Gelora Noda Dan Cinta

Gelora Noda Dan Cinta
Part 52


__ADS_3

"Jauh merenung Ziz?" tanya Pak Lurah menghampiri Aziz, yang duduk menyendiri di teras rumah.


"Bapak, belum tidur?" sahut Aziz, sedikit terkejut.


"Apa yang sedang menghantui pikiranmu?" tanya Pak Lurah, ambil duduk di samping Aziz.


"Tidak ada Pak, sedikit capek habis mengerjakan tugas sekolah, Mama dan Kiki, apa sudah tidur kok Bapak malah keluar?" Aziz tanya balik pada pak Lurah.


"Jam segini mereka yo pasti sudah tidur, oh ya bagaimana rencana kamu selanjutnya, apa kamu tetap mengabdi di desa ini atau mau ke kota mencari pekerjaan yang lebih menjanjikan?" tanya pak Lurah pada Aziz.


"Aziz, akan tetap mengabdi si sini Pak, masih banyak anak-anak yang perlu Aziz bimbing, Aziz cukup bahagia bisa membagi kan ilmu untuk mereka." sahut Aziz jujur.


"Bapak dengar tuan tanah yang memiliki lahan dekat balai desa beliau mau membangun villa, itu baru desas desus pastinya bagaimana bapak belum tahu juga." ucap Pak Lurah.


"Sudah lapor ke desa?" tanya Aziz.


"Belum, itu baru wacana tuan tanah saja soalnya beliau mau masih menggarap lainnya, tapi tadi siang tuan tanah sudah melihat dan mengukur luas tanahnya." jelas pak Lurah " Dan tadi juga sempat menemui bapak beliau datang bersama dengan seorang arsitek muda, selain membangun villa katanya mau membuat tempat bermain anak, itu hari wacana entah kapan terwujud." tambah pak Lurah.


"Kesempatan bagus itu Pak, untuk memajukan kampung kita, sekarang Aziz sangat senang baru kali ini ada bidan yang bisa di terima masyarakat luas, rasanya seperti mimpi." ucap Aziz.


"Apa kamu menyukai Vio?" tebak pak Lurah, langsung "Bapak kenal kamu sejak kecil jangan bohongi bapak."


"Dia, istri orang, Aziz tak kanlah seburuk itu, Aziz masih bisa berpikir secara sehat" sahut Aziz, meyakinkan pak Lurah.

__ADS_1


"Bagus itu, kalau Aziz paham, jangan pernah menghancurkan kehidupan orang lain meskipun kamu sangat menyukai Vi." ucap pak Lurah."Tadi bagaimana Lingga di sekolahan?" tanya pak Lurah penasaran.


"Lingga sangat lucu, tadi langsung akrab dengan Polwannya, karena kebetulan tadi ada junjungan dari polres, Aziz punya rencana untuk menggandeng polwan tersebut dalam memajukan desa kita, Aziz rasa dia bisa diajak kerja sama, usianya sepantaran dengan Vi." terang Aziz.


"Selagi itu baik Bapak akan mendukungmu, masa depan anak-anak itu sangat berharga, Bapak bangga padamu Ziz, kalau bukan kita yang membentuk anak-anak tersebut siapa lagi." ucap Pak Lurah.


"Rencananya dalam waktu dekat Aziz ada usulan untuk kepala sekolah agar ada pemeriksaan gratis dan pemberian vitamin secara gratis, bagaimana apa bapak setuju dengan ide Aziz, ini?" tanya Aziz pada pak Lurah.


"Kamu sudah mengajukan proposal dan soal pembagian vitamin nanti akan bapak gunakan kas desa, sebenarnya dari dulu Bapak ingin seperti itu, namun sayangnya tidak semudah membolak balikkan tangan." ujar pak Lurah, tanda setuju dengan usul gagasan Aziz.


"Belum, Pak rencana besok mau saya usulkan pada kepala sekolah, biar anak-anak semakin paham tentang kesehatan, agar angka kematian dan sakit berkurang." ujar Aziz, semangat.


