
Cuaca yang tidak terlalu panas membuat Aziz dan Utari tidak kepanasan walau matahari berada di atas kepala tepat jam dua belas siang mereka berdua sudah selesai belanja , sepeda motor yang dikendarainya melaju dengan santai, setelah menempuh perjalanan hampir satu jam mereka berdua sampai di rumah, di teras sudah ada Bu Lurah maupun Kirai yang sudah menantikan mereka berduan pulang. begitu sepeda motor berhenati Bu Lurah maupun Kirai ikut membantu menurunkan barang belanjaan mereka.
"Terima kasih nak Utari sudah membantu Ibu untuk belanja, sudah siang cepetan mandi ganti baju dan istirahat belanjaannya biar kami yang membawanya,'' ucap Bu Lurah Tulus.
''Sama-sama Bu, kalau begitu saya masuk dulu,'' Utari sengaja buru-buru masuk ke kamar mandi karena sudah kebelet.
"Belanja banyak amat bauat apa Buk?'' tanya Aziz sambil mengankat kardus yang berisi beberapa kebutuhan pokok.
''Mumpung ada yang bisa dimintai bantuan,'' sahut Bu Lurah enteng sambil menenteng belanjaan menuju dapur ''Oh ya nanti malam jangan ke mana-mana ibu akan adakan makan malam bersama sebelum nak Utari kembali ke kota.'' tambah Bu Lurah sambil menata barang belanjaanya di dapur.
''Pentingkah harus ada acara makan malam segala?'' tanya Aziz.
''Penting buat Ibu untuk menghormati tamu, kamu apa kamu lupa dengan tradisi dikeluaraga kita,'' ucap Bu Lurah pelan.
''Tapikan?'' bantah Aziz.
''Sudah jangan protes kamu istirahat saja, soal masak nanti ibu akan dibantu yang lain.''
Aziz menuruti perintah Bu Lurah, Aziz memilih pergi ke rumah Violet di sana Aziz berbincang-bincang dengan Dewandaru di kamar Dewandaru, mereka membahas tentang tentang proyek yang akan digarap oleh Dewandaru, Aziz dengan senang hati memberikan informasi terkait dengan desa serta lingkungan sekitar juga tentang kehidupan masyrakat di desa tersebut. Para wanitya sibuk di dapur untuyk membuat aneka makanan untuk acara nanti malam, sedangkan Abyas menemani Arda dan Lingga. Kebersamaan dan keseruan mereka membuat waktu bergulir dengan cepat.
"Assalamu'alaikum,'' suara Violet yang baru saja mebyelesaiokan pekerjaanya.
"Wa'alaikum salam,'' sahut Aziz dan Dewandaru bersamaan.
"Uda di sini,'' sapa Violet ramah''Dengar dengar tadi Uda belanja sama Tari, apa bener Uda mau menikah dengan Tari?'' tanya Violet.
__ADS_1
"Apa? menikah denga Tari,'' jawab Aziz terkejut.
''Beneran,'' timpal Dewandaru juga terkejut.'' Kpan Uda?'' tanya DEwandaru penasaran.
''Aku sendiri tidak tahu, entah istrimu dapat gosip darimana?'' keluh Aziz.
""Burung yang kasih kabar.'' sahut Violet asal sambil pergi meninggalkan mereka.
''benar Uda mau menikah, bagus itu , Uda jangan kawatir Utari berasal dari keluarga baik-baik, namun Uda harus hati-hati ibunya Utari, orang yang sangat berpengaruh dijajaran kepolisian di dasrahku, kakanya seorang dosen di luar negeri, sedangkan ayahnya juga orang sangat berpengaruh di tatanan pemerintah di daerahku.'' tutur Dewandaru.
''Aku belum kepikiran untuk menikah, pak Ndaru lihat saj sendiri di desa ini masih banyak hal yang harus di benahi, sebagai seorang guru dan anak lurah saya ingin membantu bapak untuk memajukan desa ini.'' tutur Aziz.
''Bagus itu dan saya yakin dengan adanya polisi yang mau tinggal di sini secara tidak langsung bisa memotivasi warag sini, agar genersai muda mau mencari ilmu dan bisa diajak untuk maju, sepertinya kalian itu cocok dan cuma harus lebih menhenal lagi,'' tutur Dewandaru berusaha bijak.
