Gelora Noda Dan Cinta

Gelora Noda Dan Cinta
Part 68


__ADS_3

Violet mengajak seluruh keluarganya untuk masuk ke rumah sederhananya, ya sebuah rumah hanya dengan dua kamar. Belum juga mereka duduk pak Lurah datang dengan yang lainnya, mereka menyambut kedatangan keluarga Violet. Violet menperkenalkan keluarganya pada pak Lurah dan yang lainnya, keluarga pak Lurah menyambut dengan senang hati.


Lingga mendengar ada rame-rame dari luar dia segera keluar dari kamar Dewandaru.


"Ayah!" seru Lingga bahagia da. Langsung menghambur ke pelukan Abyas.


Dewandaru mendengar anaknya memanggil ayah, dia sangat terkejut namun tidak bisa berbuat apa-apa karena Dewandaru masih harus di bantu untuk bisa melakukan aktifitas lainnya.


"Anak Ayah, makin ganteng dan pinter saja." puji Abyas bahagia.


"Anak bunda sudah tambah besar." Widuri ikut memeluk Lingga, begitu juga Swasti.


"Ama kangen kamu sayang."


Airmata Swasti tumpah ruah melepas kangennya pada Lingga.


"Ayah, AMA, Bunda, Kakak sakit." lapor Lingga jujur.


"Kakak? Kakak siapa?" tanta Swasti dan Widuri penasaran, mata mereka menoleh ke Violet, sedang bu Lurah dan yang lainnya juga diam.


"Ayo sini." Lingga menarik tangan Widuri tentu di ikuti oleh Swasti yang tetap duduk di kursi roda.


Swasti dan Widuri sangat terkejut begitu melihat Dewandaru terbaring tidak berdaya di kamar Violet.


"Nadru!" pekik Swasti "Kamu kenapa sayang."


"Ma,"


Swasti langsung memeluk erat Dewandaru dengan di ikuti oleh Abyas, airmata Swasti dan Abyas tumpah ruah, sedang yang lain hanya sebagai penonton saja, sedangkan Widuri menatap Violet, meminta kejelasan darinya.


"Nanti Vi, ceritain mbak, semua murni kecelakaan." tutur Violet yang paham akan tatapan Widuri.


"Ndaru kamu kenapa? Kenapa bisa Begini?" suara Swasti parau di antar isak tangisnya "Vi, kenapa kamu tidak memberitahu mama."

__ADS_1


"Ma, sudahlah sebenarnya menang Ndaru yang melarang Vi, untuk mengabari kalian semua, tidak apa-apa semua akan baik-baik saja, kalau aku gak kecelakaan gak mungkin aku bisa bertemu dengan anak dan istriku." tutur Dewandaru lembut.


"Benar apa yang di katakan Ndaru, Ma." tutur Abyas, menyetujui perkataan Dewandaru.


"Bagaimana Vi, bisa bekerja dan merawat Ndaru, sendirian." tutur Swasti cemas.


"Ma, maaf." tutur Violet, yang sudah mendekat pada Swasti.


"Sayang, siapa yang bantuin kamu merawat anak bandel mama ini, sedang kamu harus merawat Lingga dan juga ada pasien yang harus kamu tangani." tutur Swasti cemas.


"Ma, sudah tugas Vi, sebagai istri dan tenaga medis," tutur Violet.


"Ama, Lingga yang melawat dan jaga in kakak." sahut Lingga percaya diri.


"Kakak cakit?" Arda ikut mendekat dan memeluk salah satu tangan Dewandaru yang tidak di perban.


"Adik kakak yang cantik, kakak tidak apa-apa, sini peluk kakak." pinta Dewandaru.


"Aku kangen kakak, kakak jangan sakit." tangis Arda pecah.


"Kakak jangan sakit nanti gak bisa gendong Aku ama adik." tutur Arda polos.


Semua yang ada tidak lagi sedih mendengar ocehan Arda barusan.


"Arda kan ada Ayah, biar Ayah yang gendong." tutur Abyas lembut.


Bu Lurah yang ikut melihat kejadian mengagumi melihat betapa rukunnya keluarga Dewandaru, bu Lurah dan pak Lurah juga sudah tahu jika Abyas memiliki dua istri namun mereka tidak tahu secara keseluruhan.


