Gelora Noda Dan Cinta

Gelora Noda Dan Cinta
Part 73


__ADS_3

''Vi, terima kasih kamu tidak membenciku seperti yang aku takutkan selama ini, Aku sangat merindukan kalian,'' air mata Dewandaru ikut menetes membasahi pipinya.


''Apa Kakak membenciku, sebagaimana Aku membenci Kakak beberapa tahun ini?'' tanya Violet lirih.


''Aku tidak pernah membecimu, aku justru membenci diriku sendiri, aku yang seharusnya melindungimu namun Aku telah menorehkan luka terdalam dalam hidupmu, maafkan Aku Vi, Aku tidak akan bosam untuk minta maaf padamu, Vi, ijinkan Aku untuk menebus semua kesalahanku tempo dulu,'' ucaop Dewandaru penuh permohonan.


''Apa kita bisa memulai hidup yang baru kak? Vi, ingin Lingga bahagia seperti anak pada umumnya memiliki keluarga yang lengkap,'' pinta Violet lirih karena tidak ingin mengusik tidur Lingga yang sudah pulas.


''Bisa, kita pasti  bisa, aku ingin sekali hidup seperti ayah dan mama, mereka berdua saling melengkapi dan mendukung.'' tutur Dewandaru lembut.


Dewandaru memegang tangaan Violet erat, seolah tidak mau berpisah, keduanya tidak berucap hanya saling pandang penuh makna, suasana malam yang begitu sunyi menambah kesahduan mereka berdua, setelah berpisah beberapa tahun lamanya dan tanpa kata, baru kali ini antara mereka berdua berbicara dari hati ke hati, buah kesabaran doa serta usaha Dewandaru dalam memperjuankan cintanya pada Violet, walau cintanya tumbuh setelah menorehkan luka terdalam dalam hidp Violet.


Malam semakin larut karena terlalu bahagia Dewandrau sampai tidak bisa memejamkan mata, Dewandaru terus memandangi wajah Violet yang sedang tertidur lelap sambil memeluk  Lingga, wajah teduh Violet mampu menghipnotis Dewandaru, Dewadaru masih belum percaya jika sekarang Violet mau memaafkan dan menerima Dewandaru sebgaia suami.

__ADS_1


Jika Dewandaru tidak bisa tidur karena menikmati pemandangan keteduhan wajah sang istri beda dengan Aziz, Aziz  tidak bisa tidur sebab masih terbayang kejadian tadi sore, bayangan itu terus berputar dalam otaknya seperti kaset yang terus menggulung, acara televisi yang di tonton Aziz juga belum bisa mengusir bayangan tadi sore, mata Aziz melihat acara televisi namun pikirannya masih terbayang kejadian tadi sore.


Hingga tengah malam tiba Utari tetap terlelap dalam mimpimya, Aziz sesekali melihat pintu kamar yang di tempati Utari serta terus memeriksa makanan yang belum di sentuh oleh Utari, sekitar jam tiga dini hari Utari terbangun keadaan rumah sudah sangat sepi dan gelap Aziz, juga sudah terlelap dalam mimpinya di kasur lantai depan televisi, sekarang bukan Aziz yang melihat televisi melainkan telavisi yang melihat Aziz yang sedang terlelap dalam mimpimya.


Utari jalan pelan-pelan untuk menuju kamar mandi namun tidak tahu di mana letak saklar lampu dapur karena semua lampu mati hanya televisi yang menyala sehingga membuat penglihatan Utari tidak bisa melihat dengan jelas, akirnya Utari asal menyalakan lampu dan yang menyala lampu depan televisi, begitu lampu menyala Aziz, lagsung terabangun dan melihat Utari yang masih memakai pakian tadi berdiri di dekat pintu dapur.


''Maaf, uda saya mau ke kamar mandi tapi tidak tahu saklar lampu dapur yang mana.'' ucap Utari merasa tidak enak karena sudah mebuat Aziz terbangun.


"Terima kasih Uda." Utari menuju kamar mandi tanpa menunggu jawaban dari Aziz.


Aziz, kembali tidur lagi mengingat waktu juga masih sangat petang, dan Aziz juga masih merasakan kantuk yang amat sangat berat, mengingat Aziz, baru bisa memejamkan mata sejam yang lalu.


Tiga puluh menit berlalu Utari keluar dari kamar mandi, namun Utari tidak langsung masuk ke kamar karena cacing dalam perutnya meronta, Utari duduk di salah satu bangku yang ada di dapur sambil merenungkan bagaimana bisa dia bisa pindah tidur di dalam kamar, Utari merasa aneh bagaimana bisa dia berada di dalam kamar sedangkan terakir yang dia ingat sore tadi dalam perjalan pulang dari jalan-jalan bersama dengan Violet dan yang lainnya.

__ADS_1


"Kalau sekiranya lapar makan saja,'' perintah Aziz, yang sudah berdiri di pintu dapur.


''Aku memang lapar,'' sahut Utari ketus.


''Kamu tidak ingin berterima kasih padaku karena aku yang telah mengangkatmu dari mobil ke kamar,'' celetuk Aziz , tiba-tiba.


Mulut utari mengaga lebar begitu mendengar pengakuan dari Aziz, terkejut tentu Utari sangat terkejut sekali namun Urati masih belum percaya begitu saja.


''Aku tahu jika kamu tidak percaya namun itu kenyataannya, tidak mungkin kan kamu di seret anka-anak atau Violet.'' jelas Aziz, dingin..


''Mana buktinya?'' tanya Utrai masih ketus.


Aziz mengedikkan bahunya tanpa mau menjawab pertanyaan Utari, lalu pergi begitu saja tanpa menghiraukan Utari dengan keterkejutannya.

__ADS_1


__ADS_2