Gelora Noda Dan Cinta

Gelora Noda Dan Cinta
Part 51


__ADS_3

"Sekali lagi maafkan keponakan saya Bu." Aziz mengucapkan kata maaf lagi dengan sangat santun, walau polisi tersebut masih sangat muda namun dari perlengkepan dia pakai polisi tersebut berpangkat Bripda.


"Keponakan bapak sangat lucu dan pemberani, perkenalkan saya polisi yang baru bertugas di sini nama saya Utari." sambut Utari ramah, Utari mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Aziz.


"Saya Aziz, guru di sekolah ini." sambut Aziz sangat ramah dan sopan.


"Lingga kalau besar mau jadi apa?" tanya Utari pada Lingga.


"Aku mau jadi polici, jadi doktel bial bisa mengobati oma." sahut Lingga polos.


"Oma Lingga apa sakit?" tanya Utari lagi.


"Kata Mama Oma cakit tidak bisa jalan." Lingga menyahut dengan sangat polos dan tentu jujur apa adanya.


"Lingga kamu di sini kak Iki cari." seru Kirai dari arah samping.


"Kak Kiki!" seru Lingga berlari menghampiri Kirai yang berjalan bersama temannya untuk menghampiri Lingga.


Lingga menarik Kirai dan memperkenalkan Kirai pada Utari, Utari menyambutnya dengan ramah dengan senyum hangat. Namanya juga anak kecil Kirai tidak kalah antusiasnya saat bisa berkenalan dan ngobrol bersama Utari. Tidak hanya Kirai saja beberapa murid lainnya juga ikut mengerumuni Utari, sedang teman Utari juga sudah sibuk dengan antusias anak-anak sekolah dasar tersebut.


Utari terlihat masih tetap segar walau banyak melakukan aktifitas dengan anak-anak, Aziz, serta guru yang lainnya terus mengawasi seluruh murid sekokha dasr tersebut.


Entah ada apa dengan Lingga, Lingga terus menempel pada Utari, sehingga mau tidak mau pandangan Aziz, terus pada Utari dan Lingga, walau Aziz tetap melaksanakan tugasnya.


"Dik Lingga ayo kita main." ajak Kirai pada Lingga yang terus menempel pada Utari.


Lingg menggelengkan kepala, menolak ajakan Kirai.


"Lingga mau bermain sama kak Iki apa menemani Bu Polisi? " tanya Utari, lembut.


"Mau belsama bu Polisi, nanti antel pulang ya." pinta Lingga pada Utari seperti sudah lama kenal saja.

__ADS_1


"Lingga nanti pulang sama Om, bu Polisi masih harus bekerja ya." rayu Aziz.


"Dak mau." tolak Lingga.


"Lingga ingat apa pesan mama pada Lingga." bujuk Aziz.


"Kalau Lingga mau Bu Polisi temani, lain kali Bu Polisi datang ke rumah Lingga bagaimana?" bujuk Utari lembut.


Lingga mengangguk tanda setuju, setelah beberapa saat Lingga sudah membair dengan siswa-siswi lainnya yang bermain dengan Kirai.


"Pak Aziz, bisa minta nomor kontak bapak, sewaktu-waktu ada waktu saya akan datang memenuhi janji saya pada Lingga, saya harap Pak Aziz tidak keberatan, sekalian minta alamatnya." ucap Utari tegas.


"Rumah saya lumayan jauh dari sini Bu, butuh waktu lima belas menit dan jalan menuju rumah saya juga belum di aspal." sahut Aziz sopan.


"Itu pun jika pak Aziz tidak keberatan, jika keberatan tidak apa-apa, nanti boat saya sendiri tanya di balai desa," ucap Utari sopan.


"Kalau cuma sekedar alamat dan nomor telepon saya kasih Bu," sahut Aziz, ramah dan sopan.


Aziz dan Utari sudah saling bertukar nomor telepon, Aziz juga sudah mengirim alamatnya pada Utari lewat pesan yang bergambar hijau.


