
Violet kembali beraktifitas seperti biasa dengan ditemani oleh Widuri berada di dalam dapur menyiapkan sarapan pagi, Dewandaru berada di teras berjemur dengan di temani oleh Lingga, Arda, Abyas serta Swasti mereka berolahraga ringan sambil menikmati sejuk dan indahnya udara pagi di pedesaaan.
"Asssalamu'alaikum semuanya sepertinya bahagia sekali,'' sapa Utari denhan senyum ramahnya.
"Wa'alaikum salam,'' sahut semua serempak dengan diiringi senyum manis dari mereka semua.
"Ayo kita olahraga bareng biar badan sehat,'' ajak Swasti ramah.
''Terima kasih saya cari Vi aja, sekalian mau bantu-bantu,'' tolak Utari.
''Kak Ut!'' seru Kirai, yang sudah berada di atas sepeda motor Aziz, siap berangkat ke sekolah.
Utari langsung menoleh ke arah sumber suara, Kirai yang sudah berseragam sekolah siap berangkat menebarkan senyum, lebar penuh kebahagiaan.
''Kami berangkat dulu calon kakak ipar,'' seru Kirai lagi sambil melambaiakan tangan penuh kebahagiaan.
''Bisa diam gak, gak jadi aku antar,'' protes Aziz. kesal.
Kirai tidak memjawab hanya mencibir menggelayut manja pada Aziz, semua yang mendengar teriakan Kirai terkejut bergantian melihat ke arah Kirai dan Utari, sedangkan Utari yang di maksud Kirai melongo saja tanpa ekpresi.
"Ehm... ehm, kayanya cocock.'' ujar Dewandaru.
Utari tanpa menjawab langsung pergi menuju dapur menemui Violet dan Widuri, wajah utari sedikit kesal begitu menemui Violat.
''Kurang tidur kok masam sekali mukamu?'' tanya Violet begitu melihat kedatangan Utari dengan wajah yang ditekuk.
"Lapar.'' sahut Utari langsung duduk di kursi yang ada di dapur.
''Kenapa gak makan?, gak bisa bangun?'' tanya Violet yang sudah tahu kebiasaan Utari.
__ADS_1
''Mateng belum?'' tanya Utari.
''Gak sabaran amat,'' sahut Widuri sambil manaruh wajan di tembok.
''Mbak aku panggil mereka dulu, kita sarapan bareng.''
''Ya,'' sahut Utari.
''Mbak Wid, kapan kembali ke jawa?'' tanya Utari.
''Belum tahu nunggu Ndaru sembuh lagian kita juga baru saja beberapa hari di sini, la kamu sendiri kapan ke jawa?'' Widuri tanya balik pada Utari.
''Belum tahu, mungkin nunggu lima tahun lagi, Mbak kan tahu tidak mudah untuk ambil cuti,'' sahut Utari.
''Ya, iya sih, sabar dulu semoga dapat jodoh orang sini biar Violet ada temannya,'' ujar Widuri sambil menyiapkan sarapan di meja.
''Hah, apaan sih mbak belum kepikiran sampai ke sana mau mikir karir dulu.'' sergah Utari.
''Assalamu'alaikum Bu boleh kami bantu,'' sapa mereka bertiga begitu melihat Bu Lurah yang sedang memetik bayam di pekarangan samping rumah.
''Wa'alaikum salam,'' sahut Bu Lurah ramah, sambil menengok ke arah sumber suara''Kalian dari mana mau ke mana? silakan kalau tidak merepotkan pagi ini udaranya juga sangat segar cocok untuk berkebun.''
Swasti hanya duduk di kursi roda di pinggir pekarangan sedangkan Utari dan Widuri dengan semangat membantu Bu Lurah memanen bayam, tidak terasa waktu begitu cepat berlalu jam sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi, bayam yang dipetik juga sudah banyak mereka menyudahi kegiatan memanen bayam dan dibawanya bayam tersebut ke dalam rumah.
