
Wajah Aziz langsung merah menhan malu apalagi kejadian absurd itu di saksikan oleh ibunya sendiri, tanpa mereka sadari ternyata Violet juga ikut menyaksikan kejadian tersebut niat Violet ingin menaruh barang belanjaan Utari, dengan pelan-pelan Aziz melepas pelukan Utari, hingga pelukan terlepas Utari tetap belum juga bangun. Aziz langsung meninggalkan kamar Utrai tentu dengan wajah merah menahn malu dan perasaan yang tidak menentu apalagi Aziz benar-benar menyentuh bagian tubuh Utari yang paling empuk.
''Maaf Bu, Utari kalau sudah terlalu capek memang begitu sangat sulit untuk di bangunkan apalagi hari libur seperti ini .'' tutur Violet pada Bu Lurah.
''Ibu maklum kelihatannya semalam nak Utari memang tidak tidur, wajar saja jika kelelahan.'' sahut bu Lurah.
''Kalau begitu saya tinggal dulu,'' pamit Violet.
Aziz langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri di samping untuk membersihkan diri Aziz, juga berusaha melupakan kejadian tadi yang telah mebuat tubuhnya bergetar hebat seperti terkena sengatan listrik tegangan tinggi. Satu-satunya jalan untuk menyejukkan tubuhnya yaitu dengan mandi pakai air dingin padahal jika sore tiba maka air dalam kamar mandi bisa dingin seperti air dalam kulkas.
Menjelang magrib setelah Violet dan Widuri membersihkan diri anak-anak baru di bangunkan, namanya juga anak-anak pasti butuh waktu untuk bisa bangun, Arda baru bisa bangun setelah di rayu oleh Abyas sang ayah, sedangkan Lingga membuka mata namun malah pergi memeluk Dewandaru yang masih duduk di ranjang.
''Lingga ayo bangun mandi dulu , kalau gak mau mandi lain kali tidak akan kakak traktir,'' bujuk Dewandaru lembut.
''Kakak mandiin Lingga ya, sepelti kak Alda di mandiin ayah,'' pinta Lingga manja.
''Lingga kakak belum sembuh, Lingga mandi sama Mama ya, lain kali jika kakak sudah sembuh Lingag boleh mandi sama kakak,'' bujuk Violet lembut.
Lingga langsung mengerucutkan mulutnya.
''Kakak janji jika Kakak sudah sembuh Kakak bakal ajak Lingga kemanapun asal sekarang Lingag mandi dulu sama Mama,'' bujuk Dewandaru.
''Aku mau tidul seoerti kak Alda belsama ayah dan mama tapi kata ayah Lingga gak boleh tidul sama ayah dan mama, kenpa sih?'' tanya Lingga tiba-tiba.
Dewandaru dan Violet hanya saling pandang mendengar keluh kesah Lingga.
''Lingga bolehnya tidur sama Mama dan Kakak, jika Lingga mau nanti malam kiat tidur bertiga sama Kakak,bagaimana,'' tawar Violet, agar Lingga tidak bersedih lagi ''Lingga harus bilang dulu sama Kakak, Kakakk bersedia apa tidak?''
Dewandaru tidak bisa menahan tangis haru setelah mendengar ucapan Violet barusan, Dewandaru langsung memeluk dan mencium Lingga, serta memandang Violet penuh kebahagian, sebelum Lingga bertanya Dewandaru langsung menyetujui usul Violet barusan, Lingga langsung turun dari ranjang dan memeluk Violet untuk minta gendong. Violet segera membawa Lingag untuk menuju kamar mandi, Swasti yang melihat kejadian itu sangat senang sekali, bisa meliahta anak dan cucunya hidup bahagia menjadi impian tersendiri bagi Swasti.
__ADS_1
Swasti masuk dalam kamar Violet, tentu dengan senyum penuh kebahagiaan.
''Ma,'' ucap Dewandaru, yang memancarkan kebahagiaan.
''Mama bahagia sekali melihat tadi,semoga kedepannya kalian bisa hidup bahagia.'' ucap Swasti.
''Kakak, aku sudah mandi!'' seru Lingga bahagia.
''Coba Kakak cium ,''
Linnga menuju ke tempat Dewandaru yang duduk di atas kasur.
''Bener sekali ternyata sudah wangi,'' ucap Dewandaru mencium tubuh Lingga yang masih terbungkus handuk.
''Lingga ayo cepat pakai baju nanti kedinginan,'' perintah Swasti sperti biasa.
''Kalau dingin biar di peluk Kakak,'' sahut Lingga sambil memkai baju dengan di bantu Violet.
