain."


Tuan tanah menunjukkan desainnya lewat komputer sedangkan Dewandaru, menjelaskan semua dengan terperinci sehingga beberapa perangkat desa yang ikut dalam pertemuan tersebut mengagumi semua desain-desain Dewandaru.


"Sebagai kepala desa tentu saya sangat senang dengan dibangunnya tempat wisata di desa ini, namun saya tetap berharap agar tuan tetap menjaga keaslian alam di desa ini." tutur pak lurah sopan dan tegas.


"Desa ini sangat terpencil dan masyarakatnya masih terlalu primitif, jadi saya harap Tuan juga bisa mematuhi aturan di desa ini agar kita semua selamat." pesan pak Lurah pada Tuan tanah.


"Sebagai orang luar saya sangat senang sekali jika ada yang membimbing kami, semoga proyek kita ini bisa segera terealisasi, seta bisa membantu meningkatkan perekonomian masyarakat sini." sahut Tuan tanah sopan.


"Sebisa mungkin kami akan membantu Tuan, tahun ini merupakan tahun keberuntungan di desa kami, setelah sekian tahun tidak ada bidan yang mau bertugas di desa ini, sejak dua bulan yang lalu Bidan juga sudah ada, sambutan masyarakat juga cukup baik, sekarang Tuan juga masuk dengan membawa kabar gembira." ungkap kepala desa penuh kebahagiaan.


"Kalau begitu suatu keberuntungan juga buat saya, pasalnya beberapa bulan yang lalu saat saya ke sini belum ada Bidan, bagus sekali kalau begitu menambah kenyamanan bagi kami semua." sahut Tuan tanah bahagia.


"Desainnya sangat bagus penuh makna, anda anak muda yang berbakat." puji pak Lurah, begitu mihat hasil desain Dewandaru.


"Terima kasih atas pujiannya pak, saya baru saja terjun di bidang ini Pak dan tentu masih banyak kekurangannya, dan ini merupakan proyek kedua saya, jika bapak membutuhkan desain-desain saya bapak bisa datang di kantor kami yang ada di kota ini, dan saya sendiri yang menghandelnya." jelas Dewandaru sambil mengeluarkan kartu nama menyerahkan pada pak Lurah, serta staf lainnya.


"Dewandaru, asli jawa?" tanya pak Lurah, setelah membaca kartu nama Dewandaru "Berarti ini kantor yang baru di buka sebulan yang lalu ya?" imbuh pak Lurah.


"Benar tuan." sahut Dewandaru sopan.


"Bagaimana tanggapan kak Dewandaru, tentang desa ini seperti yang saya paparkan tadi, desa ini masih tergolong primitif, jadi sangat jauh berbeda dengan kota, kami harap anak muda seperti kak Dewandaru, bisa ikut andil dalam perubahan desa kami, seperti yang kak Dewandaru lihat jika desa ini dan masyarakat masih sangat juah tertinggal." imbuh pak Lurah lagi.


"Saya pribadi sangat tertarik dengan desa ini, saya rasa banyak keunikan yang bisa di gali, sebisa mungkin saya akan ikut andil, karena saya terlibat langsung dengan proyek ini." jelas Dewandaru, sopan.


Pertemuan antara tuan tanah dan Pak Lurah berjalan cukup lama, dari jam satu siang hingga jam tiga sore, pak lurah mengantar tamunya keluar dari ruangan, ternyata di luar ada Aziz, yang sedang menggarap tugas di balai desa.


"Ziz, kamu belum pulang?" tanya Pak Lurah begitu melihat Aziz, yang masih berkutat dengan komputernya.


"Pak, masih ada tugas pak." sahut Aziz, tanpa menoleh ke raja sumber suara.

__ADS_1


"Ziz, kemari kenalkan Tuan tanah." panggil pak lurah.


Mendengar panggilan dari Pak Lurah Aziz, langsung mendongak memandang ke arah sumber suara, Aziz segera menutup laptopnya, berdiri menghampiri pak Lurah beserta tamunya.


"Senang bertemu dengan Tuan , kita berjumpa lagi." sambut Aziz, ramah.


"Dia putra sulung saya, kalian sudah pernah bertemu?" tanya Pak Lurah penasaran.


