Gelora Noda Dan Cinta

Gelora Noda Dan Cinta
Part 60


__ADS_3

"Bu, tolong!" panggil Dewandaru.


Mendengar suara Dewandaru, Violet dan Pak Lurah langsung masuk ke dalam ruangan, Violet masih dengan wajah dinginnya.


"Selamat sore pak Ndaru, bagaimana keadaannya?" tanya pak Lurah.


"Alhamdulillah, Pak masih di beri kesempatan untuk bernafas." sahut Dewandaru, sedikit bercanda "Apalagi bisa di rawat Bu Bidan andalan desa ini."


"Mau minta tolong apa?" tanya Violet tetap ketus.


"Maaf bu, tolong cas hand phone saya, chargernya di dalam tas saya," pinta Dewandaru sambil menyodorkan hand phone-nya.


"Kalau ingin cepat sembuh hentikan main hand phone-nya." gertak Violet, ketus, sambil membantu mengecas hand phone Dewandaru di dekat ranjang Dewandaru "Mama telpon." ucap Violet, begitu melihat nama mama yang muncul di layar hand phone Dewandaru.


"Nanti saja aku telpon balik." sahut Dewandaru, lembut dan senyum ramah.


Violet segera pergi meninggalkan Dewandaru di kamar yang ditemani oleh pak Lurah.


Pak Lurah terbengong melihat ulah Violet, sebab selama beberapa bulan bertugas Violet, terkenal ramah dan lembut terhadap siapapun, bukan hanya pak Lurah, Uni Saidah yang sedang duduk di ruang tunggu ikut heran setelah mendengar ocehan Violet, yang terdengar ketus saat berbicara dengan Dewandaru.


"Maaf, pak atas sikap bidan kami, tadinya laporan Aziz dan Kirai saya kira hanya sebuah gurauan belaka, sekali lagi kami benar-benar minta maaf atas ketidak nyamanannya." tutur pak Lurah sopan, karena merasa tidak enak.


"Tidak apa pak, jangan diambil hati mungkin bu bidan lelah, saya tetap diijinkan dirawat di sini saja sudah bahagia sekali, pak." jawab Dewandaru lembut dan tulus, penuh gurauan.


Pak Lurah semakin heran dengan sikap Dewandaru, yang tetap tenang dan lembut walau mendapat perlakuan kurang baik dari Violet. Pak Lurah setelah mengamati wajah Dewandaru, beberapa saat pak Lurah baru menyadari jika wajah Dewandaru mirip sekali dengan Lingga.


"Baiklah, yang penting Pak Ndaru nyaman, jika ada hal yang membuat pak Ndaru tidak nyaman, bilang saja ke saya, inshaallah saya akan bertanggung jawab atas klinik ini." tutur pak Lurah sopan.


"Pak Lurah tidak usah sungkan seperti ini, ada yang merawat saya sudah bersyukur sekali, saya mohon ke bapak jangan di ambil hati tentang perkataan bu bidan tadi." tutur Dewandaru, lagi untuk meyakinkan pak Lurah.


"Baik pak Ndaru semoga lekas sembuh, beristirahatlah, semoga nyaman di klinik ini, saya pamit dulu hampir magrib." pamit pak Lurah sopan.


"Silakan pak, terima kasih. " sahut Dewandaru ramah.


Setelah magrib Violet mengantar sendiri makanan ke kamar Dewandaru, karena semua masih berada di rumah pak Lurah. Violet dengan telaten membantu Dewandaru melakukan aktifitas lainnya.

__ADS_1


"Lingga di mana dari tadi Aku belum mekihatnya?" tanya Dewandaru, penasaran.


"Di rumah pak Lurah." sahut Violet singkat.


"Aku merindukan kalian." tutur Dewandaru, tulus.


"Makanlah!" perintah Violet ketus.


Dewandaru tidak lagi berbicara, dia kembali menyantap makan malamnya sendiri menggunakan tangan kiri, beruntung tangan kiri masih bisa di gunakan.


"Dari tadi mama mencemaskanmu, segera telpon balik mama!" perintah Violet, ketus.


"Nanti, apa yang di katakan mama?" pancing Dewandaru.


"Hanya mengeluh panggilannya tidak kamu tanggapi." tutur Violet ketus.


"Terima kasih sudah Sudi merawatku dengan iklas." ucap Dewandaru sendu.


