
Setelah keluar dari gerbang sekolah tempat Artika mengajar, perasaan Artika menjadi tidak tenang.
Mendapat pertanyaan dari Rudi yang menanyakan tentang neneknya. Artika langsung mengingat Almarhum neneknya.
Artika mengingat bagaimana neneknya sangat menyayangi dirinya. Tapi sekarang sang nenek sudah pergi untuk selamanya.
Artika hanya tinggal seorang diri di kota ini, tanpa sanak saudara. Ayahnya pun tak pernah mencari keberadaan dirinya.
Apakah ayahnya telah lupa pada dirinya, apakah sang Ayah tak menyayangi dirinya lagi. Artika selalu mengingat bagaimana perlakuan Ibu tiri dan saudari tirinya.
Artika sudah di usir dari rumahnya oleh Ayah kandungnya sendiri. Bahkan Ayah kandungnya tak peduli lagi kepadanya.
Ayah kandung Artika pun sudah memutuskan untuk tidak menganggap Artika sebagai anak kandungnya lagi, dan memutuskan pertalian antara anak dan ayah.
Itulah kata-kata yang selalu berputar-putar dalam ingatan Artika.
Mengingat itu semua membuat Artika menjadi sedih, air matanya tak berhenti mengalir di pipinya.
Di sepanjang perjalanan Artika terus-terusan menangis hingga dia sampai ke area kampusnya.
Setelah mengantar Aydan pulang, Afkar dan Rudi langsung mampir ke Restoran langganan mereka untuk makan siang.
"Bagaimana Tante Anita bisa mengenal Artika Kar?" tanya Rudi pada Afkar setelah mereka selesai makan.
Afkar menceritakan semuanya pada Rudi tanpa ada yang di tutupi, dari mula awalnya Aydan duluan yang mengenal Artika.
Bundanya yang selalu makan siang di Warteg milik Artika, Afkar pun tak lupa menceritakan kepada Rudi, mengenai Bundanya yang menyuruh orang kepercayaan keluarganya untuk mencari informasi mengenai latar belakang Artika.
Rudi yang mendengar itu semua menjadi terkejut, kenapa sampai Bunda Afkar menyelidiki latar belakang Artika.
"Bunda gue hanya takut, kalau Artika punya tujuan lain. Tapi ternyata pikiran kita salah. Artika benar-benar tulus pada Aydan" jelas Afkar pada Rudi.
"Iya gue paham, kenapa Tante Anita begitu, Tante Anita kan begitu sayang pda Aydan" ucap Rudi yang paham akan keadaan Tante Anita yang amat menyayangi Aydan cucunya.
__ADS_1
"Tapi gue masih heran kenapa loe masih saja nutupin jati loe sampai sekarang. Asal loe tahu gue selalu kena imbasnya, selalu gantiin loe saat meeting dan bertemu dengan para klien loe"kesal Rudi pada Afkar.
Afkar hanya terkekeh mendengar ucapan Rudi "Loe tahukan apa alasan gue nutupin diri" ucap Afkar.
Rudi yang mendengar ucapan Afkar hanya memutar bola matanya. Rudi sudah berulang kali membujuk Afkar agar mau tampil di depan publik.
Tapi Afkar selalu saja menolak, sehingga Rudi lah yang selalu tampil di depan publik menggantikan Afkar. Dan Rudi jugalah yang selalu melakukan meeting dengan para klien.
Tapi berbeda kalau di luar negeri, Afkar selalu saja bertemu langsung dengan para kliennya. Berbeda dengan di tanah air, Afkar tak pernah sekalipun menampakkan dirinya di depan publik.
Afkar tahu jika dia menampakkan diri di depan publik pasti akan banyak para rekan bisnisnya yang akan menjodohkan dirinya dengan anak mereka.
Hal itu sudah sering terjadi di dunia bisnis, saat ayah Afkar memperkenalkan Azreel kakaknya di hadapan publik banyak para pebisnis yang akan menjodohkan anak mereka dengan Azreel kakaknya Afkar.
