
Setelah mendapat kabar dari Xavier bahwa Afkar mengalami kecelakaan, Artika segera mengajak Aydan untuk pulang ke Indonesia. Xavier dan Ryan mengantar Artika ke Indonesia menggunakan jet pribadi milik Ryan. Mereka berdua beralasan ingin menjenguk Afkar dan juga jika menggunakan jet pribadi akan cepat sampai daripada menggunakan pesawat komersil.
Artika hanya menuruti apa yang di katakan oleh Xavier dan juga Ryan, yang terpenting dirinya bisa cepat sampai ke Indonesia.
Di sepanjang perjalanan Artika hanya menangis, dirinya hanya memikirkan keselamatan Afkar, dan bagaimanakah kondisi Afkar saat ini. Xavier tidak tega melihat Artika yang terus-terusan menangis karena mengkhawatirkan Afkar.
Terbersit rasa bersalah di dalam hati Xavier, karena telah membuat Artika menangis. Raissa juga ikut ke Indonesia, Raissa tidak tahu jika Xavier dan Ryan ingin membuat kejutan untuk Artika. Raissa yang melihat Artika menangis, dirinya juga ikut menangis.
"Ryan, apakah kita keterlaluan mengerjai Artika. Aku tidak tega melihat Artika terus-terusan menangis seperti itu. Dan kamu lihat itu Raissa juga ikut-ikutan menangis"tanya Xavier pada Ryan.
Mereka berdua sedang memperhatikan Artika dan Raissa yang menangis. Awalnya Raissa, ingin menenangkan Artika yang terus-terusan menangis. Tapi lama kelamaan dirinya juga ikut menangis lantaran Artika tidak berhenti menangis.
"Aku tidak tahu, aku hanya mengikuti rencana kalian berdua" jawab Ryan dengan acuh seraya mengangkat bahunya.
"Heeiiii... di mana bocah itu, anak didikmu?" tanya Xavier pada Ryan karena tidak melihat keberadaan Aydan.
"Dia berada di kokpit, aku menyuruhnya untuk belajar menerbangkan pesawat"jawab Ryan dengan singkat.
Xavier hanya menggelengkan kepalanya mendengar jawaban dari Ryan. Xavier tak habis pikir apa yang ada di otak Ryan, Aydan bocah yang masih berumur 7 tahun, sudah di suruh untuk belajar menerbangkan pesawat.
"Aku heran padamu, kenapa kamu begitu menyukai bocah itu. Dia bukan anakmu, dia juga bukan saudaramu dan juga orang tuanya bukan sahabat atau kerabat mu?" cerca Xavier pada Ryan.
"Sudah ku katakan, aku menyukainya dia mengingatkanku, ketika aku kecil dulu" jawab Ryan dengan santai.
"Sekarang pikirkan bagaimana caranya untuk membujuk Artika supaya tidak menangis, aku pusing dan tidak tega melihat dia seperti itu" ucap Xavier meminta pendapat dari Ryan.
"Panggil Aydan, dan minta dia untuk membujuk Artika" ujar Ryan.
__ADS_1
"Kalau aku meminta Aydan untuk membujuk Artika, bukan Artika berhenti menangis yang ada bocah itu juga ikut-ikutan menangis Ryan"ucap dengan kesal Xavier pada Ryan.
Xavier menyusap wajanhya dengan kasar, dia masih memikirkan bagaimana cara membujuk Artika. Jika dirinya mengatakan yang sebenarnya, maka semua rencana kejutan tersebut akan batal. Xavier tidak ingin rencana yang telah di buatnya batal begitu saja.
"Maafkan kakak Artika, kakak janji setelah ini kamu akan bahagia. Kakak janji" gumam Xavier dalam hatinya dan memandang Artika dengan rasa iba.
Ryan telah memanggil Aydan dari ruang kokpit, Ryan mengatakan pada Aydan untuk membujuk Artika yang sedang menangis dan menyuruh Artika untuk makan. Setelah itu Aydan kembali lagi ke ruang kokpit. Ryan tahu, Aydan memang anak yang masih berusia 7 tahun, namun pola pikirnya seperti orang dewasa.
Aydan menuruti perkataan Ryan, dia pergi ke arah Artika dengan membawa kotak makanan dan juga 1 botol air mineral.
"Mami, kenapa mami menangis. Mami tidak usah mengkhawatirkan papi. Papi itu kuat, sudah sering papi masuk rumah sakit. Jadi mami tenang saja?" tanya Aydan pada Artika dengan lembut.
