
Violet setelah membuat Dewandaru nyaman tinggal di kamarnya dia kembali menjalankan tugasnya sebagai seorang tenaga medis.
Dewandaru kini berada di dalam kamar Violet, masih di temani oleh Aziz, Kirai dan Lingga. Sekarang Dewandaru menempati kamar yang berukuran empat kali tiga meter dan ranjang yang tidak begitu luas, hanya cukup untuk dua orang saja.
"Pak Aziz terima kasih maaf merepotkan." tutur Dewandaru, merasa tidak enak.
"Tidak merepotkan pak susah menjadi tugas kami, untuk menolong sesama." tutur Aziz sopan.
Lingga terus menempel pada Dewandaru, bahkan dengan senang hati Lingga memamerkan tentang apa-apa yang ada di kamarnya termasuk hasil gambarannya selama ini. Lingga di usianya menginjak lima tahun dia sudah pandai sekali menggambar, hasil gambaran Lingga juga sangat unik, warna yang di torehkan oleh Lingga juga terkesan warns elegan.
Dewandaru tidak henti-hentinya memuji semua gambaran Lingga yang ditunjukkannya padanya, semakin lama Aziz menyadari kedekatan Lingga dan Dewandaru seperti orang yang sudah lama kenal, namun Aziz tidak berani bertanya pada Dewandaru maupun Lingga.
"Uda, Uda tahu gak kalau bu polisi baru saja dari sini." tutur Kirai.
"Ya gak tahu, ngapain bu polisi kesini, ada apa?" tanya Aziz penasaran dan tidak percaya dengan ucapan Kirai.
"Katanya menjenguk Pak Ndaru." jawab Kirai kurang meyakinkan, menirukan ucapan Lingga.
"Ya benar apa yang dikatakan kak Kirai tadi ada polwan datang kemari, sebenarnya hari ini saya harus datang ke kantor polisi untuk memberi kesaksian atas peristiwa penjambretan kemarin lusa, berhubung saya terbaring di sini maka polisi tersebut yang datang ke sini untuk memastikan jika saya dalam keadaan tidak berbohong, dan meminta saya membuat video keterangan." tutur Dewandaru jujur.
"Pak Ndaru kejambret?" tanya Aziz terkejut.
"Iya, kemarin lusa malam, sewaktu baru pulang dari belanja." tutur Dewandaru lagi.
"Kakak aku punya gambal bagus sekali." Lingga menunjukkan sebuah gambar keluarga yang sangat lengkap.
Dewandaru melihat gambar tersebut, Lingga dengan jelas menunjukkan setiap gambar di kertas tersebut mulai dari gambar dirinya sendiri, Dewandaru, Abyas, Swasti, Violet, Widuri, sera Arda.
Aziz melihat gambar tersebut hanya ber- oh ria mau tanya juga masih sangat ragu apalagi Dewandaru dan Aziz baru saja kenal. Setelah satu jam menemani Dewamdaru Aziz keluar dari kamar karean ada hal yang harus dia kerjakan.
Aziz duduk di teras depan sambil terus mengerjakan tugasnya dari sekolahan, hingga tanpa Aziz sadari pak Lurah juga sudah berada di samping Aziz.
__ADS_1
"Bapak, sudah pulang?" tanya Aziz seperti biasa.
"Kamu sibuk Ziz?" tanya pak Lurah.
"Gak juga pak, ada hal yang perlu bantuan Aziz?" tanya Aziz, seperti biasa.
"Kamu kenapa tidak mencari wanita pendampingan?" tanya pak Lurah tiba-tiba "Jangan berharap pada bu Bidan, ingat bu Bidan itu sudah bersuami." tutur Pak Lurah, tiba-tiba membuat Aziz, sedikit gusar.
"Aziz, tahu itu tapi rasa itu seperti tidak bisa di bendung lagi Pak." sahut Aziz, jujur
"Hari ini pasien bu bidan banyak, yang membuatku masih bingung pak Ndaru sekarang di rawat di kamar pribadi bu bidan padahal mereka lawan jenis," tutur Aziz, curiga.
"Tidak apa keadaan darurat." tutur pak Lurah, santai.
"Mereka lawan jenis pak, tidak baik di inapkan di kamar pribadi, dan bukan muhrim," tutur Aziz, ngotot.
"Kamu gak tanya bu bidan?" tanya Pak Lurah.