Lingga dan Kirai dibonceng Aziz, untuk pulang ke rumah sepanjang jalan pulang Lingga, Kirai dan Aziz tidak henti-hentinya bercerita, mereka bertiga nampak bahagia sekali, setelah menempuh perjalanan lima belas menit, sepeda motor Aziz sudah memasuki sebuah halaman rumah yang sangat besar, keadaan masih tetap seperti biasa banyak pasien yang datang untuk berobat pada Violet. Aziz menggendong Lingga dan membawanya masuk ke dalam rumahnya, Kirai mengikuti langkah kakaknya.


Bu Lurah baru saja pulang dengan diantar olet salah satu pegawainya, sedangkan Pak Lurah belum pulang karena banyaknya pekerjaan dan masih harus rawat dengan berbagai pihak.


Selesai berganti pakaian Aziz menggendong Lingga menuju tempat Violet praktek.


"Assalamu'alaikum," seru Aziz, di depan pintu siap untuk masuk.


"Wa'alaikum salam, anak mama sudah pulang." sambut Violet senang.


Lingga langsung menghampiri Violet dan menmeluk Violet.

__ADS_1


"Mama tadi Lingga ketemu polici." ungkap Lingga girang menceritakan pertemuannya tadi dengan polisi.


"Anak Hebat, takut gak sama polisi?" tanya Violet, setius.


"Tidak takut." sahut Lingga polos dan percaya diri.


"Bu bidan kapan ke kota saya siap antar." ucap Aziz.


"Setengah jam lagi Uda, saya obati pasien satu lagi." sahut Violet


"Baiklah, saya antar bu bidan." ucap Aziz.


Violet segera melanjutkan tugas-tugasnya, sedang Aziz terus bermain dengan Kirai dan Lingga.


Setengah jam berlalu Violet berangkat ke kota bersama dengan Aziz, karena jalannya tidak nyaman maka Aziz tidak mengajak Lingga maupun Kirai. Jarak tempuh antara rumah Aziz dengan kota lumayan jauh karena mereka harus menempuh hampir satu jam perjalanan.


Bank itu yang menjadi tujuan utama Violet, Violet mengecek uang yang ada di rekeningnya, setelah dua bulan lebih Violet baru sekarang melihat rekeningnya, biaya hidup Lingga dan Violet di tanggung oleh Abyas, seperti sekarang Violet mengecek uangnya dan ternyata yang masuk ke rekening jumlahnya sangat besar, sesuai pesan Abyas pada Violet, bahwa Abyas mengirim uang untuk membeli sepeda motor.


Violet mengajak Aziz untuk menuju ke dealer sepeda motor bekas Violet, sengaja membeli motor bekas agar bisa berhemat. Hampir satu jam Aziz dan Violet milih sepeda motor yang cocok untuk dipakai di mana saja.


Seperti yang diungkapkan oleh Violet, selesai urusan motor Violet belanja kebutuhan di supermarket karena hanya supermarket yang buka, Violet memilih beberapa jenis makanan yang terbuat dari daging, serta kebutuhan pribadinya. Tidak lupa Violet juga membeli makanan ringan untuk Kirai dan Lingga.


"Terima kasih Uda." ucap Violet begitu sudah sampai di rumah lagi.


"Sama-sama." sahut Aziz sopan.


"Mama!" seru Lingga girang karena Violet membawa banyak sekali makanan dan makanan lainnbya.


"Waow belanjaan bu Bidan banyak sekali, belum pernah Kirai di ajak belanja sebanyak ini." ucap Kirai jujur.


"Yang di beli bu Bidan itu obat Ki, bukan makanan biasa." jelas Aziz.

__ADS_1


Aziz dan Kirai membantu membawa masuk belanjaannya, Lingga pun tak mau kalah, bahkan dengan kengototannya Violet akirnya memberi Aziz, seating kecil, menerima kantong kresek Lingga girang sekali.


Selang setengah jam sebuah mobil pik up datang dengan satu unit sepeda motor, milik Violet. Tujuan Violet baru beli sepeda motor karena setelah dua bulan ternyata dirinya dan Lingga betah tinggal di desa tersebut, selain alasan itu Violet juga tidak mau jika terus-terusan merepotkan Aziz, Violet sadar jika dirinya merupakan seorang istri.


__ADS_2