
Saat ini Afkar tengah berdiri di depan Pendeta, untuk mengikrarkan janji suci pernikahan antara Afkar dan Lara.
Afkar selalu melihat kearah Artika yang duduk di kursi khusus untuk para tamu undangan, Artika duduk dengan tenang di samping Xavier seraya terus tersenyum ke arah Afkar.
Afkar tahu di balik senyum yang berikan oleh Artika untuknya, tersirat luka yang mendalam itu semua terlihat dari sorot mata Artika.
"Sayang, kamu tenang saja, aku akan mencari bukti jika aku tidak bersalah, setelah bukti itu aku dapatkan aku bersumpah, aku akan menikahimu. Aku berharap perasaanmu untukku tidak pernah berubah" ucap Afkar dalam hatinya.
Tak lama Lara datang dan di dampingi oleh Tuan Ardi, karena Ayah Lara tidak dapat hadir.
"Afkar, aku serahkan Lara padamu walaupun kamu tidak mencintainya perlakukan lah dia dengan baik sebagai istrimu kelak" ucap Tuan Ardi kepada Afkar.
"Baik" ucap Afkar dengan singkat padat dan jelas. Kemudian Afkar meraih tangan Lara dan berdiri di hadapan pendeta untuk mengikrarkan janji suci pernikahan serta pemberkatan pernikahan mereka.
Artika menyaksikan semua proses dari awal hingga akhir. Hingga tradisi pelemparan buket bunga oleh pasangan pengantin, Artika juga mengikuti tradisi itu.
Ternyata yang mendapatkan buket bunga tersebut adalah Xavier kakaknya.
"Waaah... kak kau akan segera menjadi pengantin rupanya" ucap Artika kepada Xavier.
"Siapa kira-kira yang akan menjadi pasanganku Artika. Pacar saja aku tidak punya" ucap Xavier dengan nada lemasnya.
"Heiii... kau adalah kakakku yang paling tampan, tak mungkin jika kau jomblo saat ini" ucap Artika meledek Xavier.
"Dasar kau ini, apa kau tak merasa bersedih" tanya Afkar dengan hati-hati kepada Artika.
"Kak, aku mohon jangan bahas lagi masalah ini. Aku sudah menganggap ini semua sebagai masalaluku. Aku akan mencoba lembaran baru dalam hidupku kak" ucap Artika pada Xavier.
"Artika ayo kita kembali ke kamar kita, acaranya juga sudah selesai. aku akan merias dirimu untuk nanti malam, aku akan membuat dirimu lebih cantik dari pada pengantin wanita itu" ucap Lia yang baru saja datang.
"Heiii.... memangnya kau siapa berani-beraninya mengajak adikku pergi" ucap Xavier seraya menatap tajam ke arah Lia.
"Aku ini kakaknya Artika dan kamu juga, siapa kamu berani-beraninya melarang aku untuk mengajak Artika pergi" ucap Lia setengah berteriak kepada Xavier.
"Tak mungkin Artika mempunyai kakak seperti dirimu, lihat lah Artika tinggi semampai, sedangkan dirimu satu meterpun aku rasa tidak sampai hahahaaa" ucap Afkar seraya tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
"Kak Lia, kenalkan ini kakak sepupuku Xavier, dan kak Xavier kenalkan ini kak Lia, dia sangat baik kepadaku dan aku sudah menganggap dia seperti kakakku sendiri" ucap Artika dengan tenang.
"Aku tak sudi berkenalan dengannya, Artika ayo kita kembali ke kamar kita, aku akan memilihkan gaun yang indah untukmu nanti malam" ucap Lia seraya menarik tangan Artika.
Artika dengan cepat melirik dengan tajam ke arah Xavier, agar Xavier segera meminta maaf pada Lia.
"Heeei Lia maafkan aku, aku tak bermaksud mengatai dirimu, ini terimalah bunga ini sebagai tanda permintaan maafku padamu" ucap Xavier pada Lia, seraya menyerahkan buket bunga pengantin yang sedang di pegangnya.
"Baiklah aku terima bunga ini, karena dari tadi aku sangat ingin menangkap bunga ini. Terima kasih sudah memberikan bunga ini untukku. Semoga aku akan menjadi pengantin di tahun ini" ucap Lia seraya mengambil bunga dari tangan Xavier.
"Ayo Artika, kita akan memilih gaun yang cantik untukmu. Nanti pegawaiku akan mengantarkannya ke sini" ajak Lia pada Artika.
