
Abyas sangat terkejut hingga tidak bisa bicara melihat pemandangan di balik layar hand-phonnya.
"Vi," tutur Abyas pada akirnya.
"Kemarin kak Ndaru kecelakaan di kampung dekat Vi praktek, sebenarnya kak Ndaru, melarang Vi, untuk mengabari Ayah, Vi, takut Ayah dan mama kawatir tentang kak Ndaru, karena kak Ndaru tidak pernah menerima panggilan dari mama," jelas Violet.
"Ya, dari kemarin Mama kalian mengeluh, perasaannya tidak enak, bagaimana ceritanya kok bisa kecelakaan, sebenarnya Ayah sedih melihat kondisi Ndaru, namun Ayah bahagia melihat Lingga, bisa merasakan kehadiran ayah kandungnya, tolong jaga dan rawat Ndaru, setelah ini Ayah akan segera pesan tiket, kami akan ke sana." ucap Abyas antara bahagia dan sedih.
"Ayah, jangan bilang ke kak Ndaru kalau Vi, yang mengabari dan jangan kasih tahu mama kalau kak Ndaru, kecelakaan Vi, tidak ingin mama jatuh sakit." tutur Vi, penuh harap.
"Kamu jangan kawatir, hampir setengah tahun kita berpisah, rencananya bulan depan kami mau jenguk kalian, kalau besok ada tiket kami segera datang." tutur Abyas.
"Terima kasih Ayah, Vi, akan merawat dan menjaga kak Ndaru, dengan baik sebagaimana Ayah dan mama menjaga dan merawat Vi, dan mbak Wid, selama ini."
"Sudah tugas dan tanggung jawab kami untuk bertanggung jawab atas kalian, kalian bagai nafas baru dalam kehidupan kami, kami sangat merindukan kalian." tutur Abyas sopan.
"Ya sudah Ayah, Vi tutup dulu, mau menyuapi Lingga dan kak Ndaru, assalamu'alaikum Ayah, ayah jaga kesehatan."
"Wa'alaikum salam, terima kasih V, jaga diri kalian baik-baik." tutur Abyas, tidak bisa menyebunyikan rasa bahagianya.
"Alhamdulillah," Abyas benar-benar bersyukur atas nikmat yang baru saja di dapat.
Abyas masih belum percaya melihat Dewandaru, tidur bersama dengan Lingga, dengan nyenyak.
"Kang Suro!" Abyas memanggil Suro yang lagi membenahi mobil.
"Ya Bos, wajah bos kelihatan bahagia sekali ada berita apa?" tanya Suro menghampiri Abyas.
"Tolong jaga bengkel, Aku akan membawa keluargaku menjenguk anak dan cucuku, kang Suro, tahu Dewandaru sudah bertemu dengan Lingga dan Vi." tutur Abyas, tidak bisa menyebunyikan rasa bahagia.
"Alhamdulillah, semoga mereka bisa membina rumah tangga yang sempurna." tutur Suro tidak kalah bahagia.
__ADS_1
"Alhamdulillah, kang, aku mau cek ticket jika besok ada penerbangan aku akan segera bertemu dengan Mereka." tutur Abyas sangat bahagia.
Abyas segera menghububgi agen tiket pesawat melalui panggilan telpon, sedangkan Suro, kembali melakukan pekerjaannya.
Violet setelah membangunkan Lingga dan Dewandaru, Violet membantu mereka berdua untuk menikmati makan siangnya bersama.
Wajah Dewandaru, nampak sangat bahagia sekali, apalagi Lingga selalu bermanja padanya.
Sepulang sekolah Kirai, menuju klinik Violet, untuk mencari Lingga.
"Dik Lingga!" seru Kirai dari luar klinik.
"Dik Lingga di sini, masuk saja kak!" seru Violet dari dalam ruangan tempat Dewandaru di rawat.
"Kak Kiki, aku punya kakak baik di sini.!" Lingga ikut-ikutan berseru bahagia.
"Aku cari dari tadi dik." seru Kirai "Dik Lingga kenal dengan om ini?" tanya Kirai penasaran.
"Masa iya, ngapain bu polisi jenguk Libgga, memangnya Lingga sakit." goda Kirai, walau dia juga kurang percaya dengan ucapan Lingga.
"Bu polici itu, temannya mamaku dan kakak baikku." pamer Lingga, membuat Kirai sedikit tidak suka karena tidak bertemu dengan Utari, polisi yang di maksud oleh Lingga.
