
Widuri masih tertidur di atas bankar rumah sakit, Abyas benar-benar kacau pasalnya dua istrinya telah terbaring tidak berdaya di rumah sakit. Abyas meminta bantuan Suro, untuk menjaga Widuri, sebentar Abyas, ingin menjenguk Swasti, yang sekarang bersama dengan Gayatri.
"Ma, bagaimana keadaan Mama?" tanya Abyas, yang duduk di sebelah ranjang.
"Bagaimana dengan Widuri dan kandungannya, kata Ndaru tadi Wid, kram perutnya?" tanya Swasti cemas.
"Alhamdulillah sekarang sudah baik, Wid sedang istirahat, hampir saja Wid kegugupan," ucap Abyas.
"Kenapa Ayah, meninggalkan Wid, sendirian?" Swasti semakin cemas.
"Ada, kang Suro, tadi Aku minta tolong kang Suro, untuk menjaga sebentar,"
"Mama, baik-baik saja besok mama juga sudah boleh pulang, siapa yang menjaga Vi, siapa yang menjaga Kakek, mama tidak menyangka kesalahan yang di buta Ndaru anak kita benar-benar fatal, membahayakam, banyak nyawa, dan hampir saja kehilangan adiknya, Nadru... Ndaru." keluh Swasti denagn mata yang sudah kembali sembab.
"Inshaallah semua akan baik-baik saja, Ndaru, minta ijin ke Ayah untuk menikahi Vi, secepatnya Ayah, pikir itu lebih baik jika kondisi memungkinkan lusa ayah, akan minta bantuan bu Manggar dan Pak modin untuk menyaksikan pernikahan mereka." jelas Abyas.
"Mama setuju dengan Ayah, mama tidak ingin memiliki cucu tanpa nasab, kita harus minta ijin ke Kakek dan juga Widuri, kita tidak boleh gegabah." ucap Swasti mendukung rencana Abyas.
__ADS_1
Setelah berbicara dengan Swasti, Abyas menuju kamar Violet untuk menjenguk Violet, yang sedang terbaring tidak berdaya, Violet masih damai dengan tidurnya, untuk keselamatan Violet, Abyas menyewa suster kusus untuk Violet.
"Maafkan, Anak Ayah dan mama, Maafkan mama dan juga Ayah sayang." ucap Abyas, lirih sambil mengusap lembut pucuk kepala Violet, melihat keadaan Violet, tidak terasa Abyas menitikan air mata.
Abyas kembali ke kamar Widuri, setelah beberapa saat melihat keadaan Violet dan Swasti.
"Terima kasih kang, untuk beberapa waktu tolong jaga bengkel, sekarang sudah malam kakng Suro, pulang saja dulu kasihan istri dan anak kang Suro." ucap Abyas.
"Aku akan menemanimu di sini Bos, istriku sudah aku kasih kabar, tapi jangan khawatir aku hanya bilang jika dua istrimu sedang sakit, istriku mengijinkan untuk membamtumu, soal Ndaru, aku tidak bicara apa-apa." ucap Kang Suro.
Abyas, sedikit lega minimal ada teman yang bisa dia ajak berbagi, Abyas menceritakan pada Suro, tentang kesediaan Dewandaru untuk menikahi Violet, Suro juga mendukung niat baik Dewandaru tersebut, Suro banyak sekali memberi nasehat dan dukungan pada Abyas, dalam situasi berat ini.
Tengah malam Widuri, sudah sadar seorang suster memberi tahu Abyas, Abyas di ijinkan untuk masuk ruang inap Widuri. Wajah Widuri masih pucat, selang infus dan kabel mesin pendektor masih menempel di tubuh Widuri.
"Yah," suara Widuri lirih, nyaris tidak terdengar.
"Semua, akan baik-baik saja," sahut Abyas, berusaha menyebunyikan kesedihannya.
__ADS_1
"Mbak Asti... Vi... Ka... Kek." ucap Widuri lagi.
"Bunda Istirahat dulu, semua dalam keadaan baik tadi, Ayah sudah telpon keadaan kakek semakin membaik, lusa kakek bisa boleh pulang ayah akan urus semua." ucap Abyas.
Widuri tidak menjawab hanya menitikan air mata karena kondisinya yang masih lemas.
"Untuk Vi, besok Ayah akan menemui dokter specialis, Asti, sudah membaik besok dia sudah boleh pulang." jelas Abyas.
Abyas, membelai lembut Widuri, hingga Widuri, kembali tertidur, setelah Widuri tidur Abyas, keluar dari kamar Widuri, Abyas menemui Suro, yang istirahat di dekat mushola rumah sakit.
"Bos, makanlah dulu tadi aku beli gorengan dan ini kopi mumpung masih panas, setelah itu kita jamaahan sholat malam." ucap Suro pada Abyas yang duduk di sebelahnya.
"Terima kasih Kang." sahut Abyas, duduk di bangku sebelah Suro.
Mereka berdua kembali larut dalam percakapan tentang perencanaan hari esok, entah itu tentang keluarga Abyas, maupun tentang kelangsungan bengkel Swasti.
(Hai bestii baca yuk novel keren Berikut ini dengan judul "Kembali Cantil Di Gadis Cacat)
__ADS_1