
Dewandaru mengendarai mobil orang tuanya, di dalam mobil mereka saling bercanda, walau Dewandaru sedikit kesal dengan orang tuanya namun Dewandaru tetap bersikap sopan dan hormat pada kedua orang tuanya. Arda bocah kecil itu terus berulah Arda tidak segan-segan bermanja pada Dewandaru, Dewandaru sendiri sangat menyayangi dan memanjakan Arda. Sebuah mobil Avanza hitam yang mereka tumpangi telah memasuki halaman rumah mereka. Widuri begitu tahu siapa yang datang dia segera menghampiri mobil tersebut, Widuri segera menggandeng Arda, sedangkan Dewandaru dan Abyas membantu Swasti untuk turun dari mobil.
Mereka semua langsung masuk rumah, karena hari juga sudah sangat petang mereka hanya mencuci tangan dan segera menyantap makan malam bersama, selesai makan malam semua masuk kamar masing-masing. Setelah membersihkan diri Dewandaru merebahkan tubuhnya di atas ranjang sambil menatap langit-langit di kamarnya, kamar itu terasa kosong hanya dirinya yang di hiasi sebuah foto Violet dan Lingga, foto itupun dia peroleh dari hand phone orang tuanya. Selama ini Dewandaru memilih membantu menjalankan bengkel kedua orang tuanya sambil mengorek informasi dari orang tuanya dan pembantunya tentang keberadaan Violet dan Lingga namun nihil . Pikiran Dewandaru melayang, Dewandaru benar benar buntu pasalnya Dewandaru tidak tahu siapa Violet yang sebenanrnya dan siapa saja temannya, Dewandaru berkali-kali mendesak orang tuanya namun tidak berhasil.
''Pa,Ma.'' Dewandaru sudah berdiri di depan pintu kamar kedauĀ orang tuanya.
''Masuk Nda!'' perintah Swasti dan Abyas dari dalam kamar mereka.
Dewandaru segera masuk, Dewandaru melihat kedua orang tuanya yang terlihat bahagia walau harus berbagi cinta kasih dengan wanita lain.
''Duduk sini Nda!'' perintah Swasti yang paham akan situasi anaknya.
''Maaf mengganggu, Yah, Ma, bagaimana keadaan anak dan istriku?'' Tanya Dewandaru dengan wajah penuh kekawatiran.
''Semua baik-baik saja,'' sahut Abyas datar.
''Yah, Ma, Ndaru paham apa yang Mama dan Ayah inginkan, Ndaru hanya igin memberitahu Ayah dan Mama, bahwa lusa Ndaru akan pergi ke kantor teman Ndaru, untuk saat ini Ndaru akan bekerja dan mencari keberadaan anak dan istriku.'' pamit Dewandaru langsung pada intinya.
''Ayah dan Mama tidak bisa mencegahmu, kamu laki-laki dewasa pasti sudah tahu mana yang baik dan mana yang buruk,'' ucap Abyas.
''Kemana, akan bekerja di mana dan dalam bidang apa?'' tanya Swasti, ingin tahu.
__ADS_1
''Kebetulan ada lowongan pekerjaan di kantornya temanku, ada lowongan arsitek kemarin sudah aku layangkan lamaran serta aku kirimkan contoh desain sesuia dengan permintaannya dan pihak kantor langsung menerima, letak kantornya ada di luar kota, Ndaru minta doa restu dari Ayah dan mama, Ndaru pasti menemukan Anak dan istriku walau Ayah dan Mama tidak memberitahuku.'' terang Dewandaru penuh keyakinan.
''Ayah restui kamu seorang laki-laki dan kepala keluarga tidak boleh lemah,'' pesan Abyas tegas.
''Kejarlah, apa yang kamu inginkan ayah dan Mama restui keputusanmu, kembalikan keutuhan keluarga kita, maafkan kami." ucap Swasti sedih.
''Jangan lupa selalu minta petunjuk dari Allah, jika kamu bersungguh-sungguh Ayah yakin, Allah akan memlersatukan kalian dengan cara yang benar dan bermartabat." nasehat Abyas berwibawa.
"Inshaallah Yah, Ma, maafkan Ndaru, mungkin Ndaru tidak bisa menemani kalian kemungkinan besar proyek yang di tawarkan oleh perusahaan berada di luar pulau, dan jika menwnuhi syarat Ndaru akan di tempatkan di kota tersebut." jelas Ndaru.
