
Abyas dan Swasti duduk santai di teras rumah samping sambil melepas rasa kangen, dalam kurun waktu lima tahun ini mereka berdua jarang sekali bisa menghabiskan waktu berdua.
"Bagaimana dengan Ndaru Yah?" tanya Swasti.
"Belum ada kepastian, namun menurut jadwal satu bulan lagi dia bisa keluar." jawab Abyas.
"Apa mama orang tua egois Yah?" tanya Swasti.
"Mama jangan mikir yang aneh-aneh, mama orang tua yang terbaik Ndaru, juga sudah tahu jika Ayah, tidak ada di rumah saat dia keluar dari penjara nanti, mama tahu sendiri Ndaru sudah semakin dewasa, Ndaru paham" jelas Abyas.
"Mama sebenarnya sedih sebab, Vi, tetap pada pendiriannya jika dia tidak mengijinkan Lingga, bertemu dengan Ndaru, dan Vi sendiri tidak ingin bertemu dengan Ndaru." ucap Swasti.
"Semua butuh proses Ma, Lina tahun bukan waktu yang lama untuk mengobati rasa trauma Vi, kita harus bisa memakluminya, setelah wisuda Vi, ayah akan pergi ke lokasi mengecek tempat tinggal kalian nanti, Wid dan Arda aku tinggal di sini." ucap Abyas.
"Ayah pergi dengan siapa?" tanya Swasti.
__ADS_1
"Ayah akan di temani teman ayah yang tinggal di pulau tersebut, nanti kita janjian," jelas Abyas "Apa Mama tetap ingin menemani Vi dan Lingga?" tanya Abyas lagi untuk lebih meyakinkan.
"Ya, mama akan tetap menemani mereka, kecuali ada Ndaru bersama mereka Mama baru bisa melepas Vi dan Lingga." ucap Swasti.
"Sebenarnya Ayah, tidak tega melepas kalian terlalu jauh, sampai kapan kita akan begini terus Ma?" desah Abyas memeluk tubuh Swasti.
"Tidak akan lama lagi Yah," sahut Swasti berusaha mebenanngkan kegelisahan Abyas.
"Selama ini kita selalu bersama, di masa-masa sulit kita di saat bengkel Swasti hampir tidak terselamatkan, waktu itu Ndatu masih kecil seperti Lingga dan Arda seperti sekarang, Ayah selalu ingat itu, mama orang nomer satu yang memberi semangat ke Ayah hingga sampai saat ini, sekarang di saat semua sudah sangat baik, Mama memilih pergi dari Ayah, apa salah Ayah ke Mama?" tutur Abyas, mengeluarkan kegelisahannya.
"Di antara kita tidak ada yang salah Yah, jangan menyalakan diri sendiri, sampai kapanpun Ayah orang yang paling Mama, sayangi, apapun yang Mama lakukan berharap suatu hari nanti jika mana tidak ada Ayah, sudah menua, Ayah tidak kesepian, masih ada Widuri dan Arda yang bisa menemani Ayah." jelas Swasti dengan senyum ramahnya.
"Mama itu patut bersyukur, dokter mengklaim hidup mama tidak lebih dari dua tahun, alhamdulillah masih di beri kesempatan untuk merawat dan menjaga cucu serta menantu kita, Yah."
Swasti dan Abyas banyak sekali cerita entah cerita di masa sekarang atau di masa lampau.
__ADS_1
Widuri, Violet dan anak-anak berada di kamar Violet, Arda dan Lingga sudah bermain bersama sedangkan Violet dan Widuri, bercerita Widuri tidak henti-hentinya menasehati Violet.
"Mbak, sebenarnya Vi, ingin hidup berdua dengan Lingga, kasihan Mama jika terus berpisah dengan Ayah, mbak tolong bantu rayu Mama, Vi sudah bisa jaga diri Vi dan Lingga." rengej Violet pada Widuri.
"Vi, Sebenarnya mbak sudah bilang ke mama Asti, biar mbak yang menemani Vi, tapi mama tidak mengijinkan dengan alasan pendidikan Arda." jelas Widuri.
"Tolong mbak." rengek Violet iba.
"Vi, mama akan melepasmu jika mama sudah benar-benar yakin, dengan keselamatanmu, Baiklah Mama kabulkan permintaan Vi, jika dalam beberapa bulan tinggal di sana Vi dan Lingga benar-benar aman." ucap Swasti yang sudah berada di depan pintu kamar Widuri.
"Benar apa kata Mama, Vi, Ayah, setuju dengan jalan pikiran Mama." timpal Abyas yang berdiri di belakang kursi roda Swasti.
"Terima kasih mama." Violet segera memeluk haru Swasti.
Swasti membalas pelukan Violet haru penuh kasih.
__ADS_1
(Jangan lupa baca novel kak Kai_sora)