Gelora Noda Dan Cinta

Gelora Noda Dan Cinta
Part 58


__ADS_3

Violet menikmati makan siangnya dengan porsi di tidak biasanya, kegundahan dalam hatinya membuat nafsu makan Violet, bertambah, Kirai yang melihat kelakuan Violet hanya terbengong pasalnya Violet sudah menghabiskan dua piring nasi dan sekarang masih nambah lagi.


"Bu bidan gak takut gendut?" tanya Kirai, keheranan.


"Gak papa gendut asal tetap sehat." sahut Violet, santai sambil terus melahap makanannya "Kirai mau aku suapi makanannya enak sekali." Violet menawari Kirai.


Kirai tidak menjawab hanya mengernyit kereharanan "Tumben sekali apa jangan-jangan bu bidan kesurupan hantu busung lapar," oceh Kirai, masih dengan ekpresi herannya.


"Mana ada hantu busung lapar Ki, yang ada hantu pohon besar yang di tabrak orang tadi." jawab Violet, asal sambi terus melahap nasinya santai.


"Wah, jangan-jangan... Hi... Hi... Hi... Bu aku keluar dulu takut kesurupan juga." ujar Kirai langsung lari meninggalkan Violet yang masih menyantap makan siangnya di dapur.


"Ki... Ki tunggu!" teriak Violet, namun Kirai tetap pergi tanpa menghiraukan panggilan Violet.


Violet sudah menghabiskan tiga piring nasi, Violet baru menyadari saat melihat lauk di atas meja sudah habis di lahabnya bahkan rice cookernya juga sudah kosong tidak ada sisa nasi sedikitpun.


"Ya, Allah, apa yang harus aku katakan pada Uni dan bu Lurah, kenapa jadi begini." gerutu Violet, duduk lunglai di kursi meja makannya.


Selesai makan Violet kembali ke klinik, di klinik hanya ada satu pasien yaitu hanya Dewandaru saja, hari ini pasien yang datang juga tidak seperti biasa sampai menjelang jam tiga sore tidak ada satupun pasien yang datang.


Violet duduk di tempat kerjanya seorang diri sambil mengecek ulang nama pasien, ternyata nama Dewandaru belum masuk daftar pasiennya.


"Gedebuk."


Sebuah suara jatuh berasal dari kamar yang di tempati oleh Dewandaru, Violet terkejut langsung lari menuju kamar Dewandaru.


"Apa yang kamu lakukan!" seru Violet panik.


Dewandaru tidak menjawab dia meringis menahan rasa sakit yang tidak tertahankan, Violet berusaha menolongnya sendiri pasalnya tidak ada orang di sana.


"Kemana juga uda." oceh Violet kesal.


"Terima kasih, maaf merepotkanmu, jangan salah kan Pak Aziz, aku yang meminta bantuan dia untuk belanja." suara Dewandaru parau, sebenarnya Dewandaru ingin memeluk erat Violet, namun suatu hal yang tisak mungkin di lakukan, Dewandaru takut Violet malah menampakkannya.

__ADS_1


"Masih kurang rasa sakitnya, mau tangan dan kakimu patah." omel Violet, dingin "Lihat sekarang tanganmu berdarah kalau kamu tidak nurut aku kirim kamu ke rumah sakit." oceh Violet dingin.


"Bisa minta tolong antarkan aku ke kamar mandi." pinta Dewandaru pelan.


"Kenapa tidak minta tolong dari tadi malah menyiksa diri sendiri seperti ini, apa memang kamu sengaja agar sakit lebih parah." omel Violet dingin dan ketus.


Dengan sikap dinginnya Violet tetap membantu Dewandaru untuk pergi ke kamar mandi.


"Terima kasih." ucap Dewandaru setelah kembali di ranjangnya.


Violet mengobati luka Dewandaru yang berdarah, mengganti perbannya.


"Kalau tidak bisa melakukan sendiri kamu minta tolong, itupun kalau kamu ingin segera sembuh." omel Violet.


"Aku ketemu sahabatmu Utari, dia bertugas di kota ini." ucap Dewandaru.


Violet diam sejenak menghentikan kegiatannya dalam membalut luka Dewandaru, menatap Dewandaru tajam, ketekejutan Violet, semakin bertambah baru saja bertemu Dewandaru malah sekarang ada Utari juga.


"Ada apa ini kenapa tangan dan kaki pak Ndaru berdarah seperti ini?" tanya Aziz panik yang baru masuk ke kamar Dewandaru dengan membawa sekantong kresek besar camilan.


