
Setelah kepergian Nyonya Diana, Afkar dan juga Lia, Artika segera pergi ke kamar Kakek Bayu dan Xavier.
Tokk..Tokk...Tokk....
Artika mengetuk pintu kamar Kakek Bayu dan juga Xavier, tak lama Xavier membuka pintu kamarnya.
Xavier heran melihat penampilan Artika, padahal acara tidak lama lagi akan di mulai, kenapa Artika masih belum bersiap-siap.
"Ada apa Artika, kenapa kamu kemari" tanya Xavier pada Artika dan masih berdiri di depan kamarnya.
"Kak, bolehkah aku masuk" ucap Artika dengan suara yang bergetar karena menahan tangisnya yang sebentar lagi akan pecah.
"Kamu kenapa Artika, masuklah" ucap Xavier mempersilahkan Artika untuk masuk kedalam kamarnya.
Setelah Artika masuk ke dalam kamarnya, Xavier menutup pintu dan segera mengunci pintu tersebut. Tangis Artika pecah kala melihat kakek Bayu yang tengah bersiap-siap.
Kakek Bayu dan Xavier hanya di buat heran oleh tingkah Artika, dan mereka bertanya-tanya apa sebenarnya uang terjadi, sehingga membuat Artika menangis seperti itu.
"Artika, kenapa kamu menangis, apa kamu ada masalah, cepat ceritakan kepada kakek" tanya Kakek Bayu dengan lembut.
Artika langsung memeluk Kakek Bayu, begitu juga dengan Kakek Bayu yang membalas pelukan Artika, sambil mengelus kepala Artika.
"Kakek, aku dan mas Afkar tidak jadi menikah kek. Apa aku tidak pantas untuk bahagia kek, sehingga Tuhan selalu saja membuat ku menderita kek. Hikss....hikss...hikss..." ucap Artika seraya menangis.
Degh....
Jantung Xavier berdetak saat mendengar ucapan Artika, jika dirinya tak jadi menikah. Apa sebenarnya yang terjadi.
"Artika jangan bicara seperti itu, Tuhan itu maha adil, dia tahu mana yang terbaik untuk umatnya. Kakek yakin jika kamu akan bahagia nantinya Artika. Sekarang jelaskan pada Kakek, kenapa kamu dan Afkar tidak jadi menikah?" tanya Kakek Bayu dengan hati-hati.
Dengan berurai air mata, Artika pun menceritakan semuanya pada Kakek Bayu dan juga Xavier, apa penyebabnya dia tidak jadi menikah dengan Afkar.
"Dasar laki-laki brengsek, ********" umpat Xavier seraya meninju dinding kamarnya.
__ADS_1
"Artika, kamu yang sabar ya, mungkin Afkar bukan jodohmu. Sehingga Tuhan memisahkan kalian dengan cara seperti ini. Ini mungkin adalah hal menyakitkan untukmu, tapi percayalah Tuhan akan mengirimkan jodoh yang terbaik untukmu nanti" ucap Kakek Bayu menasehati Artika.
Kakek Bayu tidak ingin memperkeruh keadaan, kakek Bayu juga marah dan kecewa pada Afkar, tapi dia hanya ingin Artika berpikir positif saja.
Supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak di inginkan nantinya. Berbeda dengan Xavier setelah mendengar cerita dari Artika, Xavier langsung keluar dari kamar tersebut.
Xavier akan pergi ke kamar Afkar untuk memberikan pelajaran pada Afkar karena telah menyakiti adiknya.
Setelah sampai di depan kamar Afkar, Xavier langsung mengetuk pintu dengan tidak sabaran. Afkarpun membukakan pintu kamarnya.
Bugh...Bugh..Bugh...
Xavier memukul wajah Afkar dengan membabi buta, hingga sudut bibir dan hidung Afkar mengeluarkan darah.
Afkar sama sekali tidak melakukan perlawanan terhadap Xavier, dia hanya bisa pasrah dan menerima apa yang di lakukan oleh Xavier.
"Dasar laki-laki brengsek, pukulan itu tak sebanding dengan apa yang kamu lakukan pada Artika" ucap Xavier dengan heran karena tidak mendapat perlawanan dari Afkar.
"Maafkan aku kak, bisakah kamu mendengar penjelasan ku dulu kak" ucap Afkar pada Xavier.