Aziz, merupakan Pemuda desa anak pak Lurah, pak Lurah menjabat sebagai kepala desa juga baru tiga tahun ini. Aziz menyelesaikan pendidikannya di luar kota, itupun karena Aziz mendapat bea siswa. Aziz begitu selesai menempuh pendidikannya Aziz, langsung kembali ke desanya, dengan tujuan ingin memajukan desa tersebut, Aziz bukanlah pegawai negeri hanya seorang guru tidak tetap, karena Aziz, sangat mencintai desanya, itu sebabnya Aziz, kembali ke desa untuk mengabdi di sekolahan negeri yang berada di desanya untuk mencerdaskan generasi di desanya agar desanya bisa lebih maju dan berkembang.


Malam semakin larut, semilir angin malam membuat hawa dingin merasuk dalam tulang belulang mereka berdua, sehingga membuat pak Lurah memutuskan masuk ke kamar sedangkan, Aziz masih tetap berada di teras dengan di temani beberapa batang rokok dan alunan musik yang berasal dari hand phone-nya. Aziz duduk di teras sambil mengawasi rumah yang di tempati Violet, jika malam Violet di temani oleh Uni Saidah, dan tentu sistem ronda keliling juga masih berlaku di desa tersebut.


Gejolak hati yang di alami Aziz, Bukan perkara mudah, Aziz tahu jika Violet sudah bersuami namun gejolak di hatinya tidak bisa di pungkiri jika hatinya sangat mencintai Violet. Aziz sebagai seorang lelaki dewasa Aziz bisa menangkap jika Violet bermasalah dengan Dewandaru, suaminya pasalnya dalam dua bulan ini Aziz, belum sekalipun melihat Violet maupun Lingga melakukan panggilan telpon dengan ayah Lingga.


"Om, boleh Lingga ikut lagi?" tanya Lingga Aziz, saat sama-sama melakukan sarapan di dapur.


"Hari ini maaf, om tidak bisa mengajak Lingga, lain kali saja ya, soalnya Om ada pekerjaan lain," tolak Aziz, lembut.


"Lingga di rumah saja sana mama dan oma." bujuk Violet pada Lingga "Nanti mama ajak Lingga, naik motor, mama yang bonceng."

__ADS_1


Aziz, semakin terpukau dengan sikap Violet yang ke-ibuan walau usianya masih sangat muda.


"Baiklah." Lingga mengalah menyetujui permintaan Violet.


Aziz berangkat ke sekolah bersama dengan Kirai, Aziz Pemuda yang sudah cukup umur namun belum mau berumah tangga, setelah kegagalannya dalam menuju pernikahan karena calon istrinya telah pergi untuk selama-lamanya menjelang hari pernikahannya.


Violet menepati janjinya, setelah sarapan Violet mengajak Lingga jalan-jalan sampai ke balai desa, Violet menghentikan motornya di pinggir jalan tanah kosong nan luas yang ada di dekat balai desa tersebut, Lingga sangat antusias sekali Lingga ingin ke balai desa, karena jam menunjukkan baru jam tujuh itu artinya masih sepi, hanya orang lewat yang ada.


Aziz, melakukan aktifitasnya seperti biasa, sepulang dari mengajar Aziz, melajukan motornya untuk keliling kampung, melihat situasi kampung. Hari sudah sangat siang Aziz, menarkirkan motornya di parkiran balai desa.


Aziz berdiri di area tanah yang di maksud oleh pak lurah, tanpa di sengaja sang tuan tanah kebetulan juga datang, tuan tanah datang dengan seorang arsitek pilihannya.


"Selamat siang Uda!" sapa tuan tanah pada Aziz begitu turun dari mobil dan kebetulan Aziz sedang berdiri di pinggir jalan tersebut.


"Selamat siang Tuan , Tuan ini?." sahut Aziz, ramah namun harus tetap waspada.


"Saya pemilik tanah ini, dan ini arsitek saya," Tuan tanah langsung me perkenalkan dirinya pada Aziz.


"Saya Aziz, orang kampung sini asli." Aziz balik memperkenalkan dirinya sambil berjabat tangan dengan tuan tanah.


"Saya Ndaru, senang bisa bertemu dengan Uda, di sini." sambut Dewandaru sopan.


"Semoga pertemuan kita membawa kebaikan." sambut Aziz, senang.

__ADS_1


"Kami mau ke balai desa, menemui pak lurah dulu." pamit Tuan tanah pada Aziz.


"Silakan." ucap Aziz.


__ADS_2