
"Pak Ndaru, saya ke kantor dulu semoga lekas sembuh, saya sudah lega pak Ndaru, ada yang merawat." pamit pak Lurah dengan senyum senang.
"Terima kasih Pak." sahut Dewandaru ramah.
"Lingga kangen kakak gak?" tanya Dewandaru.
"Kangen, Lingga kangen kakak, kangen kak Alda, Bunda, Oma dan Ayah, meleka gak kesini." ujar Lingga, manja pada Dewandaru.
"Kakak punya jajan banyak sekali, Lingga boleh ambil dan jangan lupa di bagi sama jak Kirai, ya." tutur Dewandaru bahagia.
Lingga duduk di samping Dewandaru, mereka berdua melepas rindu, Violet, dengan di temani oleh bu Lurah, kembali beraktifitas melayani para warga yang datang untuk berobat, beruntung hari ini yang datang untuk berobat hanya lima orang saja jadi Violet banyak santainya.
"Bu Bidan, tidak apa-apa?" tanya bu Lurah, ragu.
"Inshaallah Bu," sahut Violet sudah mulai tenang.
Utari setelah selesai dari tugas dia segera menuju desa tempat Dewandaru di rawat, Utari belum mengetahui jika bidan yang bertiga adalah Violet teman lamanya, Dewandaru juga tidak memberitahu tentang keberadaan Violet.
Utari pergi ke desa tersebut sendirian bermodalkan alamat dari Dewandaru, di depan yang tertulis klinik umum, jadi Utari sama sekali tidak curiga.
Ting Tong ting Tong
Bu Lurah keluar begitu mendengar suara bel berbunyi, bu Lurah sedikit terkejut melihat Utari yang masih memakai seragam polisi.
"Maaf, ada yang bisa saya bantu?" tanya bu Lurah, berusaha tenang.
"Selamat pagi bu, saya datang ke sini mau menjenguk tenan saya yang kecelakaan kemarin, atas nama bapak Dewandaru." turur Utari sopan.
"Bu, polisi benar temannya bukan pacarnya-kan?" tanya Bu Lurah memastikan.
"Saya murni temannya Bu, lagian pak Ndaru sudah beristri dan istrinya itu sahabat saya sendiri." tutur Utari sopan.
"Kalau begitu, Silakan duduk saya lapor bu bidan dulu." sahut bu Lurah sopan.
"Siapa tamunya Bu?" tanya Violet yang baru keluar dari ruang periksanya.
"Temannya pak Ndaru." sahut Bu Lurah.
Utari terkejut mendengar suara Violet, dan melihat Violet yang baru keluar dari ruang periksa.
"Vi, ya Allah Vi!" seru Utari langsung berlari menuju Violet.
"Tar!" Violet terkejut melihat Utari sudah ada di hadapannya.
Keduanya saling berpelukan melepas kangen, airmata mereka berdua juga tidak bisa dibendung lagi. Bu Lurah diam memaku melihat Violet dan Utari saling berpelukan, bu Lurah segera meninggalkan mereka berdua.
__ADS_1
"Aku tidak menyangka kita bisa berjumpa di sini." ungkap Utari haru.
"Aku kangen kamu Tar, maaf." ucap Violet tidak kalah haru."Duduklah dulu." Violet mengajak Utari duduk
"Bagaimana kabarmu, aku benar-benar tidak menyangka kita bisa bertugas di kota yang sama." ungkap Utari.
"Kamu sendiri bagaimana bisa bertugas di sini?" tanya Violet tidak percaya "Kamu bagaimana bisa bertemu dengan Dia? Sejak kapan kamu bertemu dengannya?" tanya Violet, penasaran.
"Sebenarnya baru kemarin lusa malam aku bertemu dengannya, itupun karena dia dirampok, dan kita sempat kejar-kejaran dengan perampok itu, sebenarnya hari ini dia harus memberi kesaksian di kantor polisi, tapi sekarang dia malah kecelakaan." tutur Utari, jujur.
"Pantas sejak kemarin lusa anaku rewel, aku benar tidak paham sejak dulu anakku selalu rewel ketika dia bermasalah, sampai sekarang-pun begitu." tutur Violet jujur.
"Bagaimanapun mereka punya ikatan darah, dan aku yakin mereka pasti memiliki ikatan batin yang kuat, anakmu mana laki-laki apa perempuan?" tanya Utari penasaran.
"Laki-laki, anakku mirip sekali dengan bapaknya, sama sekali tidak mirip denganku." tutur Violet jujur.