"Kamu kira klinik ini tidak mampu memberi makan pasien, sampai-sampai kamu beli makanan sebanyak itu, dan itu semua tidak baik untuk kesehatanmu." omel Violet ketus dan dingin.


Aziz, melongo mendengar omelan Violet yang dingin dan ketus pasalnya Aziz, belum pernah melihat Violet sedingin dan seketus ini pada pasiennya.


"Kalau tidak mampu untuk bangun sendiri jangan paksakan untuk bangun sendiri, kecuali kalau kamu tidak ingin sembuh."


Violet semakin ketus dan dingin, tanpa menghiraukan Aziz, dan Dewandaru Violet segera pergi meningalkan Aziz dan Dewandaru di dalam kamar.


"Maaf Pak Ndaru atas sikap Bu Bidan, nanti biar kami tegur." ucap Aziz merasa tidak enak dengan Dewandaru.


"Jangan kamu tegur bu bidan pak Aziz, saya tidak apa-apa, biarlah mungkin dia capek." sahut Dewandaru tenang.


"Takutnya akan berimbas pada pasien lainnya." ucap Aziz, seolah tidak terima.

__ADS_1


"Saya tahu bu bidan orang yang sangat profesional, lihat saja nanti dia pasti bersikap baik pada siapapun, jangan di perbesar hal ini, yang penting saya di rawat sini, karena saya tidak memiliki keluarga di sini," tutur Dewandaru, sopan.


Aziz merasa semakin heran melihat tingkah Dewandaru dan Violet.


"Baiklah Pak Ndaru, bagaimana dengan keluarga Pak Ndaru, apa perlu di hubungi?" tanta Aziz.


"Tidak usah Pak Aziz, Mama saya sudah lama mengalami sakit strok takutnya membuat orang tua saya malah sakit, tapi saya minta tolong pada pal Aziz dan bu bidan agar saya tetap bisa di rawat di sini." tutur Dewandaru sopan.


"Takutnya peralatan di sini tidak memadai, dan sebenarnya bu bidan juga masih baru dia baru lulus beberapa bulan yang lalu, takutnya tidak bisa merawat pak Ndaru, dengan maksimal." tutur Aziz, jujur.


"Saya percaya dengan kemampuan bu bidan, jangan kawatirkan saya pak Aziz, semua akan baik-baik saja." tutur Dewandaru sopan penuh kebahagiaan.


"Baiklah, kami akan membantu pak Ndaru, tadi saya juga sudah cerita ke bapak tentang musibah yang menimpa Pak Ndaru." ucap Aziz "Makanan sebanyak ini untuk apa pak maaf, karens tudak mungkin pak Ndaru bisa menghabiskan sendiri." tanya Aziz heran.


"Pasti habis pak Aziz, nanti bisa di kasihkan buat Lingga dan Kirai," sahut Dewandaru santai.


"Uda tolong bisa tinggalkan pasiennya, biar pasiennya bisa istirahat obat ya sudah mulai bekerja." tutur Violet sopan, yang sudah berdiri di depan pintu kamar Dewandaru.


Aziz semakin terbengong melihat tingkah Violet yang bisa berubah dalam waktu sekejap, barusan ketus dan dingin saat berbicara dengan Dewandaru, sedangkan berbicara dengan dirinya normal seprti biasanya.


"Pak Aziz, pergilah dan istirahatlah, benar apa yang di katakan bu bidan, kalau Pak Aziz tidak pergi nanti malah berimbas ke saya." ucap Dewandaru sopan.


Aziz pergi meninggalkan Dewandaru sendirian, Aziz menemui Violet yang sedang berada di dapur mencuci beras dan menyiapkan bahan makanan yang akan di masaknya.


"Sebelum pergi apa Ibu dan Uni tidak masak?" tanya Aziz pada Violet.


"Habis." sahut Violet singkat karean tidak tahu harus menjawab apa.


"Tumben?" sahut Aziz heran.


"Kebetulan saja, Uda." sahut Violet tetap ramah.


Aziz semakin tidak mengerti melihat tingkah Violet hari ini, akirnya Aziz, meninggalkan Violet, sendirian.

__ADS_1


"Mama, ayah maafkan Vi, Vi belum sanggup until bisa menerima ayahnya Lingga." batin Violet, tanpa Violet sadari airmatanya jatuh membasahi pipinya.


__ADS_2