Nyonya Anita dan Tuan Ardi datang kekamar Afkar, untuk mengajak Afkar pergi ke tempat pemberkatan, karena acara akan dimulai 30 menit lagi.
Nyonya Anita dan Tuan Ardi sangat kaget melihat kondisi Afkar yang babak belur akibat pukulan Xavier.
Nyonya Anita langsung mengobati luka-luka dan lebam-lebam di wajah Afkar. Sementara Tuan Ardi berterima kasih pada Xavier karena sudah memukul anaknya.
"Terima kasih Xavier, kamu sudah memukul anak kurang ajar itu, Om juga ingin meminta maaf padamu, atas perbuatan Afkar" ucap Tuan Hari dengan penuh rasa penyesalan.
"Tak masalah om, aku akan dengan senang hati memukul siapa pun yang menyakiti adikku" ucap Xavier dengan tegas.
Artika dan Kakek Bayu datang untuk menyusul Xavier, kakek Bayu sudah menduga kalau Xavier pasti akan memukuli Afkar.
"Kak Xavier, kok tega sih mukulin mas Afkar, kan sebentar lagi mas Afkar akan jadi pengantin kak. Kan gak lucu kalau pengantin laki-lakinya berwajah lebam kayak gini" ucap Artika dengan cemberut.
__ADS_1
Artika tidak ingin terlihat menyedihkan di mata Afkar dan keluarganya. Walaupun jauh di dalam lubuk hatinya Artika merasa kesedihan yang teramat dalam.
"Bunda, sini biar Artika saja yang mengobati luka mas Afkar" ucap Artika seraya meraih kotak P3K yang ada di tangan Nyonya Anita.
"Dek, kamu mau kemana sih, kok berpakain seperti ini" tanya Xavier yang heran melihat penampilan Artika, yang mengenakan gaun pesta.
"Kak Xavier yang paling tampan, tapi otaknya sedikit geser, sebentar lagi adalah acara pernikahan mas Afkar, wajar saja kalau aku berpakaian seperti ini. Aku ingin menjadi saksi atas pernikahan mas Afkar dan mbak Lara kak" ucap Artika terkekeh seraya tangannya sibuk mengobati luka di wajah Afkar.
"Dek, kamu itu sudah gila atau apa sih, calon suamimu akan menikahi wanita lain, dan kamu masih bisa terlihat tenang bahkan akan ikut menjadi saksi pernikahan mereka" ucap Xavier yang tak habis pikir atas sikap Artika.
"Kak aku ini masih waras, tega sekali kakak mengatai aku gila, sudahlah kak, mendingan kakak sekarang bersiap-siap ganti pakaian kakak dan ingat kakak harus kelihatan tampan, aku ingin kakak menjadi pasanganku saat menghadiri pernikahan mas Afkar nanti" ucap Artika seraya tersenyum.
Kakek Bayu segera menepuk pundak Xavier, untuk memberikan kode pada Xavier, agar Xavier mau menuruti keinginan Artika.
Dengan terpaksa Xavier pergi dari kamar Afkar dan menuju ke dalam kamar miliknya untuk segera berganti pakaian dan bersiap-siap.
"Sayang, apakah kamu tidak mencintai mas, kenapa kamu bersikap seolah-olah semuanya baik-baik saja" tanya Afkar pada Artika.
"Mas, aku akan berbohong jika aku mengatakan kalau aku tidak mencintaimu, jujur aku sangat mencintaimu. Hanya saja aku tidak ingin menjadi egois hanya mementingkan perasaanku" jelas Artika dengan tenang sambil menahan sesak di dadanya.
"Mas, mungkin memang kita di takdirkan untuk tidak berjodoh saat ini, mas harus percaya akan takdir Tuhan, jika kita berjodoh pasti Tuhan akan menunjukkan jalan untuk kita bersama" sambung Artika lagi.
Betapa hancurnya hati Afkar mendengar perkataan Artika, begitu juga dengan Nyonya Anita dan Tuan Ardi.
Kakek Bayu sangat bangga memiliki cucu seperti Artika yang bisa bersikap dewasa di saat menghadapi masalahnya.
"Kakek bangga padamu Artika, kakek yakin pasti akan ada kebahagiaan lain yang akan menantimu" ucap Kakek Bayu dalam hatinya.
Terima kasih telah membaca karya saya
Mohon maaf jika terdapat banyak kesalahan
Mohon kritik dan sarannya
__ADS_1
Jangan lupa Vote,like, komen dan share yaaa