
Violet semakin sibuk dengan para pasiennya, kehadiran Volet memiliki magnet tersendiri , satu bulan Violet bertugas banyak warga yang cocok dengan pengiobatan dan pelayanan Violet, Bu Lurah melihat antusias warga semakin bersemangat dalam membantu Violet, bukan hanya Bu Lurah, Aziz, juga ikut dalam berperan demi kelancaran aktivitas di klinik pasalnya sampai hari ini belum ada suster yang bisa membantu Violet.
Lingga semakin dekat dengan Kirai, apalagi Kirai yang sangat menyayangi Lingga, sehingga membuat Lingga sangat nyaman, kesibukan Violet semakin bertambah bahakan beberapa warga dari luar desa tersebut juga memilih datang ke klinik tempat Violet bertugas untuk berobat. Untyk meringankan tugas Violet bu Lurah selalu menyediakan makanan untuk Violet dan Lingga. Setiap pagi Violet selalu datang ke rumah pak Lurah untuk sarapan atau kadang membantu bu Lurah dan Uni Saidah masak.
'Assalamu'alaikumu Uda'' sapa Violet sopan mengahampiriAziz sambil menuntun Lingga .
''Wa'alaikum salam bu Bidan dan Lingga sayang, Lingga amau sekolah sama Om dan kak Kiki?'' sahut Aziz ramah.
''Aku mau cekoyah Om,'' sahut Lingga polos dan sangat antusias.
''Pamit sama mama ya,'' bujuk Aziz pada Lingga.
'Uda bisa saya minta tolong?'' tanya Violet pada Aziz yang baru mengeluarkan motornya kareana akan berangkat ke sekolahnya.
''Semoga saya bisa Bu Bidan,'' sahut Aziz sopan dan ramah.
''Tapi tidak sekarang nanti siang setelah Uda pulang dari ngajar bisa minta tolong untuk mengantar saya ke kota ada barang yang harus saya beli.'' ucap Violet yang berdiri di dekat Aziz.
''Baik Bu Bidan, kebetulan hari ini juga pulang cepat.'' sahut Aziz, senang.
''Terima kasih Uda.'' sahut Violet khas dengan senyum manisnya, Violet lalu pergi meninggalkan Aziz, yang mau berangkat ke sekolahannya.
''Sama-sama Bu, bagaimana Lingga mau ikut Om sekolah tidak/'' Aziz terus merayu Lingga .
''Ma, boleh ya,'' rengek Lingga .
''Sayang Om, harus bekerja nanti mengganggu, Lingga di rumah sama Mama saja ya,'' rayu Violet.
''Tapi Ma,'' Lingga tidak terima di larang oleh Violet.
''Sayang, ingat gak pesan Oma,'' ucap Violet lembut.
''Tidak apa Bu, kebetulan hari ini tidak ada pelajaran hanya persiapan buat lomba, kasihan Lingga jika di rumah terus, biar saya ajak saja bukankah hari ini Bu Bidan banyak pasien, sekalian biar Lingga tidak bosan.'' tutur Aziz sopan.
''Takutnya Lingga menangis Da,'' tutur Violet sungkan karean sudah terlalu sering merepotkan Aziz dan keluarganya.
__ADS_1
''Ada Kirai, Bu Bidan jangan kawatir.'' Aziz meyakinkan keraguan Violet.
''Bagaiamana Lingga, Mama ijinin tapib tidak boleh nangis karena Om harus bekerja,'' tutur Violet lembut .
''Ok Mama, Lingga taidak akan nakal.'' Lingga girang sekali stelah mendapat ijin dari Violet.
''Terima kasih Uda,'' tutur Violet sopan.
''Saya senang sekali bisa ngajak Lingga, sekalian nanti saya tanyakan ke guru TK di dekat sekolahan, siapa tahu Lingga bisa dititipkan di sana,'' jelas Aziz.
''Terima kasih Uda, kalau begitu saya masuk dulu, assalamu'alaikum.'' pamit Violet sopan.
''Wa'alaikum salam,'' sahut Aziz dengan senyum ramahnya.
Violet meninggalkan Aziz yang sedang memanaskan motor tigernya, sdengakan Violet menuju dapur bu Lurah sambil menggandeng Lingga.Sambutan keluarga pak lurah dan warga membuat Violet tidak mersakan jika sekrang ternyata sudah dua bulan Violet berada di desa tersebut, semakin hari Violet dan Lingga semakin dekat dengan keluarga pak Lurah, pasien setiap hari selalu datang silih berganti, bahakan dari desa tetangga juga sudah mulai berdatangan untuk berobat di klinik Violet.
