
Acara resepsi pernikahan Afkar dan Lara sudah selesai, semua tamu sudah pulang, begitu juga dengan keluarga Afkar, mereka semua juga sudah masuk ke dalam kamar maaing-masing untuk beristirahat.
Afkar dan Lara pun masuk kedalam kamar pengantin mereka, yang seharusnya menjadi kamar pengantin antara Afkar dan Artika.
Setelah memasuki kamar pengantin, Afkar langsung masuk ke dalam kamar mandi dan tak lupa membawa baju ganti miliknya, tanpa menghiraukan Lara yang berada di dalam kamar yang sama dengannya.
Sekitar 30 menit Afkar keluar dari kamar mandi dan sudah berganti pakaian, Afkar langsung mengambil batal dan selimut. Afkar memutuskan untuk tidur di sofa.
Lara yang melihat sikap Afkar yang tidak menghiraukan dirinya sama sekali menjadi geram, tapi Lara tidak ingin membuat Afkar curiga kepada dirinya.
"Afkar, bisakah kamu menolongku untuk membuka gaun ini. Tanganku tidak sampai untuk menggapai resleting gaun ini" ucap Lara pada Afkar.
Awalnya gaun pengantin tersebut milik Artika, Afkar sengaja meminta Lia untuk membuatkan gaun pengantin yang susah di buka, agar Artika meminta Afkar untuk membukanya.
Namun rencana Afkar hanya sia-sia, harapannya tak sesuai dengan kenyataan.
"Jika kamu tidak bisa membuka gaun itu, maka kamu gunting saja gaun itu" ucap Akar dengan ketus.
"Tapi Afkar, jika aku menggunting gaun ini, gaun ini akan rusak" ucap Lara dengan tenang, menahan kekesalannya pada Afkar.
"Tidak masalah jika gaun itu rusak, gaun itu juga tidak berarti untukku" ucap Afkar dengan santai.
"Afkar, aku tahu jika kamu terpaksa menikahi aku, tapi kamu harus bertanggung jawab atas perbuatanmu" ucap Lara mengingatkan Afkar.
"Lara, aku bukan orang bodoh, aku tahu ini semua telah kamu rencanakan dari awal dengan sangat rapi" ucap Afkar dengan sinis pada Lara.
Mendengar ucapan Afkar, wajah Lara menjadi pucat seketika, Lara berpikir apakah Afkar telah menemukan bukti tentang apa yang telah di lakukan olehnya.
"Maksud kamu apa Afkar, kamu telah menuduhku menjebak dirimu, begitu" ucap Lara menaikkan satu oktaf nada suaranya.
"Lara, aku memperlakukanmu dengan baik selama ini, aku selalu menjaga dan melindungi mu dan aku juga percaya padamu, tapi apa yang aku dapat, kau menusukku dari belakang, kau menghancurkan kebahagiaanmu, kau memisahkanku dari wanita yang aku cintai" ucap Afkar dengan menaikkan volume suaranya.
__ADS_1
"Afkar, bukan aku yang memisahkanmu dari Artika dan aku juga tidak menghancurkan kebahagiaanmu. Tapi kamu sendirilah yang melakukannya" teriak Lara pada Afkar.
"Lara, aku bukan orang yang bodoh, aku akan membuktikan jika aku tidak bersalah. Hari ini aku menikahimu hanya karena tidak ingin mempermalukan keluargaku" ucap Afkar pada Lara.
"Sekarang aku sudah menikahimu untuk bertanggung jawab, dan aku juga akan segera menceraikanmu karena tanggung jawabku sudah selesai" sambung Afkar lagi.
Afkar mengambil Ponsel dan dompet miliknya, Afkar keluar dari kamar seraya membanting pintu saat dia menutup pintu kamar tersebut.
"Afkar, aku tidak akan membiarkan dirimu menceraikan aku, dan aku akan membuat Artika pergi dari kehidupanmu untuk selamanya" ucap Lara bermonolog seorang diri.
"Dan kamu juga tidak akan bisa menemukan bukti apapun tentangku. Hahaha...." ucap Lara seraya tertawa sendiri di dalam kamar tersebut.
Lara mulai menyusun segala rencana untuk menyingkirkan Artika, Lara tahu jika Artika adalah wanita yang baik dan polos, maka akan dengan mudah membuat Artika pergi meninggalkan Afkar.
