Gelora Noda Dan Cinta

Gelora Noda Dan Cinta
Part 56


__ADS_3

''Suruh orang itu untuk kemari.'' perintah Utari.


''Siap laksanakan komandan.'' sahut polisi tersebut.


polisi tersebut segera menemui Dewandaru dan menyuruh Dewandaru untuk menghadap Utari, Dewandaru segera masuk ke ruangan yang di tunjukan oleh polisi tersebut, Utari sudah duduk di sana seorang diri.


''Silakan duduk mas ada yang bisa saya bantu?'' tanya Utari tegas tetap profesional.


''Maaf mengganggu ada hal yang ingin saya tanyakan pada Bu Utari.'' sahut Dewandaru sedikit


''Silakan.'' perintah Utari tetap tegas, seolah mengenal Dewandaru.


''Maaf jika ini sedikit pribadi,'' ucap Dewandaru memberanikan diri.


''Silakan selagi tidak mengganggu Privasi saya.'' sahut Utari tegas.


''Apa ibu masih mengenal saya, maaf sebelumnya jika tidak salah ibu seperti temannya Violet, sebelumya saya minta maaf jika saya lancang.'' nucap Dewandaru.


''Sepertinya saya msih ingat dengan anda karena bagaimanapun saya tidak akan pernah lupa dengan anda, dan saya tidak pernah menyangka jika kita bakal ketemu lagi di sini.'' ujar Utari, sedikit sinis.


''Maaf saya ingin menanyakan sahabat Ibu, apa Ibu mengetahui keberadaannya?'' tanya Dewandaru langsung.


''Maaf untuk hal itu saya tidak tahu semenjak dia pindah ke luar kota hanya keluarganya saja yang tahu, saya sudah lama tidak mengetahuinya di tambah saya sealu berada di luar pulau dan saya tidak bisa menghubunginya, bahakan setiap kali saya datang menemui mbak Wid, beliau juga diam, seabiknta tanyakan langsung pada keluarha anda,'' sahut Utari jujur.


''Terima kasih Bu Utari, karena keluarga saya tidak memberitahunya maka saya mencarinya sendiri, menurut surat tugasnya dia berada di kota ini dan kecamatan ini namun di desa mana itu yang belum saya ketahui.'' aku Dewandaru jujur.


''Bukankah di surat tugas itu lengkap alamatnya?'' tanya Utari heran.

__ADS_1


''Ya, saya tahu itu namun masalahnya saya hanya menemukan secuil surat tersebut dan hanya tertera nama kota dan kecamatannya untuk lengkapnya tidak ada, itu saya ,menemukan di kontrakan dia dulu dengan mamaku.'' jujur Dewandaru.


''Maaf itu saya tidak tahu, kareena saya sendiri juga mencari keberadaan dia, bagaimana jika besok saja kita bicarakan hal inj di luar jam kantor, sekarang saya lagi ada tugas.'' ucap Utari.


''Baiklah Bu Utari, ini kartu nama saya, jika Bu Utari ada waktu kapanpun saya siap.'' ucap Dewandaru.


Dewandaru pergi meninggalkan kantor polisi dengan perasaan sedikit lega pasalnya ada orang yang berasal dari kotanya walau mereka berdua tidak akrab. Utari melanjutkan pekerjaannya dengan perasaan tidak menentu sudah lima tahun lamanya antara Utari dan Violet tidak pernah bertemu lagi, karena Violet, menjadi lebih tertutup dari sebelumnya.


''Vi, kamu sekarang ada di mana? bagaiamana kabar kamu sekarang?'' gumam Utari ''Kalau kamu benar ada di kota ini semoga kita bisa bertemu lagi.''


Utari melanjutkan pekerjaanya hingga menjelang jam dua belas malam, Utrai pulang ke rumah dinasnya yang tidak jauh dari kantor polisi tempat dia bertugas.


Sepinya malam menambah kesunyian hati Dewandaru, di tengah malam Dewandaru memanjatakan Doa, agar bisa segera dipertemukan dengan anak dan istrinya.. Malam ini Violet tidak bisa memejamkan mata karean Lingga tiba-tiba terbangun dan sedikit rewel.


Violet, berusaha menenangkan Lingga hingga beberapa saat barulah Lingga kembali tidur lagi, Lingga tidur dalam pelukan Violet, sebgaimana hari-hari biasanya.


