
Violet sangat ketakutan, apalagi mendengar suara deru motor di luar tempat dia disekap, Violet benar-benar tidak tahu apa yang telah terjadi tadi, yang dia ingat hanya menanti Utari, di parkiran, siapa yang membawanya kemari Violet juga tidak tahu, apalagi tentang motif dan tujuan sang penculik, Violet, sama sekali tidak tahu menahu, apalagi Violet merasa tidak memiliki musuh sama sekali, langkah seseorang semakin mendekat membuat Violet semakin ketakutan.
Sekarang yang ada dibayangan Violet, adalah seorang laki-laki tua, besar dan menyeramkan dengan banyak anak buah, di sekelilingnya.
"Mbak Wid, tolong aku, aku, takut mbak, ayah tolong, tolonglah Vi, mama, aku takut sekali." rancau Violet dalam hati, dengan derai air mata yang tidak berhenti mengalir.
Violet semakin ketakutan ketika pintu dibuka, seorang pemuda telah berdiri di pintu dengan membawa ransel, setelah menaruh barang bawaannya Dewandaru, memasukan motornya ke dalam rumah tersebut agar tidak ada yang curiga, meski lokasi jauh dari pemukiman warga Dewandaru, tetap waspada disamping itu cauaca di luar juga sangat mendung dan menggelap, dari motornya Dewandaru, menurunkan sekantong kresek berisi makanan dan minuman, Dewandaru sengaja membeli bekal untuk beberapa hari dan Dewandaru tidak lupa dia juga membeli lilin untuk penerangan.
Violet berusaha bersuara namun karena mulutnya di bekap sehingga suaranya tidak keluar, Violet terus meronta ingin dilepaskan namun Dewandaru tidak peduli, hati Dewandaru sudah dipenuh api amarah dan dendam yang tidak jelas duduk perkaranya.
Di luar sangat mendung tidak lama hujan turun dengan sangat deras, guntur menggelegar bersahut sahutan, beruntung rumah tua tersebut masih sangat kokoh sehingga tidak ada genting yang bocor, keadaan rumah tertutup rapat semua masih aman terkendali tidak ada air yang masuk ke dalam rumah.
Dewandaru membuka bekapan mulut Violet, Dewandaru menyuapi Violet makanan namun di tolak mentah-mentah oleh Violet, Dewandaru terus menyuapi Violet dan Violet terus menyemburkan makanan yang disuapkan oleh Dewandaru, ke dalan mulut Violet. Dewandaru, merasa jengkel dan kesal tidak lagi menyuapi Violet, Dewandaru memakan makanannya sendiri tanpa menghiraukan amarah Violet.
"Siapa kamu? Apa salah aku? Kenapa kamu menculik aku? apa yang kamu mau dariku?" teriak Violet di tengah suara hujan dan guntur yang terus menggelegar secara bersahut-sahutan.
__ADS_1
"Kamu tidak perlu tahu siapa aku, kamu harus merasakan penderitaan mamaku, kamu telah merebut ayahku dariku dan dari mamaku!" teriak Dewandaru dingin penuh amarah "Kamu telah berselingkuh dengan ayahku, Wi... du... ri, nama yang bagus namun tidak sesuai dengan kelakuanmu kamu telah menjadi duri dalam rumah tangga orang lain, nyalimu sungguh besar nona manis, sudah berapa kali kamu tidur dengan ayahku? Hahh!" bentak Dewandaru semakin nenggila, dan mata sudah memerah penuh amarah.
"Tidak... Ti... Tidak... Tidak mungkin!" ucap Violet, dengan bibir bergetar takut dan panik, saking paniknya Violet tidak bisa berpikir jernih.
"Apanya yang tidak mungkin, aku melihat sendiri kamu bermesraan dengan ayahku, aku punya bukti itu semua, aku sudah menyelidikinya sendiri." teriak Dewandaru, Dewandaru mendengar jawaban Violet, yang mengelak semakin murka, Dewandaru tetap mengira Violet adalah Widuri.
"Tolong lepaskan aku! Aku bukan Widuri, aku tidak selingkuh dengan ayahmu!" teriak Violet sambil terus meronta berusaha melepaskan ikatan kaki dan tangannya.
"Jangan mengelak aku tidak percaya dengan ucapanmu, Aku punya bukti kamu bermesraan dengan ayahku, kamu harus hancur Widuri!" teriak Dewandaru semakin mengilla.
"Tidak... tidak lepaskan aku, aku bukan Widuri, aku Violet, aku tidak ada hubungan dengan ayahmu, siapa ayahmu aku juga tidak tahu!" teriak Violet, frustrasi dan semakin ketakutan.