"Kami bertemu di lahan tadi," sahut Aziz jujur.


"Desain-desain nak Dewandaru itu sangat bagus unik, modern namun tetap menonjolkan segi tradisionalnya juga." jelas Pak Lurah, yang selalu memuji Dewandaru.


"Jika kak Aziz, tidak keberatan saya bisa minta nomor telpon kak Aziz, semoga kita bisa menjadi saudara kebetulan di kita ini saya tidak memiliki sanak saudara, kedepannya tugas saya di kota ini dalam jangka waktu yang tidak ditentukan," ucap Dewandaru sopan.


"Dengan senang hati mas." sahut Aziz hangat.


Lingga di rumah bersama dengan Kirai, keduanya bermain di teras karena keduanya juga sudah mandi.


"Kiki, Lingga, ayo makan." panggil Uni Saidah.


Aziz datang bersamaan dengan Pak lurah.


"Ayah dan Uda, pulang!" seru Kirai girang.


Lingga girang sekali begitu melihat Aziz, datang Lingga, langsung menyongsong Aziz, mendapati Lingga sudah ada di hadapannya Aziz, segera menggendong Lingga, penuh kasih sayang, keduanya bak anak dan bapak.


"Lingga kok gednong om, om-nya kan capek, ayo turun sayang!" perintah Violet yang mengetahui Lingga dalam gendongan Aziz.


"Bialin." sahut Lingga polos.


"Tidak apa bu, lagian juga tidak tiap hari." sahut Aziz, sopan.


Aziz menggendong Lingga masuk rumah, Kirai juga mengikuti langkah Aziz, menuju rumahnya.

__ADS_1


"Aziz sangat cocok sekali menggendong anak, sayangnya dia beluk bertemu dengan jodohnya." ucap Uni Saida.


"Bila sudah Saatnya bertemu dengan Jodohnya pasti ketemu Uni." sahut Violet.


Violet kembali masuk ke dalam klinik kebetulan hari ini ada pasien yang baru masuk, dan harus rawat inap.


"Mama." seru Lingga yang sudah berada di pintu klinik, bersama dengan Aziz, dan Kirai.


"Sayang, sama siapa?" tanya Violet basa-basi.


"Om." sahut Lingga polos.


"Maaf Uda, sudah sangat merepotkan." ucap Violet sungkan.


"Tidak mengapa Bu, saya sangat senang dengan adanya Lingga, di sini membuat kami semakin bahagia, terutama Kirai, dia tidak secengeng dulu lagi." ujar Aziz.


Violet, kembali berkutat dengan pekerjaannya sedangkan Aziz, dengan sabar menemani Lingga menghabiskan senja di teras rumah sambil mengajari anak-anak kampung yang kesulitan dalam mengerjakan tugas sekolah.


Lingga menikmati hari-hari-nya sangat bahagia, di tempat ini Lingga bebas berkreasi, ketika yang lain sedang belajar mengerjakan tugas, Lingga dengan kemahirannya menggambar dia menggambar beberapa bentuk rumah, hewan maupun orang. Hasil dari gambaran Lingga sungguh sangat memukau, siapapun yang melihat gambaran Lingga mereka selalu memujinya.


"Om, lihat Ingga punya gambal bagus." Lingga memamerkan gambarannya pada Aziz.


"Bagus sekali, coba bisa gambar rumah mama gak, kalau Lingga bisa gambar rumah mama yang itu, nanti om kasih hadiah buku gambar sama pensil warna." tantang Aziz, pada Lingga.


"Janji." ucap Lingga girang.


"Janji." sahut Aziz, meyakinkan.


"Uda, hadiah buatku mana?" Kirai tidak mau kalah dengan Lingga.


"Boleh, Ki asal kamu bisa mengerjakan soal ini sendirian." Aziz, ganti memberi tantangan pada Kirai.


"Saya pak guru!!" seru beberapa nama yang ada di teras rumah pak Lurah.

__ADS_1


"Siapa yang rajin datang ke sini untuk belajar pak guru kasih hadiah, yang paling rajin hadiahnya ping banyak." ujar Aziz.


"Baik pak guru." sahut semua anak-anak serempak.


__ADS_2