Artika mengahapus ai matanya dan menatap Aydan dengan tatapan lembut. Artika tidak menyangka jika Aydan sama sekali tidak menangis mendengar Afkar yang sekarang sedang berada di rumah sakit. Artika juga bingung mendengar Aydan yang mengatakan jika Afkar sudah sering masuk rumah sakit.
"Aydan, kenapa bisa papimu sering masuk rumah sakit?" tanya Artika dengan lembut pada Aydan, dan menghapus sisa air matanya. Artika tidak ingin Aydan juga ikut menangis saat melihat dirinya menangis.
Artika segera meraih kotak nasi dan juga botol mineral yang di berikan Aydan padanya. Artika memakan makanan itu, meskipun hanya sedikit. Artika memakan makanan itu karena tidak tega melihat Aydan yang sudah bersusah payah membawakan makanan untuknya.
Setelah selesai, Artika kembali menanyakan pada Aydan tentang Afkar yang sering masuk rumah sakit. Aydan pun menjelaskan pada Artika jika selama Artika pergi Afkar tidak menjaga kesehatannya dan hanya fokus kerja. Hal itulah yang membuat Afkar masuk rumah sakit.
Mendengar penjelasan Aydan, Artika tidak menyangka jika Afkar akan mengalami hal seperti itu, di sebabkan kepergian dirinya. Artika berjanji jika dirinya tidak akan meninggalkan Afkar lagi.
Sedangkan Afkar beserta keluarganya di Insonesia, mereka semua sudah pergi ke kota B, dan sekarang mereka sedang menuggu kedatangan Artika. Keluarga besar Afkar sangat senang ketika mengetahui bahwa Afakr sudah berhasil menemukan Artika. Mereka semua menjadi saksi bagaimana terpuruknya Afkar, dan juga sikap Afkar yang berubah drastis.
Afkar sudah mempersiapkan pernikahan impian Artika yaitu pernikahan mereka di adakan di tepi pantai sesuai keinginann Artika.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan, Artika dan rombongannya Akhirnya sampai di bandara kota B. Kedatangan mereka bandara sudah di tunggu oleh anak buah Ryan. Mereka semua segera menaiki mobil yang telah di persiapkan oleh anak buah Ryan.
__ADS_1
Artika menjadi bingung, kenapa mereka tidak kunjung sampai di rumah sakit tempat Afkar di rawat.
"Kak, di mana rumah sakitnya kak, kenapa kita tidak kunjung sampai ke rumah sakit?" tanya Artika dengan tidak sabaran pada Xavier.
"Sabarlah Artika, kak pusing melihatmu, kamu tahu di sepanjang perjalanan kamu hanya menangis, dan sekarang kamu ingin cepat-cepat sampai. Apa kamu tidak memikirkan keselamatan kita semua"jawab Xavier yang kesal akan tingkah Artika.
"Aku sangat mengkhawatirkan Afkar kak hikss...hikss....hikss..." ucap Artika kembali menangis lagi
"Berhentilah menangis, sebentar lagi kita sampai. Lihat matamu, apa kamu akan bertemu dengan Afkar dengan penampilanmu yang seperti itu"ledek Xavier pada Artika.
Artika langsung berhenti menangis, dan segera memperbaiki penampilannya. Artika tidak ingin jika Afkar melihat penampilannya yang kacau dan Afkar menjadi khawatir.
Mobil yang di tumpangi Artika berhenti di resort milik Ryan yang letaknya dekat dengan pantai. Artika menjadi bingung kenapa Xavier, membawanya ke sebuah resort bukannya ke rumah sakit.
"Kak, ini bukan rumah sakit kak, ini adalah resort. Aku ini ingin melihat Afkar, kenapa kak membawaku ke sini kak?" teriak Artika pada Xavier.
"Siapa bilang aku akan membawamu kerumah sakit untuk menemui Afkar" jawab Xavier dengan santai.
Artika menjadi bingung dengan ucapan Xavier. Xavier dengan segera menarik tangan Artika menuju lobi resort tersebut. Begitu Artika masuk, dia melihat Afkar yang berdiri dengan gagahnya, dan juga seluruh keluarga Afkar. Artika menjadi bingung apa sebenarnya yang terjadi.
Terima kasih telah membaca Karya saya
Mohon maaf bila terdapat banyak kesalahan
Mohon kritik dan sarannya
Jangan lupa untuk Vote,like,komen,dan share yaa
__ADS_1