
Violet membantu Uni Saidah dan bu Lurah di dapur untuk menyiapkan makan siang, bu Lurah maupun uni Saidah tidak menyinggung tentang status Violet dan Dewandaru apalagi menanyai tentang sikap Violet, yang dingin pada Dewandaru.
Utari berusaha mencari keberadaan Violet, di dalam klinik namun Utari tidak menemukan, akirnya Utari mencari di rumah yang dekat dengan klinik, Utari mendengar ada suara dari dalam dapur tersebut, Utari segera menuju dapur
"Assalamu'alaikum." sapa Utari, dari pintu dapur.
"Wa'alaikum salam." sahut mereka bertiga.
"Silakan masuk Bu, silakan duduk." sambut Bu Lurah dan Uni Saidah bersamaan.
"Tar, masuk saja, maaf aku tinggal bantu-banti di dapur." sahut Violet.
"Sudah siang aku mau pamit, Vi, lain kali kesini lagi, tadi Aku ambil kartu namamu Vi." ucap Utari.
"Makan dulu sudah kami siapkan." ucap Bu Lurah ramah.
"Iya Tar, makan dulu aku sudah masak, ayo cicipi kamu gak kangen makan masakanku?" ucap Violet.
"Sebenarnya kangen Vi, tapi sudah sangat siang, mau istirahat, hari ini piket malam, aku pamit dulu sesering mungkin aku akan ke sini kok." sahut Utari, sopan.
"Kalau gitu, kamu bekal saja dari pada nanti kamu beli, aku bungkusin dulu, jangan di tolak, kamu duduk dulu Tar, sebentar bungkusnya cepet kok." paksa Violet.
"Baiklah, biar aku bawa pulang, kalau libur aku pasti nginep sini Vi." sahut Utari bahagia.
"Tentu boleh sekali dan aku pasti senang sekali segera telpon aku ya, kalau kita sama-sama libur bisa jalan bareng lagi kaya, dulu." tutur Violet, bahagia sambil membungkus makanan untuk Utari, "Lingga masih di sana kan Tar?" tanya Violet pada Utari.
"Masih, anakmu tidur nyenyak dengan bapaknya, tadi mau aku pindah sama bapaknya gak boleh." tutur Utari, jujur.
"Kebiasaan memanjakan anak, dari dulu gitu." gerutu Violet pada Utari.
"Namanya juga bapak Vi, pasti mau memberikan yang terbaik untuk putranya, nomorku ada pada suamimu, nanti kamu minta saja ke suamimu." tutur Utari.
"Bu polisi ini kawan baik Bu Bidan-kah, sudah berkeluarga?" tanya Bu Lurah, ramah.
"Iya Bu, kami bertemam sejak di bangku sekolah menengah pertama, dan kami juga selalu satu kelas." sahut Utari sopan.
"Dia, beluk menikah Bu, kayanya cocok dengan Uda, biar kita bisa dekat terus." goda Violet.
__ADS_1
"Tak baik, begitu Bu Bidan." nasehat bu Lurah.
"Bu Bidan memang begitu bu, bairalah asal dia bahagia, padahal dulu kita pernah bercanda mau menikah bareng, nyatanya takdir berkehendak lain." tumpal Utari, santai.
"Maaf Tar, hanya ini yang bisa aku berikan ke kamu, Aku tahu kamu gak suka memasak, jadi ini lauknya aku pisah paling tidak bisa di angeti sampai lusa." tutur Violet sambil menyodorkan sekantong makanan pada Utari.
"Alhamdulillah kamu sahabat yang paling mengerti aku Vi, terima kasih banyak baunya Harum sekali, kalau begini caranya aku akan lebih rajin ke sini, biar dapat makan gratis dan istimewa, benar-benar rejeki nomplok." tutur Utari bahagia "Terima kasih banyak Vi, aku pamit dulu."
"Terima kasih Vi, kapan-kapan kita jumpa lagi ada banyak hal yang akan Aku ceritakan ke kamu, maaf lalu dulu aku menolak kedatanganmu." tutur Violet lirih sambil memeluk erta Utari untuk berpamitan.
"Aku paham, Mbak Wid, banyak cerita ke aku yang penting sekarang kita bisa bersama lagi." tutur Utari, haru.
Mereka saling melepas pelukan dengan perasaan haru.
"Bu, terima kasih, saya pamit dulu lain kali saya akan lebih sering datang ke sini." pamit Utari sopan dan ramah.
"Hati-hati Bu, seringlah datang ke sini agar Bu Bidan lebih banyak temannya," tutur Bu Lurah ramah.
