Gelora Noda Dan Cinta

Gelora Noda Dan Cinta
Part 45


__ADS_3

Aziz duduk bersantai dengan pak Lurah dan juga bu Lurah di ruang keluarga, sedangkan Kirai dan Uni Saidah sudah berangakat ke rumah Violet, malam ini Kirai ikut uni Saidah untuk menemani Violet dan Lingga.


"Apa suami bu bidan tidak ikut Pak?'' tanya Aziz pada pak Lurah.


''Kata orang tuanya suaminya akan menyusul sekarang suaminya masih ada pekerjaan.'' sahut pak Lurah.


''Masih sangat muda namun sudah memiliki anak,'' ucap Aziz.


''Itu lebih baik jadi saat menua seperti bapak ini anak-anak sudah besar, usiamu sudah hampir tiga puluh tahun kapan kamu menikah?'' ucapnaok lurah.


''Apa yang di ucapkan bapakmu itu benra kapan kamu menikah adikmu tahun ini sudah lulus kuliah.'' timpal  bu Lurah membenarkan ucapan pak Lurah.


"Bila sudah ketemu dengan jodohku pasti aku menikah Buk Pak, jangan kawatir,'' sahut Aziz sepertti biasa.


"Sampi kapan? kalau kamu tidak membuka hatimu untuk wanita lain bagaimana kamu bisa menemukan wanita seperti yang kamu inginkan, bu Bidan itu seperti calon istrimu.'' celetuk bu Lurah jujur.


"Ya Bu, tadi aku tidak percaya, dia mirip sekali tapi ibu dan bapak jangan kawatir aku masih waras, dia istri orang aku tidak akan mengganggunya,'' jawab Aziz.

__ADS_1


"Ziz, terima kasih jika kamu paham, bapak takut kamu tetap di bawah bayang-bayang wanita itu, jika bapak lihat bu Bidan itu wanita yang setia, mirip dengan ibumu, kita harus menjaganya bapak martuanya juga sudah menitipkan pada kami selama suaminya belum menyusul.'' jelas pak Lurah.


"Bapak sama Ibu jangan kawatirkan hal itu, '' sahut Aziz tenang.


Aziz pernah gagal untuk menuju ke pelamina karena calon istrinya telah berhianat, wanita yang Aziz cintai lebih memilih pemuda yang lebih kaya berasal dari luar kota.


Kirai sangat senang sekali bermain dengan Lingga, sedangakan Uni Saidah membantu Violet untuk membongkar dan menta barang di rumahnya, jam sembilan malam Lingga sudah muali terlihat mengantuk.


"Bu bidan dik Lingga sudah mengantuk,'' laopor Kirai pada Violet.


"Mama, aku amu oma, kenapa oma tidak datang?'' Lingga mulai rewel .


''Aku mau oma.'' tangis Lingga pecah, bocah empat tahun itu tetap belum bisa berpisah lama dengan Swasti.


Violet, Kirai serta Uni Saidah berusaha menenangkan Lingga namun tangis Lingga pecah semakin keras, sehingga terdengar sampai di rumah pak Lurah. Pak Lurah,Bu Lurah sereta Aziz mendengar tangisan Lingga mereka langsung bergegas menuju rumah yang di tempati oleh Violet.


''Ada apa nak Vi?'' tanya bu Lurah cemas.

__ADS_1


''Lingga kangen omanya Bu.'' sahut Violet sambil menggedong Lingga yang masih terus menangis.


''Sini sama Amai, gendong Amai ya.'' rayu  bu Lurah mengulurkan tangan pada Lingga , namun Lingga tidak mau dia tetap menangis dalam gendongan Violet.


Aziz, pak lurah serta yang alin berusaha untuk merayu Lingga namun tetap tidak di gubris oleh Lingga, Lingga terus menangis hingga dua jam karena capek Lingga tertidur, setelah Lingga tertidur pak Lurah dan yang lain pulang meninggalakan rumah Violet, UninSaidah dan Kirai yang tetap tinggal dengan Violet. Lingga juga tidak mau tidur di dalam kamar sehingga semuanya tidur di ruang tengah dengan menggunakan kasur lantai.


Swasti tidak bisa tidur dia berbaring namun hanya membolak balikkan badannya gelisah, sehinga membuat Abyas yang tidur di sebelahnya terbangun.


''Ma,ada yang mama pikirkan?'' tanya Abyas cemas, karena Abyas dapat menangkap kegelisahan hati Swasti.


''Bagaimana Vi dan Lingga apa mereka kersan hidup di sana?'' tanya Swasti yang mencemaskan  Violet dan Lingga.


''Kita doakan saja kita beri kesempatan Vi, umtuk bisa menata hidupnya seperti permintaanya.'' nasehat Abyas.


''Mama benar-benar tidak tega melepas mereka berdua Yah, tapi juga tidak mungkin menyuruh Ndaru menysuslnya.'' ucap Swasti denga nafas berat.


''Setelah satu bulan kita ke sana kita jenguk mereka bukankah tadi kita sudah video call dengan mereka dan mereka juga baik-baik saja.'' nasehat Abyas berusaha menenangkan hati Swasti, bahkan Swasti sudah meneteskan airmata.

__ADS_1


Abyas memeluk Swasti untuk menenangkan Swasti, sebenarnya hati Abyas sendiri juga merasakan kegelisahan atas kepergian Violet dan LIngga dan sesiapa yang mendampingi di pulaunyang sangat jauh.


__ADS_2