Afkar tak mau mengalami hal seperti itu, karena Afkar mau menikah dengan orang yang dia cintai dan menerima dirinya dengan apa adanya.
Sementara Artika sudah selesai dengan revisi skripsinya, hanya perlu di revisi sedikit lagi agar mendapatkan hasil yang memuaskan.
Artika tahu bahwa tak lama lagi Angga akan mengikuti Ujian Nasional, Artika ingin Angga belajar untuk menghadapi ujian sekolahnya nanti.
Artika sibuk memilih-milih buku untuk Angga dan Novel untuk dirinya. Artika memang gemar membaca novel, sudah banyak novel yang ia baca.
Artika juga mengoleksi berbagai novel, dengan membaca Artika bisa melupakan sejenak kenangan tentang almarhum neneknya.
Karena Artika tinggal seorang diri di rumah peninggalan almarhum neneknya, sehingga begitu banyak kenanagannya. Kalau sudah ia pulang ke rumah dan tidak memiliki kegiatan maka Artika akan membaca novel.
Artika tidak suka berjalan-jalan keluar rumah, ia lebih senang menghabiskan waktunya di Warteg untuk memasak berbagai menu masakan saat ia tidak ada kegiatan.
Tak terasa waktu sudah sore, Artika pun segera membayar buku dan novel yang akan dibelinya. Artika pun bergegas untuk pulang karena takut terjebak macet di sore hari.
Artika melajukan motor bebeknya dengan kecepatan sedang, walaupun dia sedang buru-buru, tapi dia juga mementingkan keselamatannya.
Tiba-tiba di tengah jalan motor Artika mendadak mati, dengan terpaksa Artika mendorong motornya untuk mencari bengkel terdekat.
__ADS_1
Setelah sampai di bengkel dengan terpaksa Artika meninggalkan motornya, karena bengkel tersebut akan tutup.
Artika berjalan kaki menuju ke arah halte untuk menunggu angkutan umum.
Sudah sekitar 30 menit Artika menunggu tapi tidak ada 1 pun angkutan umum yang lewat. Artika akan memesan taxi atau ojek online tapi sayang HP Artika kehabisan baterai.
Tak lama berhenti sebuah mobil Lamborghini di depan Artika, sang pemilik mobil pun langsung turun dari mobilnya.
"Artika, kamu ngapain di halte sendirian, ini sudah sore lho" tanya Afkar, iya pemilik mobil tersebut adalah Afkar.
"Saya lagi nungguin angkutan umum, motor saya mogok tadi di tengah jalan" jelas Artika.
"Kamu sudah lama nunggu di halte ini, kenapa tidak pakai taxi atau ojek online saja" tanya Afkar.
"Sudah lumayan lama saya di sini, saya memang ingin memesan taxi atau ojek online. Tapi baterai Hp saya habis" ucap Artika seraya memperlihatkan Hpnya pada Afkar.
"Kalau begitu ya sudah, ayo saya antar saja. Di mana rumah kamu"tawar Afkar pada Artika.
"Tidak usah, saya akan menunggu angkutan umum saja di sini, mungkin sebentar lagi angkutannya akan datang" ucap Artika menolak tawaran Afkar.
"Artika, sudah sore begini tidak akan ada angkutan umum lagi. Di daerah ini juga jarang ada taxi yang lewat, saya sangat hafal daerah sini, dan daerah sini juga sangat rawan akan tindakan kejahatan karena di sini sepi." jelas Afkar pada Artika.
Artika yang mendengar penjelasan Afkar menjadi takut, tapi kalau menerima tawaran Afkar dia takut akan merepotkan Afakr.
"Apakah tidak merepotkan kamu, kalau kamu mengantar saya pulang Afkar. Rumah saya masih jauh dari sini" jelas Artika pada Afkar.
"Sama sekali tidak merepotkan Artika, Iya sudah ayo masuk" ucap Afkar mengajar Artika masuk ke dalam mobilnya.
Terima kasih sudah mampir membaca karya saya.
Mohon kritik dan sarannya
Jangan lupa vote,like,komen dan share.
__ADS_1