''Pada dasarnya dari dulu aku tidak suka pacaran.'' jelas Aziz.
Wajah-wajah bahagia nampak dari gestur tubuh mereka, canda tawa dan saling mengolok menambah suasana semakin meriah, ruang tengah yang di gunakan oleh Bu Lurah untuk berkumpul berubah bak pasar krempyeng, tanpa adanya basa basi mereka semua menikmati se,ua hidangan yang telah disediakan oleh Bu Lurah. Acara berjalan lamcar setaklah makan semua masih berkumpul di ruangan tersebut sesuai dengan permintaan Aziz.
"Sebelumya sya mohon maaf, saya ingin kalian semua menjadi saksi atas apa yang akan saya sampaikan ,'' ucap Aziz berhenti sebentar.
''Tujuan saya adalah dengan iklas saya ingin , ehm...ehmm.'' Aziz berhenti karena gugup, semua yang mendengar ucapan Aziz penasaran dengan apa yang akan disampaikan oleh Aziz.
''Bissmilahirrahmanirrohim dengan tulus saya ingin menjakan Utari sebagai istri,'' tutur Aziz tegas walau dlam keadaaan gugup.
Bagai disambar petir Utari sangat sangat terkejut, bukan hanya Utari saja yang terkejut semua yang ada di dalam ruangan tersebut tidak kalah terkejut, suasana menjadi hening sesaat tidak seorangpun yang membuka mulutnya untuk berbicara.
__ADS_1
"Aku setuju, ayo terima saja,'' celetuk Violet tiba-tiba untuk memecah keheningan.
Kini semua melihat kearah Violet, Violet menyuguhkan senyum manisnya.
"Segere aku akan melamar langsung pada kedua orang tuamu.'' tegas Aziz walau dengan hati berdebar kencang.
''Aku tidak setuju.'' Utari menjawab dengan singkat dan tegas.
''Terima kasih kamu usdah mengatakan dengan jujur namun kita tidak akan bisa menolak takdir.'' tambah Aziz yakin.
Ketegangan sedikit mewarnai di ruangan mereka, selain Violet, Aziz dan Utari tidak ada yang bersuara, untuk mencairkan suasana Abyas dan Dewandaru mengajak seluruh anggota keluaragnya untuk pamit pulang, Utari ikut keluarga Violet untuk pulang, Utari tidak lagi menginap di rumah bu Lurah didalam perjalanan hingga sampai rumah mereka semua diam tanpa mau membahas tentang kejadian tadi. Utari tidur dengan Widuri serta Arda.
Pagi-pagi buta Utari sudah siap-siap untuk kembali ke kota, walau Aziz mendapat penolakan dari Utari namun Aziz tetap mengawal Utari untuk sampai di kota tempat Utari bertugas. Setelah mengantar Utari Aziz menuju rumah Violet, seludian Buruh keluarga Violet sedang menikmati hidangan pagi bersama, hari-hari Dewandaru nampak bahagia setelah Violet bisa menerimanya sebagai kepala keluarga.
''Assamu'alaikum, maaf mengganggu,'' sapa Aziz denga wajah gusar.
''Wa'alaikum salam, ayo sarapan,'' sahut semua yangh ada di dapur, Aziz ikuit duduk lesehan di dapur.
''Gusar sekali Da?'' tanya Violet.
''Vi, minta tolong boleh?'' pinta Aziz to the point.
''Minta tolong apa Da?'' tanya Violet.
Aziz mengutarakan niatnya untuk mendatangi langsung orang tua Utari, Violet pada awalnya tidak mau membantu karena takut dianggap lancang, mamun tidak lama kemudian bu lurah juga datang dan mengutarakan hal yang sama seprti yang diutarakan oleh Aziz. Melihat wajah Bu Lurah yang begitu memohon akirnya tidak tega dan lagi mengingat usia Aziz yang sudah cukup umur.
__ADS_1
Keluarga besar Violet berusaha mencari cara agar Aziz mendapatkan alamat Utari langsung dari Utari sendiri, dengan alasan kangen Violet mengatur jadwal untuk bisa bermain di kota tempat Utari bertugas, Violet dengan ditemani oleh Dewandaru ,Aziz,Widuri serta tiga bocah tersebut menghabiskan waktu akir pekannya di rumah dinas Utari. Wajah Aziz sangat bahagia setelah mendapatkan alamat orang tua Utari.