Gelora Noda Dan Cinta

Gelora Noda Dan Cinta
Part 61


__ADS_3

Adzan subuh berkumandang Dewandaru dan Uni Saidah sudah terbangun dari tidurnya, sedangkan Violet, masih terlelap dalam tidurnya sambil memeluk Lingga.


Dewandaru memanggil meminta bantuan, karena Uni Saidah tidak bisa membantu Dewandaru, maka uni Saidah memanggil Aziz, karena Uni Saidah tidak tega membangunkan Violet.


Aziz, dengan senang hati membantu Dewandaru dalam melakukan aktifitas paginya.


"Terima kasih pak Aziz, maaf merepotkan." ujar Dewandaru setelah selesai dari kamar mandi.


"Sama-sama Pak Ndaru, bagaimana tidurnya semalam?" tanya Aziz.


"Nyenak, mungkin pengaruh obat, pak Aziz, sendiri bagaimana?" tanya balik Dewandaru basa basi.


"Tidak begitu bisa tidur, sebab Lingga putranya bu bidan rewel terus sampai jam satu malam akirnya aku antar ke sini." tutur Aziz pada Dewandaru.


Dewandaru langsung termenung mendengar penuturan dari Aziz.


"Pak Ndaru... Pak... Pak Ndaru!" Aziz memanggil Dewandaru sampai tiga lalu Dewandaru baru menyahut.


"Eh, maaf pak Aziz, tadi pak Aziz bilang apa?" sahut Dewandaru sedikit gagap.


"Masih pagi kok sudah melamun pak Ndaru?" goda Aziz.


"Ah, Enggak pak hanya ingat seseorang saja." sahut Dewandaru, asal.


"Pacar mungkin." tebab Aziz.


"Bukan, saya tidak punya pacar yang ada anak dan istri." sahut Dewandaru jujur.


"Alhamdulillah, Silakan di telpon istrinya, kalau sudah tidak ada yang di pelukan saya mau siap-siap berangkat ke sekolahan." pamit Aziz.


"Terima kasih pak Aziz, maaf merepotkan." sahut Dewandaru ramah.


Aziz meninggalkan kamar Dewandaru, saat baru keluar dari kamar Dewandaru, Aziz di panggil oleh Lingga.


"Om!"


"Selamat pagi anak ganteng." sahut Aziz ramah, menghampiri Lingga yang masih duduk di atas kasur lantai.


"Om sakit? Kok kelual dali kamal olang sakit?" tanya Lingga yang baru bangun dari tidurnya.


"Teman om yang sakit, tadi om bantu teman om, nanti Lingga bantuin jaga teman Om ya, orangnya baik, dan Lingga bisa minta diajari gambar sama temannya om, OK." ucap Aziz.


"OK Om, Lingga mau jadi doktel kaya mama." seru Lingga bahagia.


Dari dalam kamar Dewandaru sudah merasa bahagia begitu mendengar ocehan Lingga dan Aziz, di luar.

__ADS_1


"Lingga ayo mandi, jangan ganggu Om!" seru Violet, dari pintu luar klinik.


"Lingga mandi dulu ingat pesan Om, jaga-in teman Om." ucap Aziz lembut sambil mengusap rambut Lingga yang masih berantakan.


"Siap om." sahut Lingga girang.


Dewandaru sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Lingga, namun Dewandaru tidak bisa bergerak sendiri jika di paksakan sudah pasti jatuh, airmata kebagian membasahi pipi Dewandaru.


Pagi-pagi sekali biasanya klinik sudah ada pasien yang berobat, namun pagi ini masih sangat sepi tidak ada satupun pasien yang datang untuk berobat.


"Uni, untuk makan pasien nanti biar saya sendiri yang mengantarnya sekalian nemberinya obat, dan mengganti perbannya." ucap Violet sambil menyuapi Lingga.


"Baik bu bidan." sahut Uni Saidah.


"Uni, nitip Lingga ya, jangan sampai masuk ke kamar pasien." pesan Violet.


"Baik, bu bidan."


Selama ini Violet memang melarang Lingga untuk masuk ke kamar inap pasien, takutnya mengganggu kenyamanan pasien.


Lingga di bawah asuhan Uni Saidah, sedangkan Violet membawa nampani berisi makanan menuju kamar Dewandaru. Masih seperti kemarin Violet tetap dingin dan kerus terhadap Dewandaru, Violet tetap membantu Dewandaru, walau irit bicara. Dewandaru bisa melihat wajah Violet yang lesu akibat kurang tidur.


"Bagaimana Lingga?" tanya Dewandaru memberanikan diri.


"Baik." jawab Violet singkat, ketus.


Violet tidak menjawab dia terus melakukan pekerjaannya membersihkan dan mengganti perban Dewandaru.


