Gelora Noda Dan Cinta

Gelora Noda Dan Cinta
Part 48


__ADS_3

Violet mendengarkan penjelasan dari Aziz dengan seksama, walau sebelum berangakat ke desa tersebut Violet, juga sudah mendapat informasi dari kampus terkait tentang kondisi dan situasi desa tersebut. Aziz terus menjelaskan keadaan desa tersebut hingga beberapa jam, sedangkan Lingga dan Kirai asik bermain sendiri di area klinik, mereka berdua sudah muali akrab bak kakak beradik.


Dihari pertama Violet menjalankan tugasnya sebagai bidan desa dia sangat menikamtinya, pasien yang dia rawat juga mengalami banyak perubahan, setelah si pasien tidur dan menghabiskan infus satu botol si pasien bisa melewati masa kritis, sekarang si pasien tidak lagi pucat. Setiap satu jam sekali Violet mengecek keadaan pasiennya, keluarga pasien tidak lagi kawatir setelah melihat perubahan yang bagus pada putrinya.


Malam ini Violet, tidur di klinik sedangakan Lingga juga ikut tidur di klinik, Violet dan Lingga tidur di salah satu kamar pasien yang kosong. Pagi-pagi sekali Violet sudah bangun, Violet memasak makanan untuk pasiennya mengingat sang pasien tidak boleh memakan makanan sembarangan, satu mangkuk bubur ayam dan sayur sudah di siapkan oleh Violet, sebagai menu untuk sarapan pasien, pagi ini karena Kirai harus sekolah maka Lingga di rumah dengan ditemani oleh Uni Saidah dan bu Lurah.


Kegiatan Violet di hari kedua bertambah sibuk, jam delapan pagi sudah datang beberapa pasien yang ingin berobat, mayoritas mereka wanita yang sedang mengandung, dan usia kandungan mereka berfariasi, Violet dengan ramah memeriksa semua pasiennya, bu Lurah dengan senang hati mendampingi Violet, mengingat bahasanya sedikit berbeda sehingga membuat Violet, sedikit kurang nyambung dengan pasien.


Berita tentang keberadaan Violet, dan keramahannya dalam melayani serta sikap baik dengan pasien cepat menyebar luas. Bu lurah dan Violet sangat sibuk dalam melayani pasien, Lingga asik bermain dengan Kirai, seadngakan Uni Saidah di perintahkan oleh Bu Lurah untuk memberi makanan ringan  untuk pasien yang datang periksa. Tujuan bu lurah memberi makanan ringan pada orang yang datang periksa untuk menarik masyarakat luas agar lebih bisa menerima kehadiran bidan desa.


Keberadaan Violet di kampung tersebut di sambut baik oleh warga, selama seminggu ini Bu Lurah, Uni Saidah dan Aziz bahu membahu membantu Violet dalam menjalankan tugasnya sebagai bidan desa, di tambah Violet tidak menarget biaya, mereka bisa membayar dengan hasil kebun, dan dari hasil kebun tersebut di olah kembali menjadi makanan sehat dan di bagikan kepada para pasien yang datang periksa, namun sebagian di jual ke pedagang pasar dengan bantuan pak Lurah dan Aziz.


''Alhamdulillah nak Vi, sambutan masyarakat desa sangat antusias semoga kedepannya kita bisa memberi pelayanan lebih baik lagi,'' ucap syukur pak Lurah saat mereka sedang menyantap makan malam bersama di rumah apak Lurah.


''Sekian tahun baru kali ini masyarakat menyambut kedatangan bidan dengan sangat antusias.'' imbuh pak Lurah.


''Alhamdulillah, semua ini berkat usaha Ibu dan Bapak, sedangkan saya hanya berperan sebagai pelaksana saja,'' ucap Violet merendah.


''Assalamu'alaikum.''  Aziz masuk mengucap salam diikuti oleh Kirai dan Lingga, mereka bertiga baru saja dari rumah pak Lurah.


''Wa'alaikum salam,'' sahut mereka bertiga.


''Mama!'' seru Lingga bahagia langsung memeluk Violet yang duduk di kursi.


''Anak mama, dari mana sayang?'' tanya Violet senang.


''Tadi di ajali baca dan menulis sama om Aziz.'' cerita Lingga.

__ADS_1


''Lingga pinter nggak?'' tanya Violet sayang.


''Dik Lingga pinter sekali Uni,'' lapor Kirai , Kirai memanggil Violet dengan sesuka hati.


''Terima kasih kak Kiki,'' ucap Violet ramah.


''Semenjak ada Lingga Kirai semakin semangat belajarnya.'' Aziz ikut menimpali.