Asssalamu alaikum bu,'' sapa Violet ramah pada Bu Lurah yang sedang memasak bersama dengan Uni Saidah.
''Walaikum salam ,'' sahut Bu lurah ,Uni saidah dan Kirai yang ada di dapur.
''Enggakn kak, Uda pasti nungguin aku.'' sahut Kirai polos.
''Kak, aku mau cekolah ama Om.'' celoteh Lingga bangga.
''Jangan bohong,'' sahut Kirai.
''Iya,'' sahut Lingga meyakinkan.
''Uda yang ngajak, biar Lingga tidak bosen, biar Lingga lebih banyak mengenal teman.'' sahut Aziz yang tiba-tiba muncul dari luar.
''Nanti kamu gak kerepotan Uda?'' tanya BU Lurah.
''Tidak Bundo, hari ini hanya ada persiapan buat lomba tidak ada pelajran, nantikan ada Kirai, tennag saja,''
sahut Aziz santai sambil mengambil nasi untuk sarapan ''Lingga ayo sarapan dulu sama Om, sini Om suapi biar nanti Lingga kuat dan sehat seperti Mama.'' rayu Aziz.
__ADS_1
''Hati-hati jika kamu mengajak Lingga pesan Bu Lurah,'' pesan bu Lurah.
''Asik bisa ajak dik LIngga,'' Kirai sangat girang mendengar pengakuan dari Aziz.
Semua sarapan bersama di dapur, mereka ambil duduk tidak beraturan karena di rumah pak lurah tidak ada meja makan, Aziz dengan senang hati menyuapi Lingga, dan Lingga makan dengan lahapnya. Selesai sarapan semua kembali melakukan aktifitas masing-masing.
Aziz berangkat ke sekolahannya dengan membonceng Kirai dan Lingga, kedua anak itu sangat girang bisa berangkat sekolah bersama-sama. Pak lurah dan bu Lurah juga sudah berangkat ke balai desa, bu Lurah ikut ke palai desa karena ada pertemuan dengan ibu-ibu PKK. Violet dengan dibantu oleh Uni Saidah berada di klinik untuk melayani para pasien yang sedang berobat.
Lingga sangat senang sekali berada di sekolahan di sana Lingga berkenalan dan bermain dengan murid lainnya, Kirai sangat antusias mengenalkan Lingga pada teman-temannya dan pada guru lainnya.
Keberadaan Lingga menarik perhatian hampir seluruh penghuni sekolah tersebut, seperti yang di katakan Aziz tadi pagi bahwa tidak ada pelajaran di sekolah hanya persiapan lomba dan menerima tamu kunjungan dari kepolisian sebagai bentuk pengenalan anak-anak pada keberadaan polisi. Melihat ada polis yang sandang Lingga sangat senang sekali tanpa ada rasa takut Lingga datang menghampiri polisi tersebut, kebetulan yang datang satu polwan dan satu polisi laki-laki, Lingga langsung menuju polwan yang letaknya dekat dengan Lingga.
"Bu polici," panggil Lingga yang sudah berdiri di depan polwan, Azua yang mengetahui ulah Lingga langsung datang menghampiri Polwan tersebut yang sudah menyambut kedatangan Lingga dengan senyum hangat.
"Adik manis, kamu memanggil saya?" tanya Polwan tersebut langsung duduk menyamai tinggi Lingga, polisi waninay tersebut kagum dengan sikap Lingga yang pemberani.
"Bu polici ingat Lingga?" tanya Lingga polos.
Mendengar nama Lingga Polwan tersebut sedikit tersentak, sebab nama tersebut seperti tidak asing di telinganya, namun suatu hal yang tidak mungkin terjadi menurutnya.
"Maaf bu, ini keponakan saya." ucap Aziz sopan.
"Tidak apa-apa pak guru, dia anak yang berani." tambah Polwan tersebut.
"Bu polisi kenal dengan keponakan saya?" tanya Aziz, penasaran.
"Tentu tidak pak, ini pertama kalinya saya melihatnya dan saya juga baru pertama kali datang di desa ini," sahut polisi wanita tersebut jujur.
"Lingga pernah ketemu saya Bu polisi ?" tanya Polisi wanita tersebut lembut.
"Pelnah pas lihat kakak baik." sahut Lingga polos.
"Berapa kali?" tanya Polisi wanita tersebut lembut.
"Lupa." jawab Lingga polos.
__ADS_1