
Swasti terbaring lemah tidak bedaya di atas bankar rumah sakit, Swasti tidak henti-hentinya menangis Swasti, masih belum bisa percaya dengan semua tragedi yang terjadi secara bersamaan menimpa keluarganya saat ini. Swasti terus menangis dan berdoa pada Tuhan mohon ampunan untuk dirinya sendiri dan keluarganya.
Pintu kamar inap Swasti di ketuk, dua petugas polisi masuk mengantar Dewandaru, untuk menemui Swasti. Dewandaru, langsung menyonsong dan memeluk Swasti dengan tangis penuh penyesalan.
"Maafkan Ndaru, Ma, maafkan Ndaru." Dewandaru terus menangis dalam pelukan Swasti.
Swasti tidak bisa berkata apa-apa selain menangis tersedu-sedu, mereka menangis dan berpelukan hingga beberapa saat.
"Maafkan Ayah dan Mama, sayang karena ketidak jujuran mama, sehingga bisa menjerumuskanmu dalam jeruji penjara, dan Vi, harus hancur di tangan anak mama sendiri." tangis Swasti kembali pecah.
Gayatri berusaha menenangkan Swasti dan Dewandaru yang larut dalam kesedihannya.
"Ndaru yang salah Ma." ucap Ndaru, parau, dada terasa sesak "Andai Ndaru tidak tersulut emosi malam itu."
"Ayah? Ayah dan Widuri, tidak ikut?" tanya Swasti, yang menyadari Abyas dan Widuri tidak bersama dengan Dewandaru.
__ADS_1
"Tadi... ehm... ta... di... tadi, perut bunda kram kata polisi sekarang di rumah sakit." ucap Dewandaru, terbata-bata.
"Astaqfirullah hal'adzim," Swasti, terkejut mendengar jawaban Ndaru.
"Kenapa Mama dan ayah tidak memberitahukan pada Ndaru? kenapa Ma? kenapa Mama membiarkan Ayah, menikah lagi?" tanya Dewandaru bertubi-tubi, masih dengan perasaan kecewa.
Swasti menceritakan maksud dan tujuannya menyuruh Abyas untuk menikah lagi, setelah hampir satu jam Dewandaru, mendengar cerita dari Swasti, akirnya Dewandaru, paham.
"Ndaru, akan bertanggung jawab, terhadap Vio, Ndaru akan menikahinya segera," ucap Dewandaru tanpa ragu "Ndaru minta tolong ke Mama dan Ayah, tolong jaga Vio, selama Ndaru, di dalam penjara," pinta Dewandaru pada Swasti.
"Ndaru takut, Vi, hamil Ma, Ndaru tidak ingin menjadi manusia pengecut, Ndaru, tidak ingin darah daging Ndaru, menjadi anak tanpa nasab, Ndaru, yang menodai Vi, apapun yang terjadi Ndaru tetap akan bertanggung jawab pada Ndaru." ucap Dewandaru meyakinkan keputusannya pada Swasti.
"Kalau kamu takut wanita yang kamu nodai hamil kenapa kamu tetap melakukan itu Sayang?" tanya Swasti, sedih.
"Ndaru waktu itu, sedang kalap Ma, Ndaru sadar semua ini karena kecerobohan Ndaru, kebodohan Ndaru, maafkan Ndaru ma!" pinta Dewandaru mengiba.
__ADS_1
"Apa Ndaru bisa menerima istri kedua Ayah?" tanya Swasti penasaran.
"Ya, Ndaru terima Ma, sekarang Ndaru mengerti, sayangnya Ndaru tahu saat semua sudah terlanjur hancur, Ndaru tidak tahu bagaimana dengan Vi dan bunda, apakah mereka bisa menerima kehadiran Ndaru?" ucap Dewandaru gelisah.
"Harapan mama untuk memiliki keluarga yang harmonis, hancur sudah, entah mama sendiri tidak bisa berpikir, Vi, mengalami depresi berat, selama dua tahun ini selama kamu tidak di sisi mama Vi, yang selalu bisa menghibur mama." ucap Swasti menatap sendu pada Dewandaru.
"Maafin Ndaru, Ma," Dewandaru, bener merasa bersalah."Maukah Mama menerima Vio, sebagai mantu mama?" tanya Dewandaru "Tolong, terima Vi, Ma, ijinkan Ndaru menikahi Vi." pinta Dewandaru memelas.
"Kita rundingkan dengan Ayahmu, mama senang jika itu, terjadi, mama akan merawat Vi, Sebagaimana mama mamerawat kamu," ucap Swasti.
"Terima kasih, Ma, Ndaru juga sudah menyampaikan pada Ayah, secepatnya Ndaru akan menikahi Vi secara agsna dulu, selanjutnya kita pikirkan nanti." ucap Dewandaru, sedikit lega.
Setelah selesai berbicang dengan Swasti, Dewandaru di giring kembali oleh polisi balik ke kantor polisi, karena posisi Dewandaru, sebagsj tersangka.
(Hai sayangku baca yuk novel keren dai author keren dengsn Judul Ternyata Itu Cinta. )
__ADS_1