Mereka terlibat obrolan ringan di ruang tunggu klinik, meskipun belum genap asatu bulan Violet, membuka praktek setiap harinya selalu ada saja warga yang harus menginapn di klinik karena kondisi pasien yang harus menjalani rawat inap. Di saat mereka sedang bersantai sambil menunggu pasien sebuah panggilan video call masuk nama Swasti yang muncul di layar monitor. Violet langsung menerima panggilan tersebut dengan perasaan bahagia pasalnya tidak mudah untuk mendapat sinyal bagus, sebelum menerima panggilan Violet berpamitan pada pak Lurah dan yang lainnya.


"Assalu'alaikum ma.'' Violet menyambut dengan bahagianya.


''Wa'alaikum salam,'' sahut Swasti tidak kalah bahagia ''Bagaimana kabarnya kaliaan Mama sudah kangen sekali, Lingga mana?'' tanya Swasti ketika belum melihat wajah Lingga.


''Kami juga sangat kangen sekali dengan Mama, alhamdulillah kami baik-baik saja Lingga sudah mulai kerasan di sini karena keluarga pak Lurah menyambut kami dengan senang serta putri sulung pak Lurah sangat menyayangi Lingga,'' jelas Violet, sambil menuju teras.


''Lingga sini di cari Oma.'' Violet memanggil Lingga yang sedang asik bermain dengan Kirai di teras.


''Sini sayang,'' Violet segera memangku Lingga dan melakukan panggilan video call Violet juga tidak lupa memperkenalkan Kirai pada Swasti, di samping Swasti ada Abyas.


''Lingga kangen sam aoma dan Ayah apa tidak?'' tanya Abyas antusias.


''Ayah, Oma, kapan ke sini Lingag punya kakak balu namanya kak kilai dan punya om baru namanya om Asiz, Lingga di ajali belajal.'' Lingga dengan polosnya menceritakan pada Swasti dan Abyas.


''Ayah dan Oma pasti datang menjenguk Lingga dan Mama, kak kirainya mana?'' ganti Swasti yang berbicara.


''Kak kirai sini, kakak kenalin dengan omanya dik Lingga,'' Violet mengarahkan kameranya pada Kirai yang duduk di sebelahnya.

__ADS_1


Kirai malu-malu saat di ajak bicara oleh Swasti maupun Abyas, posisi Swasti dan Abyas sekarang masih berada di bengkel, karena hari juga baru petang, stelah berbicara dengan Lingga selama lima belas menit , Violet berbicara sedikit serius dengan Abyas maupun Swasti.


''Sudah malam Mama dan Ayah kenapa masih ada di bengkel?, bagaimana kesehatan Mama? Mama banyak-banyak istirahat jangan teelalu capek.'' ucap Violet penuh kekawatiran.


''Kebetulan lagi pingin lihat-lihat saja, kalian bagaimana?'' jawab Swasti santai.


''Mamamu tidak ada kalian seperti induk ayam yang kehilangan anaknya.''  Abyas menimpali.


"Mama kami baik-baik saja bahkan keluarga di sini menyambut kami dengan baik.'' ucap Violet agar Swasti tenang, Violet paham akan kekawatiran keluarganya.


''Ya, mama tahu kami akan menjenguk kalian dalam waktu dekat, mbakmu Widuri dan Arda selalu menyakan kalian, tapi sayangnya terhalang oleh sinyal.'' ucap Swasti.


"Assalamu'alaikum .'' suara laki-laki mengagetkan Abyas Swasti serta Violet di balik telepon.


"Wa'alaikum salam.'' Abyas dan Swasti menjawab dengan sedikit gugup, Swasti langsung mematikan sambungan video callnya dengan Violet tanpa mengucap salam pada Violet, Violet tidak heran dengan tingkah Swasti Dan Abyas karena mereka sudah sepekat untuk merahasiakan keberadaan Violet dan Lingga dari Dewandaru.


''Datang tidak ngasih kabar, kita sudah mau pulang kenapa kamu malah nyusul ke sini.'' ucap Swasti berusaha tenang.


''Lagi ngajak dik Arda jalan-jalan, kasihan di rumah terus,'' ucap Dewandaru yang menggendong Arda.


''Ayah, Mama dik Lingga mana?'' tanya Arad yang berada di gendongan Dewandaru.


''Arda, sini sama Ayah,'' Abyas mengambil Arad dari gendongan Dewandaru.


''Kita pulang sekrang sudah jam tuju kasihan Widuri pasti sudah menanti kita,'' ajak Swasti.


''Ayah dan mama baru menelpon Lingga dan Vi kan?'' tanya Dewadaru dengan sedikit kesal .

__ADS_1


''Kita pulang.'' ajak Swasti tanpa menjawab pertanyaan Dewandaru .


Dewandaru dengan persaan tidak menentu mengikuti langakh kedua ornag tuanya, denagn possisi Abyas mendorong kursi roda Swasti sedangkan Arda berada di pangkuan Swasti seperti biasanya, Dewandaru, menutup  pintu bengkel setelah memasukan sepeda motornya di bengkel, Dewamdaru memilih pulang dalam satu mobil dengan kedua ornag tuanya.


__ADS_2