
Beberapa warga ikut mengantar Dewandaru pergi ke klinik, karena tangan dan kaki Dewandaru tidak bisa di gerakkan jadi untuk sampai di klinik, maka Dewandaru harus din papah, sang pemilik ternak juga ikut dalam mengantar Dewandaru ke klinik, Dewandaru memejamkan matanya karena menahan rasa sakit di tubuhnya akibat benturan keras dan tertimpa sepeda motornya, sepeda moetor Dewandaru rusak berat, karean yang di tabrak sebuah pohon besar.
''Bu Bidan tolong ada kecelakaan parah!'' seru Aziz dan warga lainnya begitu sampai di pintu klinik.
''Sebentar Uda, ini sudah selesai segera baringkan di kamar pasien .'' sahut Violet dari ruang pemeriksaan.
Aziz membaringkan Dewandaru yang berlumuran darah di atas ranjang pasien, begitu selesai memeriksa pasien Violet, keluar dari ruangannya, sebelum masuk ke ruang pasien Violet, meminta maaf pada pasien yang sudah mengantri. Violet sangat terkejut mendaatii pasiennya adalah orang yang selama di hindarinya, Violet tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya hingga membuat Violet terbengong beberapa saat, begitu juga Dewandaru di tidak kalah terkejut karena orang dicarinya telah berada di hadapannya, perasaan bahagia tidak bisa di sembunyikan lagi oleh Dewandaru, saking bahagianya dewandaru sampai lupa beberapa saat .
''Bu segera tolong dia.'' ucap Aziz, dab beberapa warga yang sudah mulai panik.
Violet tanpa menyahut segera memeriksa keadaan Dewandaru dengan perasaan tidak menentu, namun Violet, tetap berusaha profesional bagaiamanpun sumpah seorang ahli medis tidak boleh membedakan pasien yang perlu pertolongan.
''Uda tolong ambilkan baju ganti untuk pasien,'' perintah Violet pada Aziz, kebetulan Bu Lurah dan Uni Saidah sedang tidak ada di tempat.
''Bagaimana Bu apa perlu kita bawa ke rumah sakit?'' tanya Aziz, cemas.
''Cukup rawat di sini saja, aku tidak mau ke rumah sakit.''
''Tidak perlu Uda, biar di sini saja.''
Antara Dewandaru dan Violet menjawab dengan sepontan dan secara bersamaan, mendengar jawaban Violet membuat hati Dewandaru meleleh.
''Kalau begitu aku tidak perlu mencari mobil.'' ucap Aziz.
''Tidak Uda, baju Uda kotor sebaiknya Uda segera ganti baju dan mandi.'' pinta VIolet sopan.
''Baik ada apa-apa segera hubungi saya.'' Aziz, pergi meninggalkan Dewandaru dalam perawatan Violet.
Mendengar ucapan Violet , pada Aziz, sedikit banyak membuat hati Dewandaru cemburu.
Violet segera mengobati Dewandaru tanpa banyak bicara, Violet tetap merawat Dewandaru sebagaimana pasien pada umumnya walau dalam hatinya bergejolak tidak menentu, bagaimanapun Violet tetap teringat peristiwa waktu itu, Violet mengobati luka Dewandaru sendirian.
''Tolong jangan kabari mama maupun ayah, aku tidak ingin mereka mencemaskanku.'' pinta Dewandaru pada Viollet, namun Viole tetap diam tidak menjawab septah katapun, dia tetap fokus pada pekrjaanya membalut luka di kaki dan tanganan Dewandaru.
__ADS_1
''Istirahatlah,'' ucap Violet datar.
''Terima kasih sudah mau merawatku,'' ucap Dewandaru tulus.
''Sudah mejadi tugasku sebgai tenaga medis, tidak usah kamu pikirkan.'' sahut Violet dingin.
''Maaaf, jika sampai hari ini kamu membenciku.'' ucap Dewandaru.
''Istirahatlah, atau aku kabari mama sama ayah.''
''Ku mohon jangan kasih tahu mereka.'' pinta Dewandaru.
"Bersikapalah sebagaimana para pasienku lainnya.'' tutu Violet tetap dingin.
Violet meninggalkan Dewandaru yang masih terbaring tidak berdaya di atas ranjang pasien, Violet kembali memeriksa pasien yang sudah menunggunya, siang ini tinggal dua orang wanita hamil yang perlu di periksa.
Dewandaru menangis bahagia karena sudah menemukan Violet, walau prtemuannya dalam keadaan yang tidak baik-baik saja, ingin sekali Dewamdaru menanyakan tentang Lingga namun Dewandaru, tidak memiliki keberanian sebab sikap Violet yang dingin dan datar.
