
Dewandaru terus berusaha mencari jejak Violet, tidak terasa sudah satu bulan Dewandaru berada di kota tersebut namun belum menemukan titik terang tentang Violet dan Lingga. Setiap akir pekan Dewandaru sengaja menggunakan waktunya untuk jalan-jalan menyusuri setiap desa di kota tersebut hanya ingin menemukan Violet dan Lingga.
Sesuai petunjuk sobekan alamat yang Dewandaru temukan di rumah kontrakkan Violet dulu Dewandaru, terus menyusuri setiap desa yang ada di kecamatan tersebut tanpa mengenal lelah. Hari ini Dewandaru sudah menyusuri tiga desa namun hasilnya masih sama tidak ada tanda-tanda keberadaan Violet dan Lingga. Lelah yang Dewandaru rasakan akirnya Dewandaru memutuskan untuk berjalan-jalan di pusat kota untuk membeli beberapa peralatan di pusat peebelanjaan tersebut.
Dewandaru berjalan menyusuri setiap lorong toko buku yang ada di pusat perbelanjaan tersebut seorang diri, Dewandaru tersenyum melihat anak laki-laki yang seusia Lingga, yang sedang bermanja dengan kedua orang tuanya Dewandaru, membayangkan jika itu adalah Lingga putranya dengan dirinya, Dewandaru cukup lama terbengong, sehingga tidak melihat keberadaan Aziz yang juga berada di toko tersebut.
Aziz mengajak Kirai dan Lingga dengan di temani Bu Lurah jalan-jalan ke kota untuk membeli alat tulis buat Lingga dan Kirai, buku gambar, crayon pensil warna serta beberapa peralatan gambar sudah Aziz, belikan sesuai dengan pesan Violet.
Selesai membayar Aziz mengajak mereka untuk menikmati makan siap saji yang ada di pusat perbelanjaan, di saat lagi asik menyantap makanannya Kirai melihat ada Utari, juga sedang menikmati makanan siap saji tersebut seorang diri.
"Uda, lihat itu kan bu Polwan waktu itu." ucap Kirai, sambil menunjuk ke arah tempat duduk Utari.
Aziz, langsung memihat mengikuti arah jari telunjuk Kirai, Lingga yang mendengar ucaoan Kirai, dia langsung menarik tangan Aziz, untuk menghampiri Utari.
"Bu polici!" seru Lingga yang sudah mendekat di tempat duduk Utari.
"Hai, anak ganteng kamu di sini juga?" sahut Utari, girang.
"Aku beli buku bu Polici," sahut Lingga polos.
"Bu Utari, sendirian?" tanya Aziz, basa- basi.
"Pak Aziz, Silakan duduk, saya ada janji sama teman tapi mereka belum datang." sahut Utari ramah.
"Maaf mengganggu." ucap Aziz basa basi.
__ADS_1
"Tidak mengapa, pak Aziz sendiri dengan siapa ?" Utari balik tanya.
"Saya bersama dengan Bundo Kirai dah Lingga, tadi habis membelikan hadiah buat Lingga dab Kirai, kami duduk di sana Itu Kirai dan Bundo saya." papar Aziz, sopan.
Utari wanita yang cantik dan juga anggun, dia memiliki kepribadian yang baik, untuk menghormati pertemanannya dengan Aziz, serta Lingga, Utari malah berdiri menggandeng Lingga menuju bu Lurah yang masih duduk dengan Kirai.
"Assalamu'alaikum Bu, dik Kirai ." sapa Utari sopan.
"Wa'alaikum salam." sahut Kirai dan bu Lurah senang.
"Bundo ini bu Polwan yang waktu itu datang ke sekolahku." tutur Kirai.
"Saya orang tuanya Aziz dan Kirai, Silakan duduk." bu Lurah menyambut Utari hangat.
"Lain kali saja bu, saya ada janji sama teman takutnya dia mencari saya, sebentar lagi mereka datang." sahut Utari tetap sopan dan ramah.
"Bu polisi main ke rumah ya, rumahnya dekat kok." imbuh Kirai ikut menimpali.
"Inshaallah kak Kirai, jika ibu sudah longgar ibu mau datang ke rumahmu." sahut Utari sopan.