"Restu kami selalu bersamamu Nda, sampai kapanpun kami selalu menyayangimu, bahagianya jika mama bisa melihat kalian bisa bersama, luluhkan hati menantu mama dengan caramu sendiri." pesan Swasti penuh harap.
"Baik Yah, aku mau mau pamit sama bunda dan Arda, Ayah dan Mama istirahat, terima kasih maafkan Ndaru yang sudah mengecewakan Ayah dan Mama." pungkas Dewandaru.
Swasti dan Abyas bergantian memeluk erat Dewandaru, airmata jatuh dari manik mata Swasti, rasa haru sudah tidak bisa di bendung lagi. Selesai mengutarakan niatnya pada orang tuanya Dewandaru menemui Widuri dan Arda di kamarnya dengan ditemani oleh Swasti. Mereka bertiga ngobrol santai karena Arda sudah tidur.
"Bun, minta doa restunya lusa aku mau bekerja di kantor temanku yang ada di luar kota, titip Mama dan Ayah, kemungkinan aku tidak bisa pulang terlalu sering." ucap Dewandaru langsung pada intinya.
"Inshaallah, jaga diri baik-baik Bunda hanya bisa mendoakan, bawa kembali Vi dan Lingga, maafkan keegoisan Vi." ucap Widuri.
"Inshaallah Bunda, maafkan kesalahanku, aku akan berusaha untuk membawa mereka kembali pulang." ucap Dewandaru bersungguh-sungguh.
__ADS_1
"Doa kami menyertaimu Nda, berangkatlah maafkan kami tidak bisa memberitahumu tentang keberadaan anak dan istrimu." ucap Swasti meyakinkan keputusan Dewandaru.
"Aku paham apa yang dilakukan istriku, aku akan membawa mereka kembali ke tengah-tengah keluarga kita." ucap Dewandaru bersungguh-sungguh.
"Jika kamu benar-benar mencintai anak dan istrimu perjuangkan mereka, bawa mereka di tengah-tengah kami." pinta Swasti tulus penuh harap.
"Aku pasti membawa mereka kembali." ucap Dewandaru semakin bersungguh-sungguh.
Dewandaru merasa lega setelah mendapat restu dari seluruh keluarganga, walau Dewandaru benar-benar tidak tahu kemana dia harus pergi mencari keberadaan anak dan istrinya. Putus asa bukan sifat Dewandaru, melalui akun media sosial Dewandaru berupa ya mencari jejak anak dan istrinya sayangnya juga tisak membuahkan hasil.
"Ayah, mama entah apa yang ada dakam pikiran kalian kenapa kalian begitu rapiebyembubyikan anak dan istriku dariku begitu rapat." gumam Dewandaru sambil mengemas barang yang akan dia bawa bekerja.
Semalaman Dewandaru terus memikirkan bagaimana caranya untuk menemukan anak dan istrinya. Dewandaru benar pergi ke luar kota sendirian Dewandaru, menyewa sebuah kamar kos sederhana yang letaknya dekat dengan kantornya, di hari pertama bekerja Dewandaru langsung mendapat proyek desain rumah pribadi tiga lantai.
Dewandaru langsung di ajak menuju lokasi yang akan di renovasinya, tanpa Dewandaru ketahui jika rumah tersebut merupakan rumah yang pernah di sewa oleh Swasti, selama Violet berobat dan menempuh pendidikan.
"Selamat, Ndaru pelangganku sangat puas dengan contoh desain-desainmu, jika proyek kali ini sukses pelangganku juga akan menggunakan jasamu untuk membangun sebuah villa di luar pulau, handel kantorku yang ada di sana." ucap Austin, teman sekaligus bos Dewandaru.
"Terima kasih Tin, kamu baik sekali masih mempercayai dan menerimaku tanpa memandang statusku." ucap Dewandaru senang.
"Aku sudah tahu luar dalam kamu Nda, tidak ada manusia yang sempurna, semua pasti pernah melakukan kesalahan aku saja masih enggan untuk taubat, bagaimana bisa aku mencela kamu yang notabennya hanya melakukan kesalahan kecil." ucap Austin, tulus.
__ADS_1