Gelora Noda Dan Cinta

Gelora Noda Dan Cinta
Part 67


__ADS_3

Abyas, Swasti, Widuri serta Gayatri berangkat ke bandara, mereka mau memberi kejutan pada Violet, dan Lingga. Arda sangat bahagia saat di beritahu jika mau bertemu dengan Lingga dan Violet selama dalam perjalanan Arda tidak henti-hentinya mengungkapkan ke kangenannya pada pada kedua orang tuanya. Setelah sekian tahun memiliki dua istri ini untuk pertama kalinya Abyas mengajak kedua istrinya pergi jauh, biasanya Abyas hanya pergi dengan satu istri saja.


Mereka menaiki sebuah pesawat domestic dengan pemberangkatan jam sembilan pagi. Abyas memilih duduk yang berjajar dengan keluarganya.


Abyas duduk di tengah dengan diapit oleh dua istrinya, jika dilihat dari luar mereka seperti keluarga yang tidak bermasalah, Abyas mengajak dua istrinya selain untuk menjenguk Violet Abyas bertujuan untuk berlibur bersama.


"Yah masih lamakah bertemu dengan dik Lingga?" tanya Arda sudah tidak sabar untuk bisa bertemu dengan Lingga dan Violet.


"Masih, istirahatlah dulu sayang kalau sudah sampai Ayah bangunin." jawab Abyas lembut.


"Mama dik Lingga lagi ngapain ya?" tanya Arda penasaran.


"Kita tidak tahu, mungkin lagi nunggu kita datang." tutur Abyas lembut.


Setelah kurang lebih berada di dalam pesawat satu jam, pesawat yang mereka tumpangi mendarat dengan selamat, setelah mengambil bagasi mereka menuju tempat parkir bus antar kota.


Dari bandara menuju kota yang di tempati oleh Violet memakan waktu enam jam perjalanan dengan menggunakan alat transportasi bus antar kota, Mereka selalu bersama-sama bahkan duduk pun mereka tidak mau terpisah, Arda sedikit rewel karena rasa lelah yang dia rasakan, dan kali ini merupakan perjalan paling jauh bagi Arda.


"Masih jauh Yah?" tanya Swasti penasaran.


"Sejam lagi kita bisa bertemu dengan mereka, nanti ada teman ayah yang menjemput di terminal." tutur Abyas.


"Indah, sejuk." tutur Widuri senang.


"Di tempat Violet bertugas, malah lebih dari ini dan untuk menuju ke kota memerlukan waktu kurang lebih satu jam." tutur Abyas.


Abyas masih menyembunyikan tentang keberadaan dan keadaan Dewandaru.


"Yah, Kota yang di tempati Ndaru dan Vi, itu sama gak?" tanya Swasti penasaran.


"Kurang tahu Ma." jawab Abyas asal.


"Anak cuma satu itu ya seperti ini, Wid jangan hanya punya satu anak saja, susah seperti ini jika anak sudah pergi ya, seperti ini susah, sepi." keluh Swasti.


"Ya, kalau di kasih lagi alhamdulillah mbak, tinggal Ayah bagaimana, takutnya kak Ndaru malah keberatan." tutur Widuri sopan.

__ADS_1


"Soal Ndaru tidak ada masalah dia akan fokus dengan keluarganya." tutur Swasti.


"Kalau masih di percaya memiliki keturunan lagi tentu ayah terima dengan sangat bahagia, itu artinya khitan Ayah tidak salah, memiliki dua istri yang sholehab, nambah anak dan nambah cucu sungguh asik jika nanti bersaing dengan Ndaru." gurau Abyas.


"Ayah!" seru mereka di dalam bis.


Mereka tertawa sendiri walau lirih .


"Gitu dulu suruh nikah lagi saja susahnya minta ampun." goda Swasti.


"Belum tahu rasanya." sahut Abyas asal.


"Kalau sekarang?" tanya Widuri.


"Pinginnya nambah lagi." gurau Abyas.


"Apa? nambah?"


Widuri, Swasti dan Gayatri menyahut secara bersamaan, Swasti segera pura-pura menjewer telinga Abyas, sedang Widuri menukul kecil lengan Abyas.