Tangisan Violet, terus membuncah hingga kelelahan dan kehabisan tenaga untuk meronta dan melawan Dewandaru yang sedang di kuasai oleh api amarah hingga Violet, sangat lemas dan tertidur. Setelah sekian menit tubuh Dewandaru sudah mulai pulih, Dewandaru baru bisa mencerna dan menyadari setiap pengakuan Violet, Dewandaru berusaha mencari kebenaran dari ucapan Violet, Dewandaru membuka tas ransel kecil milik Violet, Dewandaru membuka dompet di sana ada kartu pelajar atas nama Violet Garjita, Dewandaru langsung lemas meyesali perbutannya karena telah menyakiti, menghancurkan dengan merenggut madu Violet.
Hawa dingin menghinggapi tubuh mereka berdua, Violet kedingianan dan terus menggigil, tubuhnya mulai pucat pasi. Dewandaru mengambil tas ranselnya untuk mencari sesuatu untuk bisa menghangatkan tubuh Violet, untung di tas ada tikar piknik, selimut, serta kaos kaki. Dewandaru segera membungkus tubuh Violet, dengan selimut serta memasangkan kaos kaki milik Dewandaru yang masih bersih, karena tubuh Violet hanya terbungkus dengan baju yang sudah di koyaknya tadi.
__ADS_1
Setelah membungkus tubuh Violet, Dewandaru mencari obat di dalam tas ranselnya siapa tahu ada obat, beruntung masih ada setengah obat paracetamol, tanpa pikir panjang Dewandaru meminumkan obat tersebut, Violet deangn tubuh yang sangat lemah dia berusaha menolak obat pemberian Dewandaru, namun Dewandaru tidak kehilangan akal, dia terus berusaha memaksa Violet untuk menelan obat tersebut dan memakan sedikit roti.
Dewandaru berusaha memeluk Violet yang terbungkus oleh selimut, sampai akirnya Violet kembali tidur dengan damai, Dewandaru terus memandangi wajah Violet yang tengah tidur dengan tenang. Dewandaru sangat frustasi, mengingat kejadian barusan, betapa bej4tnya kelakuannya barusan menyakiti dan merusak seorang gadis yang tidak berdosa.
"Apapun yang akan terjadi nanti aku akan tetap mempertanggung jawabkan semua ini, boleh atau tidak aku tetap menikahimu segera, dan aku juga tidak peduli kamu bersedia atau tidak aku akan menikahimu." ucap Dewandaru lirih, penuh penyesalan sambil terus memeluk erat tubuh Violet, yang masih pucat pasi dan terus menggigil kedingianan.
Malam semakin larut, di luar terdengar suara jankrik dan kodok yang saling bersahut-sahutan, menyanyikan nyanyaian malam yang sangat merdu penuh kegembiraan. Dewandaru tidak bisa memejamkan matanya, dia terus terjaga Dewandaru, meminum kopi kalengan yang dia belinya tadi, dan hand phone-nya otomatis sudah mati karena tidak ada sinyal. Dewandaru terus wsapada dia takut kalau ada bintang yang mengganggu tidur Violet.
Dewandaru mengalami penyesalan yang mendalam, dia terus berpikir ada hubungan apa antara Violet dan Widuri keduanya memiliki paras yang sangat mirip sekali.
"Sialan!" umpat Dewandaru frustrasi.
"Siapa Widuri? dan apa yang kamu lakukan yah, apa benar Widuri hamil lalu gadis ini siapa?" Berbagai macam pertanyaan telah memenuhi otak Dewandaru, otak yang biasanya di pakai untuk memikirkan tentang desain bangunan kini penuh dengan pertanyaan konyol dan bodoh atas kecerobohannya.
Dewandaru tidak henti-hentinya merutuki kebodohannya, padahal tinggal selangkah lagi sudah hisa menyandang gelar insyinyur, dan lagi impian untuk bisa melanjutkan S2-nya juga harus dipendam dalam-dalam, yang ada di dalam otak Dewandaru sekarang adalah kemarahan kedua orang tuanya dan jeruji besi yang sudah menanti kehadirannya.
__ADS_1
"Aku yang merusakmu dan aku tidak akan membiarkanmu dihina orang lain, aku akan terus mempertahankanmu, apapun yang terjadi sampai kapanpum aku tidak akan melepaskanmu untuk orang lain, aku tahu kamu pasti membenciku, bencilah aku sepuasmu." Dewandaru duduk sambil terus memandang tubuh Violet, yang sudah mulai segar, Dewandaru terus bermonolog sendiri.
"Sekalipun kamu membunuhku, aku terima memang ini karma yang harus aku terima, aku tahu ayahku pasti memukulku karena telah merusak anak orang, bagaimanapum aku harus terima konsekuwensi." gumam Dewandaru dalam hati.