Guru Cantik Pujaan Hati

Guru Cantik Pujaan Hati
Bab 42


__ADS_3

Setelah selesai menyanyi, Afkar langsung turun dari atas panggung tersebut, dan menghampiri Artika yang tengah menangis terharu atas apa yang di lakukan oleh Afkar tadi.


"Sayang, kenapa kamu menangis?"tanya Afkar pada Artika dengan wajah yang terlihat sangat khawatir.


"Aku tidak apa-apa mas, ini hanya tangis bahagiaku saja. Terima kasih mas, aku sangat bahagia malam ini" jawab Artika seraya tersenyum manis ke arah Afkar, sambil menghapus air matanya.


"Sayang, kamu tidak perlu berterima kasih padaku, aku mencintaimu dengan tulus dan ikhlas sayang. Sekarang ayo kita pergi dari sini" ucap Afkar pada Artika.


"Kita akan kemana lagi mas" tanya Artika.


"Apakah kamu tidak ingin ke pantai saat malam hari" tanya Afkar pada Artika dengan lembut.


"Aku mau mas. Ayo cepat kita pergi dari sini"ucap Artika dengan penuh semangat.


Afkarpun segera mengajak Artika kepantai tidak perlu waktu yang lama, kini mereka sudah berada di bibir pantai, mereka berdua memandang ke arah langit yang di hiasi bintang-bintang.


"Mas, aku ingin meminta maaf padamu atas sikap papa tadi siang" ucap Artika pada Afkar.


"Tidak apa-apa sayang Mas mengerti, apakah kamu sudah tidak bersedih lagi" tanya Afkar pada Artika.


"Mas, sangat bohong jika aku tidak merasa sedih, aku kecewa terhadap papa, aku tak menyangka jika papa menganggapku sebagai beban dalam hidupnya" ucap Artika sendu.


"Sudah lah sayang, mas yakin suatu saat nanti papamu akan sadar, dan kalian akan kembali berkumpul seperti dulu lagi" ucap Afkar menenangkan Artika.


"Iya mas, aku juga berharap seperti itu, mas untuk uang yang mas keluarkan sebanyak itu, aku akan menggantinya. walaupun harus dengan cara mencicil" ujar Artika pada Afkar, karena merasa tidak enak hati, lagi pula uang yang di keluarkan oleh Afkar bukanlah jumlah yang sedikit.


"Sayang, kamu tidak perlu mengganti uang tersebut, tak lama lagi kita akan menikah, uang mas uang kamu juga, apapun yang mas miliki itu juga milikmu. Oke" ucap Afkar seraya menatap Artika dengan dalam.


"Tapi mas....mmmppphh" ucapan Artika terhenti karena Afkar langsung membungkam bibir Artika dengan bibirnya.


Afkar dengan agresif mencium dan ******* bibir milik Artika, begitu pula dengan Artika yang membalas setiap ciuman dan lumatan yang Afkar berikan.


Mereka berdua menyudahi ciuman itu, karena mulai kehabisan nafas. Setelah menstabilkan nafasnya, Afkar mencium kening Artika dengan begitu lama seolah-olah menyampaikan perasaannya melalui ciuman tersebut.

__ADS_1


"Sayang berhentilah berbicara yang tidak-tidak. Aku ini calon suami, tak lama lagi kita akan menikah" ucap Afkar pada Artika.


"Iya mas, terima kasih ma, sekarang aku merasa, jika aku tak sendirian lagi di sini" ujar Artika dengan nada yang bahagia.


"Sayang, kamu tenang saja, sekarang mas akan selalu menemanimu jangan pernah berpikir jika kamu sendirian di sini, ada mas dan keluarga mas yang begitu menyayangimu" ucap Afkar dengan lembut.


"Terima kasih mas, sudah mau menyayangiku" ucap Artika dengan tulus.


"Mas, jika papa tidak bisa menjadi pendampingku saat kita menikah nanti, aku akan meminta kakek Bayu atau kak Xavier saja yang menjadi pendampingku nanti, bagaiman menurutmu mas" ujar Artika pada Afkar.


"Baiklah sayang, apapun untukmu" ujar Afkar seraya tersenyum kearah Artika.


Karena hari sudah malam mereka berdua pun memutuskan kembali ke resort untuk beristirahat. Besok mereka akan kembali ke Kota A dengan penerbangan paling awal.