Utari kembali ke mejanya sendiri, setelah mengobrol sesaat dengan Kirai, Lingga bu Lurah dan Aziz. Begitu selesai makan Aziz, serta rombongan sudah meninggalkan tempat tersebut, takut pulang ke malaman karena mereka hanya mengendarai sepeda motor saja.
Utari menikmati akir pekannya bersama dengan teman sejawatnya dalam menjaga keamanan wilayah tersebut, selesai makan mereka menyusuri jalan kota tersebut sambil memantau keadaan keramaian kota tersebut, pasalnya setiap akir pekan seringnya terjadi kejahatan entah itu sekedar penjambretan maupun perampokan.
Dewandaru selesai belanja dia berniat untuk kembali ke kantornya, di saat bersantai dalam mengendarai sepeda motor, sepasang penjambret berusaha menarik dan memotong tas Dewandaru, sehingga penjambret tersebut berhasil membawa kabur tas Dewandaru. Karena ketidak siapan Dewandaru, motor yang di tumpangi Dewandaru oleng namun tidak sampai jatuh, Dewandaru segera mengejar penjbrer tersebut, walau penjambret tersebut menggunakan senjata tajam tidak menyurutkan telat Dewandaru untuk mendapatkan kembali tas tersebut, pasalnya di dalam tas tersebut banyak sekali benda penting, seperti hand phone, kunci kantor, surat-surat penting lainnya.
__ADS_1
Aksi kejar-kejaran tidak luput dari perhatian Utari dan kawan-kawan, Utari segera memberitahu anggota lainnya dengan di bantu para polisi yang sedang bertugas penjambret tersebut tertangkap dengan mudah, walau terjadi saling tembak. Dewandaru dan para penjambret di bawa ke kantor polisi untuk di lakukan penyidikan lebih lanjut
Utari merasa kenal dengan wajah Dewandaru, namun di mana Utari sedikit lupa, untuk mengobati rasa penasarannya Utari sendiri yang mengorek keterangan dari Dewandaru,
"Selamat malam mas, siapa nama mas?" tanya Utari tegas.
Dewandaru begitu melihat Utari, dia juga merasa tidak asing dengan wajah Utari, walau sekarang dengan rambut pendeknya.
"Dewandaru Adinata, dua tuku tahun." sahut Dewandaru.
Utari sangat terkejut mendengar nama Dewandaru Adinata, dia teringat kejadian lima tahun silam, di mana nama itu yang telah membuat sahabatnya Violet hancur, dan karean kejadian itu Utari, harus kehilangan kontak dengan sahabatnya tersebut, sebab sejak kejadian itu Violet, menjauh dari semua sahabatnya.
"Tolong ceritakan kejadiannya." perintah Utari tegas, sambil mengecek nama Dewandaru di komputer ternyata benar nama Dewandaru sudah muncul di layar komputer beserta kasusnya lima tahun silam.
Dewandaru menceritakan kejadian yang sebenarnya tanpa ada yang di tutup-tutupinya, Utari mencatat semua laporan Dewandaru dengan lengkap.
"Terima kasih mas, untuk proses selanjutnya kami akan memanggil anda untuk datang memberikan kesaksian." ucap Utari, tegas walau sebenarnya hati Utari bagai tercabik-cabik tidak karuan.
"Terima kasih Bu, saya siap untuk memberikan kesaksian untuk sidang nanti sewaktu-waktu di butuhkan saya pasti datang." sahut Dewandaru, sopan.
Dewandaru meninggalkan ruang introgasi dengan gejolak hati yang tidak menentu, Dewandaru berhenti di parkiran agak lama sambil memikirkan suatu hal. Selang setengah jam Dewandaru kembali masuk ke kantor polisi tadi, Dewandaru minta ijin untuk bertemu dengan Utari. Seorang polisi penjaga menuju kubikel di mana Utari sedang mengerjakan laporan tadi.
"Lapor komandan, ada yang ingin bertemu dengan komandan, sepertinya orang yang komandan introgasi tadi." lapor polisi penjaga.
"Siap." sahut Utari, tegas.
__ADS_1
Utari menengok ke arah tempat duduk Dewandaru, mau tidak mau Utari memberi kesempatan Dewandaru untuk bertemu dengannya.