Jika dengan cara yang halus tidak bisa menyingkirkan Artika, maka Lara akan membuat Artika meninggalkan Afkar untuk selamanya.
Afkar memutuskan untuk tidur di kamar yang sebelumnya dia tempati, sesampainya di kamar tersebut, Afkar langsung menghubungi Robert, untuk mengerahkan anak buahnya yang lain untuk mencari bukti kejahatan Lara, baik saat berada di Amerika, dan saat kejadian semalam.
Afkar sangat ingin menemui Artika dan menjelaskan semua kronologis peristiwa yang terjadi antara dirinya dan Lara. Namun Afkar mengurungkan niatnya untuk menemui Artika, mengingat waktu yang sudah tengah malam.
Pagi-pagi sekali Artika sudah bersiap-siap untuk pulang kerumahnya, Artika tidak ingin bertemu dengan Afkar lagi. Artika takut dia tidak bisa menahan perasaannya.
Artika pulang bersama Lia, Kakek Bayu dan Xavier mereka akan pulang dengan Ryan menggunakan helikopter milik Ryan yang akan mendarat di atap hotel tersebut.
Sementara 4 orang pekerja Artika, memutuskan untuk langsung pulang setelah selesai acara pemberkatan pernikahan Afkar dan Lara.
Mereka tidak ingin menghadiri pesta resepsi, dengan alasan bahwa bukan Artika yang menjadi pengantinnya.
Saat ini Artika dan Lia sedang dalam perjalanan pulang, Lia mengajak Artika untuk tinggal di apartemen miliknya.
"Artika, jadi sekarang apa rencanamu. Apakah kamu akan pergi ke Amerika, mengikuti Xavier dan Kakek Bayu" tanya Lia pada Artika.
__ADS_1
"Iya kak, aku akan mengikuti Kakek Bayu dan Kak Xavier, aku di sini tidak punya siapa-siapa lagi kak. Mungkin Minggu depan aku akan ke Amerika" jawab Artika pada Lia.
"Aku sangat mendukung keputusanmu Artika, aku harap kamu bahagia di sana" ucap Lia dengan tulus.
"Aku tidak ingin bertemu Mas Afkar lagi kak, aku sadar dia sudah menjadi suami dari wanita lain, aku tahu dia masih mencintaiku dan aku pun begitu, aku tidak ingin merusak rumah tangga orang kak" ucap Artika dengan wajah sendunya.
"Aku mengerti Artika, untuk sementara waktu kamu tinggallah di apartemenku dulu, aku ingin menghabiskan waktu bersamamu sebelum kamu pergi jauh" pinta Lia pada Artika.
"Baiklah kak, tapi nanti sore kakak harus mengantarku kerumah, aku ingin mangambil pakaian dan beberapa dokumen penting kak" ucap Artika.
"Baiklah, sekarang kita langsung ke butikku saja, di sana banyak pegawaiku, kita akan bersenang-senang dengan mereka" ucap Lia dengan penuh semangat.
Artika hanya mengikuti kemana Lia akan membawa dirinya saja. Lia tahu jika Artika masih bersedih, hanya saja Artika terlalu pandai menutupinya.
*Di Hotel
Setelah Afkar terbangun dari tidurnya, dia segera membersihkan tubuhnya. Dengan langkah yang tergesa-gesa Afkar menuju ke arah kamar Artika,
Afkar terus saja mengetuk pintu kamar Artika, tapi tidak kunjung pintu itu terbuka, kemudian Afkar menanyakan pada resepsionist hotelnya tentang kamar yang di tempati Artika.
Ternyata Artika telah mengembalikan kartu kamar tersebut, dan Artika juga sudah pergi meninggalkan hotel di saat pagi-pagi sekali.
Afkar menelepon orang-orang kepercayaannya untuk melacak keberadaan Artika. Akhirnya Afkar bisa bernafas dengan lega setelah mengetahui bahwa Artika sekarang sedang berada di butik milik Lia.
Afkar mendapat telepon dari Nyonya Anita, untuk mengajak dirinya dan Lara sarapan bersama, kini mereka sedang menunggu di restoran hotel tersebut.
Keluarga Afkar dan Lara tidak tahu jika mereka berdua tidur di kamar terpisah.
Terima kasih telah membaca karya saya
Mohon maaf bila terdapat banyak kesalahan
__ADS_1
Mohon kritik dan sarannya
Jangan lupa Vote,like,komen dan share yaa