Dewandaru terus memanjatkan doa-doanya dalam sujud malamnya hingga subuh menyapa, setelah subuh Dewandaru memejam mata sebentar sebelum beraktifitas di kantor. Sebagaimana biasanya Dewandaru beraktifitas di kantor  menyiapkan semua berkas-berkas untuk proyek pembangunan villa dan taman wisata milik tuan tanah.


Pertemuan yang mareak lakukan berjalan selama kurang lebi dua jam saja, Dewandaru merasa penasaran dengan desa tersebut dengan mengendarai sepeda motornya Dewandaru menyusuri desa tersebut, seperti yang di ucapkan oleh pak lurah desa tersebut memang masih benar-benat pelosok terbukati dengan jarak anatar rumah satu dengan satunya sangat jauh. Dewandaru berhenti di sekolah dasar yang ada di desa tersebut, Dewandaru duduk di atas motornya mengamati anak sekolah dasar yang baru saja keluar dari kelas.


Anak-anak itu ketakutan melihat Dewandaru, seabagaimana orang kampung para orang tua selalu berpesan pada anak-anaknya untuk tidak m,endekati orang asing. Beberapa murid ada yag langsu g lari terbirit-birit namun ada pula yang kemabli ke mkelas dan melapor pada gurunya jika telah di awasi oleh orang asing.


'Para guru mendapai laporan dari muridnya sgera keluar untuk membuktikannya, Aziz dan bebrapa guru lainnya segear keluar dan menemui Dewandaru, Aziz segera menyapa Dewandaru.


''Sealamat siang Pak ndaru ternyata anda yang membuat murid-murid saya ketakutan,'' sapa Aziz ramah.


''Selamat siang pak Aziz, maaf saya tidak paham dengan maksud pak guru.'' sahut Dewandaru.

__ADS_1


''Kenalkan ini insinyur yang menggambar tempat wisata yang akan di bangun oleh tuan tanah.'' Aziz memperkenalkan Dewandaru pada guru lainnya.


Dewandaru menyambut dengan ramah, para guru dan Dewandaru saling berkenalan.


''Uda sudah panas ayo pulang aku sudah lapar!'' seru Kirai dari dalam sekolan.


''Sebentar Ki, uda ada teman'' sahut Aziz.


''Siapa?'' tanya Dewanadaru.


''Dia adikku, dia sedikit manja karena dia paling kecil di rumah,'' jelas Aziz.


''Nanti dik Lingga kebru nangis,'' Kirai mencari alasan agar bisa segera mengajak Aziz, pulang.


Mendengar nama Lingga Dewandaru, langsung terkejut.


''Iya Ki, maaf pak Ndaru saya tinggala dulu, silakan mampir ke rumah jika pak Ndaru ada waktu.''


''Siapa dik Lingga putra pak Aziz?'' tanya Dewandaru penasaran.


''Keponakan saya, oh ya pak Ndaru sendiri mau pergi kemana?'' tanya Aziz.


''Saya ingin lebih mengenal masyarakat sini dan kawasan desa ini untuk memperkuat desain-desain saya kedepannya, dan kebetulan saya juga mau minta tolong pak Aziz untuk mengenalkan desa ini lebih kepada saya.'' sahut Dewandaru .


''Dengan senang hati pak Ndaru, kalau bapak ada waktu kita bisa ngobrol di rumah orang tua saya, silakan ikutin saya pak Ndaru, jam sepulang sekolah saya banyak waktu.'' Aziz, mengajak Dewandaru untuk datang ke rumah pak Lurah.


''Terima kasih pak Aziz.''

__ADS_1


Aziz membonceng Kirai untuk pulang dengan di ikuti oleh Dewandaru, selama dalam perjalanan perasaan Dewandaru berdebar tidak karuan, antar sekolah dengan rumah Aziz memerlukan waktu lima belas menit, namun naas dalam perjalanan sedikit terjadi kekacauan tiba-tiba ada kambing warga yang lepas dan lari ke jalan, karena kambing itu munculnya tiba-tiba dan di depan Dewandaru sehingga membuat Dewandaru menabrak pohon dan  jatuh karena hilang keseimbangannya.


Dewandaru mengalami banyak luka terutama di kaki dan tangan kananya, dengan bantuan Aziz dan warga sekitar Dewandaru di bawa ke klinik.


__ADS_2