"Mana keponakanku?" tanya Utari girang.
"Di dalam sama bapaknya, ayo masuk." Violet mengajak utari masuk ke kamar Dewandaru.
Dewandaru duduk bersandar sambil bercerita dengan Lingga.
"Pak Ndaru selamat siang." sapa Utari yang.
"Bu polici!" Lingga sangat girang saat melihat Utari sudah berada di depan pintu kamar Lingga.
"Hai, anak ganteng!" sapa Utari pada Lingga.
"Kok bu polici tahu lumah Lingga?" tanya Lingga polos.
"Bu polisi kan hebat." sahut Utari membanggakan dirinya.
"Kalian, kapan bertemu?" tanya Violet dan Dewandaru bersamaan.
"Waktu junjungan di sekolah dasar bulan lalu." sahut Utari sambil memeluk Lingga "Jadi Lingga ini anak kalian?" tanya Utari tisak percaya.
"Iya." sahut Violet dan Dewandaru bersamaan.
"Alhamdulillah, aku tidak sendirian di kota ini." ucap Utari bahagia.
"Kalau kalian ada yang penting, Silakan di lanjut biar Lingga aku ajak keluar takut mengganggu." tutur Violet.
"Kalian di sini saja, tidak apa-apa," sahut Utari "Apes sekali nasibmu baru kemarin malam dirampok sekarang malah tidak berdaya, di sini." tutur Utari.
"Karma mungkin, dan untuk mendapatkan berlian juga harus berkorban dulu dong." sahut Dewandaru percaya diri.
__ADS_1
Violet tetap acuh dan dingin, Lingga tidak mau lepas dari Dewandaru, mereka berdua sudah bagai amplop dan perangko saja.
Utari selain menjenguk Dewandaru juga menjalankan tugasnya sebagai polisi yang menanani kasus Dewandaru. Karena ada warga yang datang untuk berobat Violet, melakukan tugasnya.
"Kakak kok kenal bu poluci?" tanya Lingga pada Dewandaru.
"Bu polici ini teman kakak, dan teman mamanya Lingga." sahut Dewandaru, lembut.
"Belalti teman Lingga juga?" tanya Lingga.
"Benar anak manis." sahut Utari bahagia.
"Kok mamggil kakak?" tanya Utari, penasaran.
"Biarlah bu, yang dia tahu aku kakaknya." sahut Dewandaru sopan, dan tidak merasakan kekecawaan.
"Setelah aku amati kalian itu serasi sekali, sayangnya permulaannya yang kurang pas." ungkap Utari.
"Namanya anak muda, masih belum bisa berpikir secara waras." sahut Dewandaru "Sekarang aku bahagia sekali bisa melihat mereka, lima tahun seperti orang gila, sejak enam bulan lalu aku juga benar-benar gila tidak mengetahui keberadaan mereka." jujur Dewandaru.
"Kelihatannya kamu sangat mencintainya?"
"Tentu Aku mencintainya, secara tidak sengaja dia yang membuatku jatuh cinta sampai seperti orang gila." ucap Dewandaru jujur.
"Asal kau bahagia, Vi, itu sangat baik beruntung kamu menikahinya," tutur Utari.
"Sangat beruntung sekali, dan kemarin Vi, juga sudah mengakuiku sebagai suaminya, dari awal aku masuk sini dia juga tidak menolakku, bahkan merawatku sangat baik." tutur Dewandaru. "Kamu sendiri bagaimana sudah menikah?" tanya Dewandaru memberanikan diri.
"Belum minat." sahut Utari.
"Bagaimana kabar mamamu?" tanya Dewandaru.
"Alhamdulillah baik, cuma sekarang tugasnya pindah."
"Beliau sangat baik dan bijaksana, daei beliau aku banyak belajar. " ucap Dewandaru.
Lingga asyik menempel pada Dewandaru, hingga dis tertidur pulas dalam dekapan tangan kiri Dewandaru.
"Biar aku bantu pindah Lingga." usul Utari.
"Tidak usah, biar begini saja, lima tahun aku menanti hal seperti ini." tolak Dewandaru.
"Aku rasa sudah cukup aku keluar dulu, mau menemui Vi, sudah kangen sekali semoga kamu cepat sembuh." tutur Utasi.
"Kamu tidak membenciku?" tanya Dewandaru.
__ADS_1
"Semua manusia pasti pernah berbuat salah, ya dulu aku memang sangat membencimu, namun melihat tanggung jawab kamu aku yakin, kamu pantas untuk Vi." tutur Utari jujur.
"Terima kasih."