''Dik Lingga aku sudah mandi!'' seru Arda berlari menujunkamr Violet yang sudah wangi khas bedak bayi dan ganti baju.
''Nanti aku mau tidul sama Kakak dan Mama,'' pamer Lingga bahagia.
''Iya, dik Linnga tudur sama Kakak aku sama Ayah, biar gak sempit,'' sahut Arda.
''Kak, boleh ya setelusnya Lingga tidul sam Kakak dan Mama?'' tanya Lingag pada Dewandaru.
''Kalau Kakak tentu senang sekali, bagaimana dengan Mama.'' Dewandaru tetap tidak berani mengambil keputusan secara sepihak tanpa persetujuan dari Violet, rasa bersalah Dewandaru pada Violet sangatlah besar sehingga Dewandaru harus lebih berhati-hati dalam berurusan dengan Violet apalagi Dewandaru juga tahu akan perjuangan Violet untuk sembuh dari trauma akibat perbuatannya.
''Bgaimana Ma?''
__ADS_1
''Mama lihat dulu bagaimana Lingga nurut sama Mamam nggak, sekarang ayo kita semua ambil wudu dan sholat,'' perintah Violet pada kedua bocah kecil itu''Setelah sholat kita makan dan buka apa yang kita beli tadi,bagaimana?''
''Ok Ma!'' seru Lingga dan Arda bersamaan.
Swasti sangat gembira melihat kedua bocah itu yang selalu akur sejak kecil walau jarang tinggal bersama.
Di kediaman pak Lurah, semua melakukan hal yang sama seperti di kediaman Violet yang membedakan Utari tetap terlelap dalam mimpinya dan tidak satu orangpun yang berani untuk membangunkan Utari, shingga Utari melewatkan acara makan malamnya.
''Ziz, jika nak Utari bangun kamu suruh makan kamu angeti sayurnya, kasihan kata bu Bidan nak Utari jika sudah terlalu capek dan hari libur dia bisa tidur dalam jangka waktu yang lama,'' pesan Bu Lurah pad Azzi yang masih duduk sambil menonoton televisi.
''Iya Bu.'' Aziz tidak berani membantah perintah bu Lurah.
Kirai sudah kemabli tidur dengan di temani oleh bu Lurah,pak Lurah sedang ada pertemuan di luar kota dan baru berangkat sore tadi bersama dengan beberapa staf kelurahan.
Susana rumah Violet tidak begitu ramia seperti bisabya karena kedua bocah itu sudah lelah dan ngantuk sehingga setelah makan kefua bocahb itu sudah di bawa tidur oleh kedua orang tua masing masing, seperti biasa Arda tidur bersama dengan Abyas dan Widuri, namun tidak setiaop hari karena ada kalanya Abyas tidur bersama dengan Swasti dan Arda. Lingga tidak sampai setengah jam sudah terlelap dalam pelukan Dewandaru, Lingga tidur di tengah dengan di apit oleh Vilet dan Dewandaru, bocah itu tidur dengan tenangnya dan penuh kebahgiaan.
''Vi, terima kasih atas semuanya jika boleh aku minta, aku ingin kita bisa seperti ini, hidup bersama dengan anak kita,'' pinta Dewandaru penuh kehati-hatian.
Violet hanya diam tanpa mau berbicar septah katapun, karena sebenarnya hati Violet berkecamuk antara ingin membahagiakan anaknya dan kenangan buruk yang diciptakan oleh Dewandaru.
''Sampai kapanpun aku akan menunggumu sampai kamu benar-benar iklas menerima kehadiranku dalam hidupmu, asal kamu bahagia aku juga bahagia Vi, maaf sudah membuat luka dalam hidupmu.''
Airmata Violet jatuh membasahi pipinya, sambil tangannya mengusap lembut tubuh Lingga, Dewandaru menghapus airamya Violet ''Aku mohon Vi, jangan bersedih jika kamu menginginkan Aku untuk pergi dari kehidupanmu Aku akan pergi namun satu pintaku tetap ijinkan aku untuk bisa bertemu dengan anakku.''
''Apakah Kakak sanggup melihat air mata Lingga?'' tanya Violet di tengah isak tangisnya.
''Tentu tidak Vi, aku ingin kalian bahagia, jujur aku takut menyakitimu Vi,'' tutur Dewandaru lembut sambil mengusap airamta Violet.
''Aku butuh waktu Kak, namun aku mohon jangan hancurkan kebahagiaan Lingga, dia sangat merindukan Papanya, namun aku tidak berani mengatakan nya.'' tutur Violet, lirih.
__ADS_1