"Sudah ku bilang, apa yang aku lakukan semata-mata karena sumpah janjiku sebagai ahli medis, habis ini uda Aziz, yang menunggumu, jangan bicara macam-macam!" ancam Violet, dingin.


Selesai merawat Dewandaru, Violet berada di rumah pak Lurah, untuk menemani Lingga sebelum tidur. Violet tidak mengijinkan Lingga untuk berada di klinik, alasannya karena Violet masih belum siap menerima kenyataan jika Dewandaru merupakan Ayah Lingga, Violet tahu jika Lingga bisa mengenali Dewandaru, sebab berkali-kali orang tuanya membawa Lingga mengunjungi Dewandaru di dalam penjara.


Aziz menemani Dewandaru, kedua Pemuda tersebut bercerita bercengkerama, sambil menyantap makanan ringan, mereka bercerita banyak hal terutama soal laki-laki, pekerjaan dan tujuan hidup.


Jam sembilan malam, Aziz, sudah pulang Sekarang ganti Violet yang menjaga Dewandaru.


Aziz dan Pak Lurah duduk di ruang santai membahas kejanggalan tingkah Violet ke Dewandaru.


"Pak Ndaru itu sebenarnya siapa? Ini suatu kebetulan atau gimana antara Lingga dan pak Ndaru seperti pinang di belah dua." tutur pak Lurah.


"Aziz pikir juga begitu pak, kenapa wajah Pak Ndaru mirip sekali dengan Lingga, mau tanya takut tersinggung, coba besok saja kita bawa Lingga melihat pak Ndaru." usul Aziz, pada pak Lurah.


"Besok, biar aku saja yang mengajak ya bertemu dengan Pak Ndaru." usul pak Lurah.


"Besok bapak gak ke kantor?" tanya Aziz.

__ADS_1


"Agak siang, bapak ke kantor."


Rasa penasaran Pak Lurah dan Aziz terus memenuhi pikirannya.


Uni Saidah dan Violet tidur di klinik, untuk menjaga Dewandaru, Uni saida sedikit banyak mencurigai Violet dan Dewandaru, melihat dari sikap Violet yang sangat mencolok, tidak mungkin Violet, bersikap tidak wajar jika tidak saling kenal.


Dewandaru tidur dengan pulasnya akibat efek obat yang di berikan oleh Violet, namun tidak dengan Violet dan Lingga, Violet gelisah tidak bisa tidur berkali-kali menengok Dewandaru yang tidur pulas di kamarnya. Jam satu malam karena Lingga, rewel merengek mencari Violet, maka Aziz mengantar Lingga ke klinik.


"Mama!" seru Lingga.


Violet segera menuju pintu utama begitu mendengar suara Lingga.


"Sayang, kok belum tidur?" tanya Violet penuh kasih.


"Dari tadi Lingga gelisah, entah kenapa tidak biasanya begini." sahut Aziz, dengan wajah kusamnya.


"Terima kasih Uda, Lingga biar di sini saja, Uda istirahat saja." ucap Violet sopan.


"Bu bidan benar tidak apa-apa menjaga pasien dan Lingga?" tanya Aziz memastikan.


"Tidak apa-apa Uda, Lingga beberapa hari ini memang rewel terus, Uda istirahat saja, saya baik-baik saja." sahut Violet sopan.


"Ada apa-apa segera panggil kami." pesan Aziz, sebelum meninggalkan klinik.


Violet membawa Lingga masuk ke dalam, tidak butuh lama Lingga sudah tidur pulas di kasur lantai yang ada di ruang tunggu klinik.


"Sebenarnya Lingga ada apa tumben beberapa hari ini dia rewel terus." tanya Uni Saidah yang terbangun, setelah mendengar suara percakapan mereka bertiga.


"Mungkin kecapek-an bermain Uni, anak-anak kan begitu." sahut Violet, tenang.


"Besok kita pijatkan saja." usul Uni Saidah.


"Ya, Uni." Violet menyetujui usul uni Saidah.


Uni Saidah kembali tidur, Violet berbaring sambil memeluk Lingga yang sudah terlelap dengan tenangnya. Sedikit banyak Violet tahu penyebab Lingga rewel, kejadian ini bukan untuk yang pertama kalinya setiap kali Dewandaru, mendapat musibah Lingga, selalu rewel ikatan batin antara Lingga dan Dewandaru memang tidak diragukan lagi, walau jarang sekali bertemu dengan Lingga, Dewandaru sangat menyayangi Lingga dan Violet.

__ADS_1


__ADS_2