"Heeeiii.... jangan cuma gaun untuk Artika saja, pakaian untukku juga ya karena aku kakaknya Artika" ucap Xavier pada Lia.
"Baiklah, karena kau telah memberikan bunga ini untuk ku, aku akan menyiapkan pakaian untukmu juga, kau kirim saja ukuranmu pada Artika, aku akan mencari pakaian yang cocok untukmu" ucap Lia pada Xavier.
"Baiklah, kalau bisa aku ingin pakaianku couple dengan dirimu. Aku ingin kau menjadi pasanganku malam ini. Dan untuk Artika biarkan saja dia sendirian, siapa tahu malam ini dia akan mendapatkan pengganti Afkar si brengsek itu" ucap Xavier dengan kesal mengingat Afkar.
"Baiklah kami pergi dulu, kau tenang saja aku akan menjaga Artika dengan baik" ucap Lia yang paham akan perasaan Xavier yang mengkhawatirkan Artika.
"Aku tahu kak, ya sudah kami pergi dulu" ucap Artika seraya meninggalkan Xavier. Dengan langkah cepat Artika meninggalkan tempat itu.
Acara resepsi akan di laksanakan nanti malam, tepat pukul 7 malam. Saat ini waktu menunjukkan pukul 3 sore, Artika memutuskan untuk berjalan-jalan di tepi pantai.
Pantai tempat di adakannya acara pernikahan tersebut adalah pantai tempat kencan pertama Artika dan Afkar.
Dan hari ini adalah hari ulang tahun Artika, seharusnya menjadi hari bahagia dalam hidupnya, selain bertambah usianya, hari ini merupakan hari pernikahannya dengan orang yang di cintainya.
Tapi kenyataan berbicara lain, seolah-olah ini adalah permainan takdir. Artika bertekad jika dirinya tidak akan pernah merayakan ulang tahunnya lagi.
Artika berjalan menyusuri pantai, sambil menangis untungnya pantai tersebut sepi karena keluarga Afkar telah menutup akses pantai tersebut.Hanya tamu undangan saja yang boleh masuk.
Artika duduk di atas batu karang, tempat kencan pertamanya dengan Afkar. Artika duduk di atas batu tersebut seraya menangis dan memegangi kalung pemberian Afkar hadiah saat dia wisuda kemarin.
Artika terus-terusan menangis, dia mengingat semua kenangannya saat bersama Afkar.
__ADS_1
"Mas, aku harap kamu bahagia bersama Mbak Lara. Aku selalu mendo'akan mu mas" ucap Artika dalam hatinya.
Ternyata dari kejauhan ada seorang pria yang mengawasi segala kegiatan Artika.
Saat Artika hendak turun dari batu tersebut, kaki Artika tergelincir karena batu tersebut licin, terkena ombak.
Artika jatuh ke bawah dan terseret ombak, dengan sangat jauh. Artika memang tidak bisa berenang, sehingga sangat susah untuk berenang ketepi pantai.
Pria tersebut yang melihat Artika terseret ombak dengan cepat menyelamatkan Artika. Dengan bersusah payah pria itu menyelamatkan Artika, karena ombak yang begitu besar.
Setelah berhasil membawa Artika ke tepi pantai, pria tersebut langsung melakukan pertolongan pertama pada Artika dengan menekan dada Artika, karena Artika tidak sadarkan diri dan terlalu banyak menelan air laut.
Setelah beberapa saat, akhirnya usaha pria itu membuahkan hasil Artika sadar dan memuntahkan air.
"Syukurlah kau masih selamat" ucap pria tersebut.
"Terima kasih telah menolongku" ucap Artika seraya tersenyum manis, walaupun dengan wajah yang pucat tapi kecantikkan Artika tetap terlihat.
Degh...degh...degh...
Jantung pria itu berdetak dengan sangat kencang, melihat senyuman Artika yang begitu manis.
"Kenapa dengan jantungku, hanya karena melihat gadis ini tersenyum saja hingga berdetak dengan sangat cepat. Apakah aku mengalami sakit jantung" ucap pria itu dalam hatinya.
"Sama-sama, apakah kamu baik-baik saja sekarang. Apakah ada yang luka?" ucap Pria itu dengan nada khawatir.
"Aku baik-baik saja. Sekali lagi terima kasih telah menolongku" ucap Artika dengan tulus.
Terima kasih telah membaca karya saya
Mohon maaf bila terdapat banyak kesalahan
Mohon kritik dan sarannya
Jangan lupa Vote, like, komen dan share yaa
__ADS_1