Satu jam telah berlalu Aziz, datang ke klinik bersama dengan Kirai, sedangkan Violet juga sudah usai memeriksa pasien, sekrang jamnya istirahat. Violet membawa nasi lengkap dengan lauknya siap untuk di berikan pada Dewandaru.
''Uda kenal dengan pasien?'' tanya Violet penasaran.
''Kenal, Bapak juga kenal, karena pak Ndaru yang akan menggarap proyek Villa dan taman yang dekat dengan balai desa.'' tutu Aziz, jujur.
''O...o...ooo, jadi Uda kenal keluarganya?'' tanya Violet lagi.
''Soal keluarganya aku tidak kenal, aku dan yang lainnya hanya kenal pak Ndaru dan Tuan tanah pemilik lahan.'' tutur Aziz.
''Kalau begitu Uda temani dia makan, mungkin dia agak kerepotan karena tangan kanannnya tidak bisa di gerakkan, dia harus istirahat total selama seminggu, selama seminggu dai akan di rawat di klinik ini,'' jleas Violet.
''Baiklah,'' Aziz, paham arah pembicaraan Violet, pasalnya setiap kali ada pasien laki-laki, Violet selalu minta bantuan Aziz, atau pak lurah untuk mengawasinya.
Kirai tetap bearda di dapur ruamh Violet, sedangakn Violet dan Aziz menuju kamar Dewandaru di rawat. Violet memperlakuakan Dewandaru sebagaimana pasien lainnya, jika pasien lainnya ada keluarga yang membantu kali ini Violet harus benar-benar menguerus Dewandaru sendiri, karena hanya dialah satu-satunya keluarga Dewandaru.
__ADS_1
Violet menyuapi Dewandaru, dengan ditemani oleh Aziz, selama disuapi Violet, Dewandaru selalu memandang wajah Violet lekat,sedangkan wajah Violet tetap dingin, Aziz terus menelisik tatapan Dewaandaru pada Violet, Aziz, merasa ada yang aneh dengan sikap Violet yang tidak biasa, baisanya Violet selalu ramah pada pasiennya, namun kaki ini Violet terkesan dingin.
Selesai menyuapi Dewandaru Violet baru mengisi perutnya sendiri, gelisah dalam hatinya membuat nafsu makannya bertambah, Kirai yang menemani Violet dai merasa heran melihat porsi makan Violet yang banyak sekali.
''Bu Bidan gak takut gemu, kok makannya banyak sekali?'' tanya Kirai polos.
''Gemuk tidak masalah yang penting sehat,'' sahut Violet santai sambil menyantap nasi piring kedua.
''Kak kirai sudah makan apa belum?'' tanya Violet.
''Sudah, kok dik Lingga belum pulang ya, kemana Bundo sama uni Saidah?'' tanya Kirai sudah mulai galau.
''Mungkin jam tiga mereka baru pulang, kan acaranya lumaya. jauh,'' beber Violet.
''Bosen gak ada dik Lingga.'' gerutu Kirai.
Dewandaru memikirkan Violet, Dewandaru tahu jika Violet dalam keadaan tidak senang pasti mempunyai porsi makan yang banyak.
''Pak Aziz, dimaana bisa mendapatkan makanan?'' tanya Dwandaru.
''Di di desa sebelah pak, kenpa da yag bisa saya bantu, sebenarnya soal makanan Pak Ndaru tidak usah kawatir klinik pelayaanan di klinik kami sudah sesuia standar, jadi pasien tetap mendapatkan jatah makan.'' jelas Aziz.
''Aku hanya ingin membeli beberapa makana ringan saja.'' ujar Dwandaru.
''Kalau soal itu saya belikan, pak Ndaru mau beli apa?'' tanya Aziz.
Dewandaru menyebutkan makanan yang dia inginkan tentunya apa yang di belinya sebagian makanana kesukaan Violet, Dewandaru mengeluarkan uang dua ratus ribu di berikan pada Aziz.
''Tolong belikan semua ,'' pinta Dewandaru penuh harap.
''Memang bapak mau buka warung jajan pak?'' gurau Aziz, pasalnya dua ratus ribu hanya untuk membeli makanan ringan saja.
"Terima kasih pak Aziz, dari pada pak Aziz bolak balik nanti sekalian bisa kita makan sama Kirai dan Lingga." sahut Dewandaru.
__ADS_1
"Baiklah akai tinggal dulu."
Aziz, bergegas menemui Violet sebelum dia pergi ke toko grosir yang ada di desa sebelah, Aziz tidak mengutarakan kepeegiannnya.