Malam ini Afkar dan Artika memang tidur di dalam 1 kamar, Afkar memutuskan untuk tidur di sofa, dan Artika yang tidur di atas ranjang.


Afkar takut jika dirinya tidak bisa menahan hawa nafsunya, makanya Afkar lebih memilih untuk tidur di sofa saja.


Pernikahan Afkar dan Artika tinggal 10 hari lagi, semua persiapan sudah di lakukan, undangan juga sudah di sebar, begitupun keluarga Afkar yang dari luar negeri.


Mereka sudah datang dan menghadiri pernikahan Afkar,. Hubungan Artika dan Lia semakin hari semakin dekat, karena Lia yang membuatkan gaun pengantin untuk Artika, dari gaun untuk pemberkatan, hingga gaun untuk acara resepsi.


Lia sudah menganggap Artika sebagai adiknya sendiri, begitu pula dengan Artika. Mereka memang baru kenal belum lama ini. Tapi karena sifat dan sikap Artika yang membuat Lia merasa nyaman, hingga Lia sangat menyukai Artika.


Afkar pun mulai sibuk di kantornya, dia ingin menyelesaikan segala urusan pekerjaannya, karena dia akan melaksanakan pernikahan dan setelah itu dia akan mengajak Artika untuk berbulan madu ke Paris, sesuai impian Artika.


Afkar tak ingin jika waktu dia dan Artika berbulan madu nanti akan terganggu karena urusan pekerjaan Afkar yang belum selesai. Maka dari itu Afkar berusaha menyelesaikan pekerjaannya.


Di tengah kesibukannya, Afkar di kejutkan dengan kedatangan Lara, keponakan dari suami Tantenya. Lara dan Afkar dulu mereka kuliah di univeraitas yang sama, jurusan yang mereka ambil pun juga sama,bahkan mereka selalu juga selalu berada di kelas yang sama.


Tokk....Tokk....Tokk....


Lara mengetuk pintu ruangan Afkar, setelah mendapat jawaban dari Afkar, Lara langsung masuk ke dalam ruangan milik Afkar.

__ADS_1


"Afkar, apakah kau lupa padaku. Sehingga kau tak menyambut kedatanganku" ucap Lara yang melihat Afkar tidak mengalihkan perhatiannya dari dokumen yang dia periksa.


Mendengar suara yang begitu familiar di telinganya, Afkar segera mendongakkan kepalanya untuk memastikan siapa pemilik dari suara tersebut.


"Lara, sejak kapan kamu tiba di Indonesia, bukankah kamu sekarang berada di Amerika?" ucap Afkar kaget melihat kedatangan Lara, Karena setahu Afkar, Lara berkarier sebagai model di Amerika.


"Aku baru saja tiba di Indonesia Afkar, begitu aku mendapat kabar bahwa dirimu akan menikah. Aku langsung pergi ke Indonesia untuk menghadiri pernikahanmu" ucap Lara dengan senyum yang di paksakan.


"Oh... benarkah? Terima kasih sudah mau datang ke pernikahanku. Kamu akan menginap di mana?" tanya Afkar pada Lara.


"Aku tidak tahu Afkar, Tante Ema mengajak aku menginap di rumahmu, tapi aku merasa tidak nyaman karena di rumahmu terlalu ramai" jawab Lara.


"Bagaimana kalau kau menginap di apartemen milikku. Nanti jam makan siang akan ku antar kau ke sana" usul Afkar pada Lara.


Dengan senang hati Lara menerima usulan dari Afkar, Lara sudah lama menyimpan perasaan pada Afkar, sejak mereka mulai kuliah dulu.


Bagi Lara, Afkar adalah cinta pertamanya dan juga pelindungnya, Afkar begitu perhatian dan sangat baik terhadap Lara.


Sehingga Lara salah mengartikan perhatian dan kebaikan yang di berikan Afkar pada dirinya.


Lara mencintai Afkar, tapi tidak berani untuk mengungkapkan, sedangkan Afkar sama sekali tidak memiliki perasaan apapun pada Lara.


Mendapat kabar jika Afkar akan menikah, Lara langsung cepat-cepat pergi ke Indonesia, Lara tak rela jika Afkar menikahi wanita lain selain dirinya.


Lara akan melakukan apa saja, untuk mengagalkan pernikahan Afkar.


Terima kasih telah membaca karya saya


Mohon maaf bila terdapat banyak kesalahan


Mohon kritik dan sarannya


Jangan lupa Vote,like,komendan share ya

__ADS_1


__ADS_2