"Aku lebih senang mendengar omelanmu dari pada kamu diam, seperti ini." tutur Dewandaru tetap lembut.


Violet tetap diam tanka bersuara, setelah selesai merawat Dewandaru Violet melanjutkan aktifitasnya, tisak lama pak Lurah dan bu Lurah datang menjenguk Dewandaru yang terbaring di kamar klinik.


"Assalamu'alaikum pak Ndaru bagaimana kabarnya sudah ada perubahan?" tanya Pak Lurah sopan "Oh ya kenalkan isriku." Pak Lurah meperkenalkan Bu Lurah pada Dewandaru, bu Lurah dan Dewandaru sing mengenal, mereka bertiga bercerita banyak hal hingga tanpa di ketahui oleh siapapun Lingga yang tahu Pak Lurah dan Bu Lurah masuk kanat Dewandaru, Lingga langsung masuk.


"Nenek Kakek!" seruingga girang.


"Lingga." suara Dewandaru lirih, tanpa ia sadari airmata Dewandaru sudah jatuh.


"Kok kamu masuk ini bukan tempat bermain sayang.! Ucap bu Lurah lembut.


"Kata Om, aku di suluh jaga om sakit." jawan Lingga polos, Lingga masih belum tahu jika yang sakit itu Dewandaru, karena masih terhalang oleh pak Lurah.


"Lihat sebentar lalu keluar ya, ink tempat orang sakit." jelas pak Lurah lembut.


"Kakak baik!" seru Lingga langsung menuju Dewandaru berbaring.

__ADS_1


"Ling...ling... Lingga." ucap Dewandaru terbata-bata.


Pak Lurah di bu Lurah bengobg melihat Lingga dan Dewandaru yang saling kenal.


"Lingga kenal sama om ini?" tanya pak Lurah penasaran.


"Kak Ndalu, olang baik, dia suka gendong dan belmain dengan Lingga." tutur Lingga jujur.


"Pak Ndaru?" tanya pak Lurah bingung dengan situasi seperti sekarang.


Dewandaru hanya diam, dengan tangan kirinya Dewandaru berusaha membelai lembut tubuh Lingga.


"Maaf pak Ndaru, apa mereka keluarga bapak?" tanya pak Lurah, semakin bingung.


"Kakak ini kakak baik."oceh Lingga pada pendiriannya.


Violet yang mendengar ada suara Lingga dari dalam kamar Dewandaru, Violet segera menuju kamar Dewandaru, Violet terlambat datang.


"Lingga, lupa dengan pesan, mama." suara lemvut Violet.


"Mama aku kangen kakak baik." ucap Lingga tulus.


"Maaf pak Lurah dan bu Lurah." ucap Violet tulus


"Pak Ndaru Keluarga bu Bidan?" tanya pak Lurah penasaran.


"Pak Ndaru sebenarnya Ayahnya Lingga, yang artian pak Ndaru suami saya." sahut Violet jujur.


Dewandaru semakin terkejut mendengar pengakuan jujur Violet, Dewandaru tudak pernah menyangka jika Violet, bakal mengakuinya sebagai suami, airmata Dewandaru semakin tidak bisa dibendung lagi saking sangat bahagianya.


"Maaf, Pak, Buk, dari kemarin saya tidak langsung jujur." ucap Violet lagi.


"Bersyukurlah, dari semalam sebenarnya saya sudah menduga akan hal ini." tutur pak Lurah.


Violet pergi meninggalkan kamar Dewandaru dengan di susul oleh bu Lurah, Violet menumpahkan airmatanya dan terduduk lesu di ruang kerjanya. Lingga tetap di kamar Dewandaru bermanja-manja dengan Dewandaru, di temani pak Lurah.


"Maaf, pak jika kehadiran saya di sini membuat kekacauan." ucap Dewandaru sopan.


"Jadi benar kalian suami istri, dari sikap bu bidan kemarin saya sudah menangkap ada hal yang tidak beres, maaf kenapa Lingga, tidak memanggil Ayah, batau papa, sebelumnya maaf." ucap Pak Lurah hati-hati.


"Semua ini karena kesalahan saya waktu lampau, sehingga membuat kami berpisah, dan Lingga ikut-ikutan adik saya memanggil kakak, pernikahan kami memang tergolong rumit." jelas Dewandaru, tanpa beban.


"Semoga kedepannya kalian bisa membina rumah tangga sampai dunia akhirat." doa pak Lurah tulus.


"Aamiin." sahut Dewandaru.

__ADS_1


"Kakak sakit apa?" tanya Lingga pada Dewandaru.


"Kakak tidak hati-hati, makanya kakak jatuh." sahut Dewandaru bahagia, bisa memeluk dan bersama dengan Lingga.


__ADS_2