Violet, dan Widuri duduk di ruang tamu bersama Aziz dan Pak Lurah sedangkan Uni Saidah sibuk membuat suguhan.


"Pak Lurah maaf kedatangan kami sangat merepotkan bapak, dan terima kasih sudah menjaga anak dan cucu kami." tutur Widuri lembut.


"Kami sangat senang, kalian bisa datang ke sini, apalagi ada bu bidan yang Sudi bertugas di sini dan kalian melepas dengan iklas, ini merupakan anugerah bagi penduduk desa kami." tutur pak Lurah sopan.

__ADS_1


"Sudah tugas dan sumpah janji saya sebagai tenaga medis pak." sahut Violet lembut.


Violet dengan dibantu Widuri, bu Lurah dan Uni Saidah mereka menyiapkan makan malam seadanya, untung saja tadi Abyas sudah meminta temannya untuk membelikan makanan, untuk makan malam jadi sudah tidak repot lagi.


Swasti, Abyas, Lingga dan Arda terus berada di samping Dewandaru.


"Ma jangan salahkan Vi, semua ini murni kecelakaan, Mama, tahu Ndaru sangat bahagia sekali karena bisa bertemu dengan anak istriku, terima kasih Ma, terima kasih Ayah, Vi merawatku dengan baik." tutur Dewandaru tidak bisa menyebunyikan kebahagiaannya.


"Mama ikut senang Nda, mama pesan jangan paksakan kehendak terhadap Vi, kamu harus lebih banyak bersabar." nasehat Swasti.


"Tentu Ma." sahut Dewandaru mengerti.


"Vi, itu sangat mencintaimu namun butuh waktu panjang, kalau Vi, tidak mencintaimu tidak mungkin dia sudi merawatmu dan setia sampai sekarang, kamu harus bisa meluluhkan hatinya dan menjaganya." nasehat Abyas bijak.


"Ndaru akan belajar dari Ayah dan mama." tutur Dewandaru.


"Mintalah bantuan pada Mamamu, selama ini Mamamu yang paham akan istrimu." nasehat Abyas pada Dewandaru.


"Ceritakan ke mama bagaimana hal ini terjadi." pinta Swasti.


Dewandaru dengan lancar menceritakan tentang kecelakaan yang dia alami dan pada akirnya sampai di klinik tempat Violet praktek, Dewandaru juga menceritakan tentang semua selama berada di klinik Violet.


Jam delapan mereka semua berkumpul menikmati makan malam bersama, selesai makan malam mereka menikmati malam bersama melepas kangen, karena rumah Violet hanya ada dua kamar maka Swasti memilih tidur satu ruangan dengan Dewandaru dengan di temani oleh Violet, Violet tidur di kasur lantai sedankan Swasti tidur satu ranjang dengan Dewandaru. Lingga memilih tidur dengan Arda, Abyas dan Widuri, di kamar sebelah.


Violet sudah tidur dengan nyenyaknya, Dewandaru dan Swasti bercerita banyak sekali.


"Kamu itu sudah istri manjanya masih saja sama." protes Dewandaru.


"Ya, sudah punya istri tapi belum bisa bermanja-manja padanya." bisik Dewandaru.


"Sudah larut besok saja lanjut lagi, kasihan istrimu kalau sampai dia terganggu." bisik Swasti.


Malam semakin larut semua penghuni sudah larut dalam mimpinya namun tidak dengan Dewandaru, hati Dewandaru merasa tidak karuan pasalnya ini pertama kalinya Dewandaru tidur satu kamar dengan Violet.

__ADS_1


Suara Adzan berkumandang semua penghuni rumah Violet sudah bangun dengan sendirinya tidak terkecuali, Linhah dan Arda begitu bangun setelah sholat berjamaah dengan Abyas dan lainnya mereka menghambur ke kamar Dewandaru. Violet dengan dibantu oleh Widuri serta Swasti menyiapkan makanan untuk mereka semua, tidak berselang lama Uni Saidah datang untuk membantunya.


Dewandaru berada di kamar dengan di temank oleh Abyas, canda tawa mewarnai kamar Dewandaru. Arda gadis kecil itu tidak henti-hentinya bercerita tentang semua aktifitasnya di sekolah, Lingga tidak kalah ketinggalan biar Lingga belum sekolah namun Lingga juga memiliki banyak cerita selama berada di kampung tersebut.


__ADS_2