Aziz dan Kirai juga sudah pulang dari sekolah setelah berganti pakaian Kirai langsung menuju tempat tinggal Violet sedangkan Azis tetap di rumah seperti biasa membantu pekerjaan orang tuanya dalam merawat kebun maupun pekarangan.
''Sudah siang saya pamit dulu ya Bu,'' pamit Swasti dengan diikuti oleh Widuri serta Utari.
"Untuk Nak Utari boleh ibu minta bantuan sebentar saja,'' pinta Bu lurah lembut'' dan untuk Bu Swasti dan Bu Widuri saya ucapkan banyak terima kasih atas bantuannya ini bayamnya di bawa bu buat sayur nanti.''
__ADS_1
''Bisa Bu,'' sahut Utari.
''Sama-sama Bu, saya justru senang bisa ke pekarangan, sambil menghirup udara segar, terima kasih bayamnya,'' tutur Swasti senang.
''Sama-sama, nanti sore kita makan bersama di sini saja mumpung Nak Utari belum kembali ke kota,'' pinta Bu Lurah penuh harap.
''Baiklah nanti kami kesini semua, setelah dhuhur saya akan ke sini lagi jika ada hal yang bisa saya bantu saya akan bantu,'' tutur Widuri sopan.
''Saya juga dengan senang hati akan bantu Bu Lurah.'' Swasti ikut menimpali.
Swasti dengan di bantu Widuri menuju ke kediaman yang di huni oleh Violet, Violet masih dengan aktifitasnya dan kebetulan hari ini pasien dari pagi selalu datang silsih berganti tiada henti, jerittangis anak balita mewarnai klinik tempat Violet praktek.
Swasti dan Widuri menuju rumah, suara riuh gelak tawa antara Lingga, Dewandaru, Arda, Abyas serta Kirai memenuhi rumah tersebut, karena penasaran mereka berdua segera masuk betapa terkejutnya mereka ketika melihat ruang tamu sangat berantakan semua mainan berserakan di lantai bahkan bantal kursi juga sudah pindah tempat.
''Kalian! apa yang kalian kerjakan?'' seru Swasti
Mendengar suara Swasti mereka berlima menoleh ke arah sumber suara dengan wajah tidak merasa bersalahnya, apalagi kedua bocah itu dengan polosnya malah berlari menuju dan memeluk Swasti dan Widuri dengan ocehan penuh kebahagiaan.
''Nanti kami bersihkan Ma, jangan kawatir kita pasti bekerja sama untuk membersihkan kemabli,'' ujar Abyas.
''Mama gak mau tahu pokoknya rumah harus kembali rapi, sudah siang segera rapikan, Lingga dan Arda harus ikut merapikan juga, setelah itu kita siap-siap makan siang setelah makan siang kalian berdua segera tidur.'' perintah Swasti pada mereka semua Widuri memilih ke dapur untuk menaruh bayam dan membersihkan diri.
Aziz dan Utari di suruh oleh bu Lurah untuk pergi ke kota membeli beberapa bahan untuk masak nanti siang, di dalam perjalanan ke kota mereka berdua hanya diam tanpa sepatah kata, sesampainya di toko yang di maksud Utari segera mmembeli apa yang diminta oleh Bu Lurah, Aziz selalu menemani Utari selesai membeli bahan yang dibutuhkan Aziz tanpa di suruh membawakan barang belanjaannya.
''Cek lagi jangan sampai ada yang lupa,'' Aziz mengingatkan Utari mengingat jarak dan kota lumayan jauh memakan waktu hampi empat puluh menit.
Utari tanpa menjawab langsung mencocokan belanjaan dan tulisan yang diberikan oleh bu Lurah tadi.
''Semua sudah terbeli Da,'' jawab Utari begitu selesai mengecek belanjaanya.
__ADS_1
''Ibu barusan kirim pesan ada yang harus di beli tapi tidak di toko ini, ayo kita ke toko satunya,'' ajak Aziz.
Utari mengikuti perintah Aziz dengan membawa kardus berisi belanjaan di bonceng Aziz untuk belanja di lain tempat.