Mereka saling bersalaman dan mengantar Utari hingga berada di depan klinik, Utari datang dengan mengendarai sepeda motor tril.
"Wa'alaikum salam, hati-hati." sahut mereka bertiga.
Utari pergi dengan mengendari sepeda motor tril warna hitam.
"Teman Bu Bidan, baik, cantik, sopan." puji Bu Lurah pada Utari.
"Terima kasih Bu, ibu sepertinya suka dengan taman saya itu." goda Violet pada Bu Lurah.
"Suka." sahut bu Lurah jujur.
"Tapi ya seperti yang Ibu lihat Utari tidak pandai memasak, apa yang dia katakan tadi benar, dulu kami saling melengkapi Utari tisak pandai memasak sedangkan saya tidak suka setrika baju." tutur Violet jujur.
"Tidak mengapa, jika berjodoh dengan Aziz, Aziz pandai memasak, Ibu tidak akan memaksa menantu-menanti ibu harus pintar memasak karena setiap orang pasti memiliki kelebihan yang berbeda." tutur bu Lurah lembut.
Uni Saidah sudah kembali di dapur untuk menyiapkan makan siang, sedangkan Violet dan Bu Lurah menuju kamar Dewandaru, mereka melihat Dewandaru tidur dengan Lingga, sangat damai. Melihat kedekatan Lingga dan Dewandaru, sedikit banyak membuat hari Violet, meleleh.
"Mereka berdua bagai pinang di belah dua, pantas sekali pak Ndaru sangat menyayangi Lingga." tutur Bu Lurah.
__ADS_1
"Dari dalam kandungan memiliki sifat mirip papanya, waktu Lingga dalam kandungan yang ngidam bukan saya malah suami saya." tutur Violet, sopan.
"Bersyukurlah Bu Bidan, memiliki suami berhati emas seperti pak Ndaru," tutur bu Lurah lembut.
"Alhamdulillah Bu, saya bersyukur sekali selain diberi suami yang baik saya juga diberi mertua yang sangat menyayangi saya dan anak saya." tutur Violet sopan dan lembut, Violet sebisa mungkin untuk tidak membuka aib masalalunya dengan Dewandaru.
"Alhamdulillah." sahut bu Lurah ramah.
Violet dan bu Lurah meninggalkan kamar Dewandaru yang masih terlelap dengan Lingga, bu Lurah tidak henti-hentinya menanyakan tentang kehidupan Utari, Violet dengan senang hati menjawab pertanyaan bu Lurah dengan jujur.
Violet membawa makanan Dewandaru sendiri, Violet, walau belum bisa menerima Dewandaru seutuhnya sebagai suaminya, namun Violet, tetap merawat Dewandaru. Violet melihat Dewandaru dan Lingga tidur dengan lelap, membuat hari Violet tidak tega untuk membangunkannya.
Violet mengambil hand phone-nya, setelah dibuka ternyata beberapa panggilan video call dari Abyas, Widuri dan Swasti sudah berjajar, Violet menelpob balik Abyas.
"Assalamu'alaikum Vi, bagaimana kabar kalian?" tanya Abyas dari seberang telpon.
"Wa'alaikum salam Ayah, maaf tadi ada tamu, alhamdulillah kabar kami baik, ayah sendiri bagaimana dan sekarang Ayah ada di mana?" tanya Violet.
"Alhamdulillah semua sehat, cuma Arda kangen Lingga setiap hari selalu bertanya kapan bisa bertemu dengan dik Lingga, Ayah di bengkel sebentar lagi pulang ." tutur Abyas.
"Ayah, maaf ada hal penting yang akan Vi, sampaikan sebelumnya Vi, minta maaf." tutur Violet ragu-ragu.
"Ada apa Vi, katakan pada Ayah." ujar Abyas yang dapat menangkap kegekisahan Violet dari balik layar.
"Kak, Ndaru apa susah telpon Ayah dan Mama?" tajga Violet ragu.
Abyas sangat terkejut mendengar pertanyaan Violet barusan.
"Belum, tumben dia tidak merespon panggilan kami." tutur Abyas.
"Maaf Yah, sebelumnya." tutur Violet.
"Katakan Vi, jika kamu tidak kerasan bilang ke kami pasti kami datang untuk menjemput kalian." tutur Abyas, khawatir.
"Bukan itu Yah, Ayah lihat saja sendiri."
Violet membawa hand phone-nya menuju kamar Dewandaru, dan dari balik layar terlihat jelas gambar Dewandaru yang sedang tidur nyenyak dengan Lingga.
__ADS_1