"Kak Kirai suka dengan bu polisi yang Lingga maksud?" tanya Violet yang paham akan ekpresi wajah Kirai.
"Suka sekali bu Bidan, bu Polisinya baik sekali, bu Bidan jadi benar yang di ucapkan dik Lingga?" tanya Kirai penasaran dengan ucapan Lingga tadi.
"Iya kak, kalau kak Kirai mau ketemu bu polisi, nanti biar Lingga yang telpon." bujuk Violet.
"Janji." Kirai meminta Violet untuk berjanji.
"Janji Kak." Violet, berjanji dengan sungguh-sungguh "Kenapa kak Kirai ingin sekali bertemu dengan bu polisi?" tanya Violet penasaran.
__ADS_1
"Jika aku besar aku ingin menjadi polisi, aku ingin tanya banyak bagaimana agar bisa menjadi polisi." sahut Kirai, jujur dan polos.
"OK, kalau begitu biar bu polisi kesini pas kak Kirai libur." Ratu Violet.
"Yeahhhhhh.... !" Kirai berseru sangat gembira sekali.
Dewandaru diam sana sekali tidak nenimpali obrolan Lingga, Violet dan Kirai, Dewandaru senang sekali bisa melihat Violet, tersenyum bahagia meski bukan dengan dirinya.
Kirai dan Lingga menemani Violet dalam merawat Dewandaru, hingga selesai, canda tawa menghiasi kamar Dewandaru. Violet, sangat professional walau Violet masih membenci Dewandaru, namun sebagai seorang tenaga medis, Violet, tetap merawat Dewandaru, dengan baik, dan sebagai seorang ibu Violet, juga bisa sedikit menepis egonya.
Violet, tetap memberi kesempatan Dewandaru untuk bersama dengan Lingga, ikatan batin cinta kasih yang tulus untuk anaknya membuat Lingga sangat nyaman saat bersama dengan Dewandaru, seperti sekarang dari pagi hingga siang Lingga, sangat betah berada di kamar Dewandaru.
Selesai merawat Dewandaru Violet, meninggalkan Dewandaru yang masih bersama dengan Lingga dan Kirai. Violet kembali ke ruang prakteknya karena ada pasien yang harus ditanganinya.
Seorang wanita setengah baya dengan usia kandungan yang sudah sembilan bukan lebih, dalam artian sudah waktunya untuk melahirkan.
"Sudah saatnya ibu melahirkan, sebaiknya ibu menginap di klinik, bayi ibu maju lebih awal, sekarang sudah bukaan empat" Violet menjelaskan pada pasien tersebut.
"Baik bu biar peralatannya saya ambil, dan soal biaya bagaimana bu, maaf.... " suara lelaki itu terputus.
"Bapak dan ibu tidak usah khawatir, data bapak dan ibu sudah saya ajukan ke desa agar bapak dan ibu mendapat jaminan kesehatan." tutur Violet dengan senyum ramah.
Violet membawa pasien tersebut ke kamar yang ada di sebelah Dewandaru, baru saja pasien pertama beristirahat sudah datang wanita muda dengan usia kandungan yang lebih muda namun dari wajahnya terlihat menahan rasa sakit yang tudak bisa ukirkan dengan kata-kata.
Violet dengan sigap segera menangani pasien berikutnya, karena Violet membutuhkan bantuan Violet, meminta bantuan Kirai, untuk memanggilkan Aziz, bu Lurah dan Uni Saidah.
Hanya dalam waktu Lina menit Kirai sudah kembali dengan orang do maksud.
"Ada yang serius bu Bidan?" tanya mereka bertiga, tegang.
"Uda Tong bantu saya pindahkan pak Ndaru, ke kamar saya karena ada dua pasien yang ingin melahirkan, Uni dan Ibu tolong temani mbak ini sebentar, dia segera melahirkan biar saya siapkan ruang inapnya." tutur Violet, sopan.
__ADS_1
Uni Saidah dan bu Lurah mengerjakan apa yang Violet pinta, sedangkan Aziz dalam hati bertanya, tentang Dewandaru yang di pindah ke kamar pribadinya, Aziz juga belum menyadari kedekatan Dewandaru dan Lingga, Aziz hanya menjalankan perintah karena memang sangat genting, kamar inap di klinik hanya ada dua sedangkan ada dua wanita yang akan melahirkan.