"Dua saja sudah bikin tubuh gak bisa istirahat, apalagi empat, kapan aku mengurus bengkel." bisik Abyas jujur


Mereka semua tertawa walau lirih karena takut di dengar oleh penumpang lainnya. Arda tidur tenang dalam pelukan Abyas, Abyas memang memanjakan kedua istrinya, Abyas selalu menggendong anaknya jika sedang jalan-jalan.


"Mama berharap sekali kita bisa nambah momongan lagi biar Arda tidak kesepian, aku juga tidak kesepian, dulu kami bermimpi ingin memiliki tiga sampai lima anak, tapi itu dulu sekali sayangnya semua hanya mimpi Wid." ujar Swasti.


Swasti berkata seprti itu bukan untuk yang pertama kalinya, Widuri sendiri sebenarnya juga ingin memiliki banyak namun karena di awal pernikahan banyak masalah yang hadir sehingga membuat Widuri belum berani until nambah anka lagi.


"Semoga Allah masih mempercayakan pada kami mbak." tutur Widuri tulus.


"Aamiin yarobbal'alamin." sahut Abyas, Gayatri dan Swasti.


Enam jam mereka berada di bis antar kota, sampai di kota yang di tuju pada jam lima sore, seperti yang di ucapkan Abyas, di terminal sudah ada yang menjemput, satu pasang suami istri menjemput kadatangan keluarga Abyas. Setelah berbasa-basi dan menata barang ke dalam mobil mobil tersebut sudah meluncur menuju desa tempat Violet bertugas.


Pemandangan dan suasana sangat jauh berbeda dengan di jawa, di kota ini masih banyak sekali hutan belantara dan jalannya juga berkelok-kelok serta naik turun, tebing dan kurang juga masih mendominasi kita tersebut.

__ADS_1


"Rasanya mama tidak tega membiarkan anak dan cucu mama tinggal di sini." ucap Swasti gusar begitu melihat sendiri tempat yang di pilih oleh Violet.


"Inshaallah tempat inilah yang akan menyatukan kekuarga kita agar utuh dan bahagia seperti dulu." tutur Abyas, lembut.


"Semoga saja Yah, aamiin yarobbal'alamin."


Sahut Widuri dan Swasti bersamaan, Arda terlihat lemah karena capek yang di alaminya.


"Yah dulu bagaimana Vi, bisa berangkat sendiri?" tanya Widuri, tidak kalah kawatir.


"Dulu sampai di bandara Ayah juga sudah meminta seseorang untuk menjemput mereka, Ayah tahu Vi itu anak yang sangat mandiri." tutur Abyas.


Suasana sudah mulai menggelap penererangan di jalan masih sangat minim, karena jarak antara rumah satu dengan yang lainnya sangat jauh selalu terhalang oleh pekarangan warga.


Sopir dan istrinya memberi penjelasan tentang kota tersebut, Swasti dan Widuri dengan seksama mendengarkan ucapan dari spa suami istri tersebut.


Jam tuju malam rombongan mereka sampai di halaman rumah pak Lurah. Kedatangan kekuarga Abyas tidak ada yang mengetahuinya. Swasti, Widuri dan Gayatri sangat takjub dengan keadaan sekitar. Semua rombongan turun mereka menuju klinik, kebetulan di klinik ada dua pasien yang sedang mengantri.


Abyas dan yang lainnya menungu di klinik hingga beberapa saat lamanya, setelah Violet memeriksa pasien terakir Violet keluar dari ruangannya, betapa terkejutnya Violet yang duduk di kursi tunggu adalah keluarganya.


"Ayah, Mama, mbak Wid !" seru Violet dengan perasaan terkejut dan bahagia.


Violet segera memeluk mereka satu persatu, pal Lurah dan Aziz begitu mendengar ramai-ramai di klinik mereka segera keluar rumah menuju klinik, begitu juga Uni Saidah bu Lurah dan Kirai juga menuju klinik, karena suara yang di timbulkan oleh Violet.


"Mama, Ayah, Mbak Kenapa kalian tidak memberi kabar jika mau ke sini?" ucap Violet bahagia sekali.


"Sengaja ingin membuat kejutan." sahut Abyas santai.


Arda kini juga sudah berada dalam pangkuan Violet yang duduk di kursi tunggu.


"Cucu mama mana ?" tanta Swasti.


"Ada, di dalam rumah Ma, biar Vi panggilkan." tutur Violet lembut.


"Kita kerumahmu saja Vi, di sini banyak pasien gak enak." usul Widuri.

__ADS_1


__ADS_2