"Sebenarnya mereka suami istri, itu sebabnya bapak tidak terkejut dengan apa yang kamu laporkan, biarkan mereka sekamar toh mereka bukan pasangan Zina." tutur pak Lurah sopan.
Aziz, mendengar penuturan dari Pak Lurah seperti mendengar sebuah, bom yang baru meletus di dalam dadanya.
"Bapak tahu kalau kamu masih mengharapkan bu Bidan, pesan bapak tidak baik menjadi duri dalam rumah tangga seseorang." pesan pak Lurah, bijak.
Aziz, menerawang jauh, jangankan merayu untuk bicara saja hati Aziz sudah tidak karuan. Mendengar kejujuran dari Pak Lurah membuat membuat Aziz, berkecil hati "Belum perang sudah kalah." gumam Aziz, dalam hatinya.
"Bapak tahu dari mana, jika pak Ndaru suami bu bidan?"
"Bu bidan sendiri yang mengakuinya tadi pagi, dan setelah aku Cocokan yang memang benar, pak Ndaru memiliki banyak kesamaan antara Lingga dan Dewandaru, selain itu bu bidan menunjukkan buku nikahnya." tutur pak Lurah, bijak.
"Bapak jangan khawatir, saya akan lebih bisa menjaga diriku sendiri." jawab Aziz, Berusaha biasa.
__ADS_1
"Bapak percaya hal, itu maka bapak segera memberitahumu sebelum semuanya terlambat, oh ya tadi Aku dengar dari ibumu ada polisi datang ke sini, apa mungkin bu bidan lapor polisi?" tutur pak Lurah ingin mencari kebenarannya.
"Ya, tadi pak Ndaru juga bilang begitu namun polisi datang bukan karena laporan bu bidan namun karena pak Ndaru telah di jambret kemarin lusa malam itu sebabnya polisi datang kemari untuk memastikan kalau pak Ndaru benar-benar tidak bida datang ke kantor polisi untuk memberi kedaksian." jelas Aziz.
"Kata ibumu mereka bertiga berteman, " tutur pak Lurah lagi.
"Soal itu Aziz, tidak tahu, karean dari tadi Aziz, memikirkan tentang perpindahan pal Ndaru di kamar Violet."
Pak Lurah mulai memberi banyak nasehat pada Aziz, seperti orang tua pada umumnya pak Lurah tidak ingin memiliki anak yang merusak keluarga orang lain, Aziz cukup paham dengan nasehat pak Lurah, walau usia Aziz mencapai kepala tiga Aziz, selalu mendengarkan nasehat kedua orang tuanya.
Malam semakin larut dari sinag sampai malam Violet sungguh sangat di sibukkan dengan tugasnya sebagai bidan desa dan di waktu bersamaan ada dua wanita yang melahirkan.
Uni Saidah dan bu Lurah juga turut serta dalam kesibukannya dalam membantu Violet. Sesibuk apapun Violet dalam pekerjaan dia tetap mengurus sendiri segala keperluan Lingga dan juga Dewandaru.
Jam sepuluh malam Lingga sudah tidur dalam pelukan Dewandaru, sedangkan Violet baru saja masuk ke kamarnya.
"Apa setiap hari jam segini baru selesai?" tanya Dewandaru, basa-basi sekedar agar Violet bersuara.
Violet tidak menghiraukan pertanyaan Dewandaru, dia mengambil baju dalam lemarinya, lalu pergi keluar lagi setelah beberapa saat Violet susah kembali dengan baju daster lengan panjang dan rambut panjangnya yang di ikat asal, Violet, ingin memindahkan Lingga tidur dengannya di ruang tengah.
"Jangan pindahkan Lingga, aku sudah lama merindukan keadaan seperti ini." Dewandaru melaranb Violet.
"Tidur Lingga tidak bisa diam, Lingga akanenyulitkanmu." sahut Violet dingin.
"Kamu tidurlah, jangan pindahkan Lingga dari tempat ini." pinta Dewandaru penuh harap.
"Lima tahun lebih aku menahan rindu pada Putraku, tidakkah kamu ingin melihat Lingga bahagia." tutur Dewandaru.
Violet diam tanpa suara, sebagai seoran ibu tentu Violet, juga menginginkan ankanya mendapatkan kasih sayang dari ayahnya, namun hati kecilnya belum bisa diajak kompromi untuk bisa menerima kehadiran Ndaru dalam hidupnya.
"
__ADS_1