
Aziz dan Pak Lurah menikmati sarapan paginya hanya berdua saja karena setelah menyiapkan sarapan untuk Aziz dan Pak Lurah, sedangkan bu Lurah membantu Kirai untuk persiapan berangkat sekolah.
"Rasanya seperti mimpi Yah," tutur Aziz, menahan sebuah rasa atas keterkejutannya tentang kekuarga Violet dan Dewandaru.
"Itulah hidup Ziz, tidak ada yang mulus tinggal bagaimana kita menyikapinya."
"Bagaimana mereka bisa hidup rukun, seperti tidak asa masalah saja." tutur Aziz,
"Kalau ayah di beri kesempatan siapa yang tidak mau memiliki istri dua, lihat Pak Abyas, namun kita juga tidak tahu ada hal apa di balik semuanya." tutur pak Lurah menerawang.
"Ya, tentu itu Yah, ayah jam berapa ke kantor?" tanya Aziz.
"Sekarang, namun nanti siang ayah ada janji dengan tuan tanah, beliau minta di antar untuk menjenguk pak Ndaru." tutur pak Lurah.
"Jujur Yah, Aziz sebenarnya iri dengan Pak Ndaru, punya istri pintar dan cantik, sedangkan Pak Ndaru sendiri juga memiliki paras yang bikin wanita meleleh, namun yang membuatku tidak paham kenapa bu Bidan, sepertinya selaku dingin dengan suaminya, dan Lingga memanggil pak Ndaru dengan sebutan kakak." Aziz, sangat penasaran dengan bahasa dan perilaku di a rara mereka.
"Namun jangan sampai Aziz, menanyakan hal yang sangat pribadi pada mereka, terutama tentang keluarganya, seperti ada benang ruwet di antara mereka." tutur Aziz.
"Sudah siang ayo berangkat, sebelum terlanjur buang jauh-jauh perasaanmu pada bu Bidan, sebelum terlanjur." nasehat Pak Lurah.
"Butuh waktu Yah." jawab Aziz.
__ADS_1
"Padahal aku belum mengungkapkan, isi hatiku dan aku harus menerima kenyataan bahwa orang yang aku cintai, sudah menjadi milik orang." ucap Aziz, dalam hati.
"Ziz, ayo berangkat jangan melamun saja." tegur pak Lurah sambil berdiri siap untuk berangkat.
"I... Iya Ayah." jawab Aziz gagap.
"Nanti siang cepat pulang ada tamu." tutur Pak Lurah, menepuk baju Azi.
"Kiki sudah belum? ayo berangkat!" seru Aziz.
"Iya kak !" sahut Kirai sambil menggendong tas punggungnya.
Semua keluarga pak Lurah sudah meninggalkan rumah, mereka melakukan aktifitasnya masing-masing.
Utari hari ini sedang libur karena akir pekan, dengan pakaian santainya Utari datang ke klinik dengan tujuan ingin mengajak Lingga jalan-jalan.
"Assalamu'alaikum." sapa Utari di pintu klinik.
"Wa'alaikum salam, Ya Allah Tar, Alhamdulillah." seru Violet bahagia menerima kedatangan Utari.
"Vi, kamu di mana?" suara Widuri dari samping klinik.
__ADS_1
"Di depan Mbak." sahut Violet.
"Vi, itu suara mbak Wid kan?" tanya Utari, penasaran.
"Ya, kemarin mereka datang." sahut Violet.
"Kamu di sini, maaf ada tamu." tutur Widuri sopan.
Widuri belum menyadari jika tamunya adalah Utari, sedang Utari juga belum menyapanya, Utari pangkling dengan penampilan Utari, jika dulu Utari berpenampilan feminim dengan rambut panjangnya namun sekarang Violet, berpenampilan dengan rambut pendek khas seorang polisi.
"Mbak Wid, masih ingat saya?" Utari berusaha menyala Widuri yang baru saja datang menghampiri mereka.
Widuri merasa namanya di panggil dan suara yang memanggil sepertinya dikenalnya, Widuri mengamati sebentar wajah Utari.
"Utari !" seru Widuri setengah tidak percaya.
"Iya mbak, aku kura mbak Wid, susah lupa denganku?" tanya Utari.
"Ayo masuk dulu, jangan di teras saja."
Violet mengajak Utari untuk masuk dalsm kliniknya, hari ini Violet hanya merawat dua pasien yang baru melahirkan dan mereka juga sudah bersiap-siap untuk pulang, jadi pekerjaan Vilkey tisak begitu banyak.
__ADS_1
Mereka bertiga duduk di ruang tunggu, Violet tidak mungkin menemui Utari di rumah pribadinya mengingat sekarang masih jam kerja.